Ekspektasi Kenaikan The Fed Turun ke 33 Persen, Emas dan Perak Kompak Menguat

Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi 33 persen dari 47 persen pada bulan sebelumnya. Perubahan perhitungan pasar itu terjadi bersamaan dengan penguatan harga emas spot ke US$ 4.403,51 per ons troi.

Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar semakin berhati-hati dalam memperkirakan pengetatan moneter AS. Bagi emas, menyusutnya peluang suku bunga lebih tinggi dapat mengurangi beban biaya peluang karena aset ini tidak memberi bunga.

Data Ekonomi AS Menjadi Pemicu

Penilaian pasar melunak setelah nonfarm payrolls Juli dilaporkan menurun secara tidak terduga. Rilis inflasi konsumen pada pekan sebelumnya juga memperlihatkan tekanan yang relatif terkendali.

Dua perkembangan tersebut membuat pelaku pasar kembali menimbang arah kebijakan bank sentral AS. Pergerakan emas selanjutnya akan sangat terkait dengan perubahan ekspektasi terhadap imbal hasil instrumen berdenominasi dolar.

Emas spot memulai perdagangan Asia dengan kenaikan 0,54 persen menjadi US$ 4.403,51 per ons troi. Kontrak emas berjangka AS pengiriman Desember juga naik 0,5 persen menjadi US$ 4.459,61 per ons troi, menurut Investor Daily.

Dolar Menurun, Logam Mulia Menguat

Indeks Dolar AS melemah 0,1 persen pada perdagangan tersebut. Pelemahan itu membuat emas lebih terjangkau bagi pemegang mata uang selain dolar dan membantu menopang permintaan pasar.

Kenaikan harga juga meluas ke perak, platinum, dan palladium. Perak mencatat peningkatan persentase terbesar dalam kelompok ini, menandakan sentimen positif mencakup pasar logam mulia secara lebih luas.

Logam MuliaPerubahan HargaHarga per Ons Troi
Emas spotNaik 0,54%US$ 4.403,51
Emas berjangka AS DesemberNaik 0,5%US$ 4.459,61
Perak spotNaik 1,64%US$ 65,78
PlatinumNaik 1,76%US$ 1.749,15
PalladiumNaik 0,75%US$ 1.318

Risalah Rapat Menentukan Nada Berikutnya

Pasar menunggu risalah rapat The Fed yang dijadwalkan terbit pada Rabu mendatang. Dokumen tersebut akan digunakan investor untuk membaca pandangan bank sentral mengenai kebijakan moneter pada beberapa bulan berikutnya.

Nada yang lebih dovish berpotensi mendukung harga emas melalui penurunan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar. Nada hawkish, sebaliknya, dapat memicu tekanan pada harga logam mulia.

Faktor geopolitik turut menjadi perhatian di tengah pertemuan utusan Presiden AS Donald Trump dengan mediator Mesir, Qatar, dan Turki di Kairo. Pertemuan itu bertujuan mengupayakan rencana perdamaian Gaza.

Permintaan India dan China Belum Mengikuti

Penguatan di pasar global belum tercermin secara merata dalam permintaan fisik Asia. Diskon harga emas di India meluas ke level tertinggi dalam dua bulan karena konsumsi domestik sedang lesu.

Aktivitas pembelian emas di China juga masih terbatas. Dengan kondisi tersebut, pembacaan terhadap suku bunga The Fed, pergerakan dolar, imbal hasil obligasi, serta permintaan fisik Asia akan tetap menentukan kekuatan reli emas.

Baca Juga