Saat Kursi Mengambil Terlalu Banyak Waktu, Energi hingga Kesehatan Mental Terdampak

Waktu duduk yang terlalu dominan dalam keseharian dapat berdampak lebih luas daripada sekadar rasa pegal dan lelah. Tubuh yang jarang bergerak berpotensi kehilangan dukungan penting bagi energi, fokus, suasana hati, serta fungsi otak.

Dampak awalnya dapat muncul sebagai rasa lesu, kurang bersemangat, dan sulit berkonsentrasi. Pola yang berlangsung lama kemudian dikaitkan dengan risiko penurunan fungsi kognitif, demensia, depresi, dan kecemasan.

Aktivitas Fisik Bukan Hanya untuk Kebugaran

Bergerak secara rutin dikenal bermanfaat bagi otot, jantung, dan tingkat energi. Manfaatnya juga menjangkau otak karena aktivitas tubuh mendukung sirkulasi darah.

Manisha Parulekar, MD, dari Center for Memory Loss and Brain Health di Hackensack University Medical Center, menjelaskan bahwa terlalu banyak duduk dapat mengurangi aliran darah ke otak. Aliran darah yang optimal dibutuhkan untuk mengantarkan oksigen dan nutrisi penting bagi fungsi otak.

Ketika aktivitas fisik sangat minim, produksi zat kimia otak yang berkaitan dengan suasana hati juga dapat terpengaruh. Serotonin dan dopamin termasuk zat yang disebut berperan dalam pengaturan emosi dan dorongan energi.

Dampak Berbeda dalam Jangka Pendek dan Panjang

SituasiDampak yang Dapat DirasakanPenjelasan yang Berkaitan
Seharian minim gerakLesu, sulit memusatkan perhatian, kurang termotivasi, emosi berubahTidak ada dorongan dopamin dan endorfin seperti setelah bergerak
Menjadi kebiasaan harianRisiko gangguan kognitif, demensia, depresi, dan kecemasan meningkatBerkaitan dengan metabolisme dan proses peradangan

Satu hari bersantai tanpa banyak kegiatan fisik tidak selalu merugikan dan bahkan bisa terasa memulihkan. Akan tetapi, Parulekar mengingatkan bahwa banyak orang justru merasa kekurangan energi setelah tubuh terlalu lama tidak aktif.

“Terkadang satu hari bersantai itu terasa menyegarkan, tetapi dalam banyak kasus, hal itu membuat orang merasa lesu dan kekurangan energi,” kata Parulekar. Kondisi ini dapat mengurangi keinginan untuk memulai tugas dan mempertahankan fokus.

Penjelasan dari Metabolisme Otak

Ahli neurologi David Perlmutter, MD, menyebut semakin banyak penelitian mendukung hubungan antara kurang aktivitas fisik dan kesehatan otak. Menurutnya, kaitan tersebut melibatkan sejumlah jalur metabolik dan inflamasi.

Perlmutter menaruh perhatian pada mikroglia, yakni sel kekebalan yang berada di dalam otak. Sel ini terus memantau lingkungannya dan merespons berbagai ancaman yang muncul.

Fungsi mikroglia berkaitan erat dengan kondisi metabolisme serta kerja mitokondria. Lingkungan metabolik yang sehat membantu sel tersebut menjalankan perlindungan secara tepat, sedangkan disfungsi metabolisme kronis dapat berkontribusi pada peradangan yang lebih berat.

Gerak sebagai Pendukung Emosi yang Lebih Stabil

Kebiasaan kurang bergerak dalam waktu panjang juga dikaitkan dengan kemungkinan lebih besar mengalami depresi dan kecemasan. Health.detik.com mengutip penelitian tahun 2022 dalam British Journal of Sports Medicine yang menemukan bahwa lebih banyak bergerak mendukung kesehatan mental dengan mengurangi gejala kedua kondisi tersebut.

Olahraga tidak dapat menggantikan bantuan dari profesional kesehatan mental. Namun, menyediakan waktu agar tubuh tetap aktif secara rutin dapat menjadi langkah pendukung untuk suasana hati tanpa harus menjadikan olahraga berat sebagai satu-satunya pilihan.

Perubahan dapat dimulai dengan memastikan waktu duduk dan bersantai tidak mengambil hampir semua waktu di luar jam tidur. Dengan demikian, tubuh masih memperoleh kesempatan untuk bergerak dan mendapatkan manfaat aktivitas fisik secara teratur.

Baca Juga