Ekspor Jawa Tengah tumbuh 19,5 persen pada Januari-April 2026, tetapi kenaikan itu datang ketika standar emisi di pasar global semakin ketat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong industri bertransformasi agar pertumbuhan perdagangan tidak terganggu oleh perubahan tuntutan pembeli luar negeri.
Nilai ekspor daerah mencapai USD 4,57 miliar dalam empat bulan pertama 2026. Industri pengolahan menjadi pendorong utama capaian tersebut dan memegang peran besar dalam perekonomian Jawa Tengah.
CEO Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, menyatakan manufaktur menjadi penopang perdagangan luar negeri Jawa Tengah, bukan komoditas mentah. Industri pengolahan juga menyumbang sekitar sepertiga produk domestik regional bruto serta menyerap tenaga kerja paling banyak.
| Data Perdagangan Jawa Tengah | Angka | Catatan |
|---|---|---|
| Nilai ekspor | USD 4,57 miliar | Januari-April 2026 |
| Pertumbuhan | 19,5% | Dibandingkan Januari-April 2025 |
| Pasar utama | 5 negara | AS, Jepang, Tiongkok, Belanda, Korea Selatan |
Insentif untuk Mempercepat Peralihan
Untuk menopang kesiapan industri, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan insentif pajak bagi kawasan industri dan perusahaan yang menerapkan prinsip ramah lingkungan. Fasilitas itu ditujukan bagi pelaku usaha yang mengadopsi industri hijau dan energi baru terbarukan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan kebijakan tersebut pada Jateng Green Industrial Summit 2026 di Grand Candi Hotel, Kota Semarang, Kamis (23/7/2026). Ia menyebut insentif sebagai dukungan pemerintah kepada perusahaan yang menjalankan transformasi produksi.
“Kami berikan insentif pajak untuk kawasan industri dan perusahaan, yang menerapkan industri hijau dan energi baru terbarukan,” kata Luthfi. Pemerintah daerah berharap kebijakan ini membantu perusahaan mempercepat langkah menuju proses yang lebih efisien dalam penggunaan energi.
Transformasi tersebut menjadi penting karena negara tujuan ekspor mulai menerapkan persyaratan emisi karbon yang lebih ketat dalam rantai pasok. Bagi pelaku manufaktur, produksi rendah emisi kini berkaitan langsung dengan kemampuan mempertahankan pasar.
Agenda Daerah hingga Pelaku Usaha Kecil
Pengembangan industri hijau Jawa Tengah telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2025-2029. Pemprov juga memiliki Pergub Jawa Tengah Nomor 26 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Fasilitasi Industri Hijau sebagai penguat arah kebijakan.
Luthfi menilai industri hijau tidak dapat lagi diperlakukan sebagai rencana jangka panjang semata. Ia mendorong penerapannya dari hulu sampai hilir, termasuk bagi industri kecil, menengah, dan besar.
Dalam pertemuan di Solo, perwakilan 41 negara Uni Eropa disebut menyampaikan kebutuhan akan keberlanjutan lingkungan, industri hijau, dan energi baru terbarukan. Pemerintah Jawa Tengah memandang sinyal tersebut sebagai alasan untuk memperkuat kesiapan industri lokal.
Forum Kolaborasi dan Penghargaan
Jateng Green Industrial Summit mempertemukan pemerintah, perusahaan, pengelola kawasan industri, perguruan tinggi, lembaga pembiayaan, serta pemangku kepentingan lain. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah menggelar forum itu bersama Institute for Essential Services Reform.
Keduanya telah bekerja sama selama tiga tahun untuk menyusun indeks siap hijau, mendampingi pemerintah kabupaten dan kota, serta membentuk pusat penilaian industri. Perguruan tinggi juga dilibatkan dalam pendampingan industri kecil dan menengah.
Penghargaan diberikan kepada sekolah aktif dalam Program Rengganis Mengajar, industri kecil, industri menengah dan besar, kawasan industri, serta pemerintah daerah yang berkomitmen pada pengembangan industri hijau. Langkah itu melengkapi insentif pajak industri yang disiapkan untuk membangun ekosistem manufaktur rendah emisi di Jawa Tengah.






