Ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada September melonjak menjadi sekitar 83%, dari 68% sehari sebelumnya. Perubahan perhitungan pasar itu ikut menyeret emas spot turun 2% ke US$ 4.047,26 per ons.
Emas menjadi rentan ketika investor memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Aset ini tidak menawarkan pendapatan rutin, sehingga daya tariknya berkurang saat imbal hasil obligasi meningkat.
Pasar Menanti Sikap Bank Sentral
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rapat kebijakan moneter The Fed pada pekan depan. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai arah suku bunga akan menjadi salah satu penentu sentimen di pasar logam mulia.
Data CME FedWatch Tool yang dikutip Beritasatu.com menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September berada di kisaran 83%. Kenaikan probabilitas itu menegaskan perubahan cepat dalam pandangan pasar terhadap kebijakan moneter AS.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Situasi tersebut memberi tekanan tambahan pada emas dan perak yang tidak memberikan imbal hasil kepada pemegangnya.
Dolar AS juga menguat 0,3%, membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kombinasi dolar kuat dan imbal hasil tinggi mempercepat koreksi Harga Emas Dunia dari puncak dua pekan.
| Komoditas | Perubahan | Harga |
|---|---|---|
| Emas spot | Turun 2% | US$ 4.047,26 per ons |
| Emas berjangka AS Agustus | Turun 2,5% | US$ 4.050 per ons |
| Perak spot | Turun 3,6% | US$ 57,53 per ons |
| Platinum | Turun 3,1% | US$ 1.593,22 per ons |
| Paladium | Turun 2,3% | US$ 1.261 per ons |
Koreksi Menjangkau Seluruh Logam
Kontrak berjangka emas AS pengiriman Agustus turun 2,5% menjadi US$ 4.050 per ons. Perak spot mencatat penurunan paling besar di antara data yang tersedia, yakni 3,6% ke US$ 57,53 per ons.
Platinum melemah 3,1% menjadi US$ 1.593,22 per ons, sementara paladium turun 2,3% ke US$ 1.261 per ons. Pelemahan yang meluas menunjukkan tekanan pasar tidak terbatas pada satu jenis logam mulia.
Minyak Menjadi Pemicu Baru
Lonjakan harga Brent menjadi latar utama perubahan ekspektasi suku bunga tersebut. Minyak Brent sempat menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei 2026.
Kenaikan harga terjadi setelah kelompok Houthi di Yaman mengaku menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Insiden itu memunculkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global yang meluas dari Selat Hormuz.
Analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff menilai kenaikan Harga Minyak mendorong imbal hasil obligasi naik. Pasar melihat inflasi yang lebih tinggi dapat membuat bank sentral menghadapi kesulitan lebih besar untuk memangkas suku bunga.
Emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 Juli 2026 sebelum tekanan tersebut mengubah sentimen. Pergerakan berikutnya akan tetap bergantung pada perkembangan minyak, inflasi, dolar AS, imbal hasil obligasi, serta keputusan The Fed.






