Kegagalan perundingan AS dan Iran berujung pada peningkatan ketegangan di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan dan pasokan energi global. Dampaknya terlihat pada volume kapal yang melintas, yang hingga 12 Agustus tinggal sekitar seperlima dari tingkat sebelum perang.
Di tengah situasi itu, Donald Trump menyatakan rencana untuk mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Iran menolak keras klaim tersebut dan membantah bahwa Washington menguasai penuh jalur pelayaran itu.
Dari gencatan senjata menuju eskalasi
Washington dan Teheran sebelumnya sempat menyepakati gencatan senjata yang difasilitasi Pakistan pada April. Kedua pihak kembali membuka jalur diplomasi melalui kesepakatan pada 17 Juni untuk memulai negosiasi perjanjian akhir.
Negosiasi itu tidak berlanjut karena kedua negara berbeda pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Kebuntuan tersebut kemudian diikuti serangan militer timbal balik pada 8 hingga 24 Juli.
Washington menyerang sejumlah target di dalam wilayah Iran. Teheran membalas dengan menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab.
Yordania, Bahrain, dan Kuwait disebut sebagai lokasi serangan balasan Iran. Rangkaian peristiwa itu memperdalam perselisihan mengenai kendali dan akses pelayaran di Selat Hormuz.
| Periode | Perkembangan Utama | Pihak |
|---|---|---|
| April | Gencatan senjata difasilitasi Pakistan | AS dan Iran |
| 17 Juni | Kesepakatan memulai negosiasi | AS dan Iran |
| 8-24 Juli | Serangan militer timbal balik | AS dan Iran |
Data menunjukkan gangguan pelayaran
Firma analitik komoditas dan pelayaran Kpler mencatat 3.371 kapal melewati Selat Hormuz selama 166 hari sejak perang pecah. Data yang dikutip CNN itu dihitung hingga 12 Agustus.
Jumlah tersebut setara sekitar 20 persen dari volume pelayaran sebelum perang. Penurunan itu menegaskan gangguan besar terhadap mobilitas maritim di rute yang strategis bagi perdagangan internasional dan pasokan energi.
| Indikator | Catatan | Nilai |
|---|---|---|
| Kapal melintas | Hingga 12 Agustus | 3.371 kapal |
| Rentang pencatatan | Sejak perang pecah | 166 hari |
| Volume dibanding sebelum perang | Lalu lintas pelayaran | Sekitar 20 persen |
Pernyataan Trump dan bantahan Iran
Trump menyampaikan pernyataan itu saat meresmikan Akademi Kepolisian Nassau County yang baru di Garden City, New York, pada Jumat, 14 Agustus 2026. Ia mengatakan Iran berada dalam posisi terdesak dalam perang yang masih berlangsung.
“Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan sangat parah, tak lama lagi saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS,” kata Trump. Ia juga menyatakan blokade AS di jalur tersebut diterapkan secara ketat.
“Tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali jika kita mengizinkannya,” ujar Trump. Komando pusat militer Iran sehari sebelumnya menyebut klaim penguasaan AS atas Selat Hormuz sebagai kebohongan dan rekayasa tanpa dasar.
Perselisihan itu berlangsung ketika aktivitas kapal belum kembali ke tingkat sebelum perang. Tanpa kesepakatan diplomatik mengenai keamanan dan kebebasan navigasi, tekanan terhadap Selat Hormuz tetap menjadi bagian utama konflik AS-Iran.






