Dari Merakit Pemancar ke Depan Kamera, Jalan Panjang Penyiar Bertahan di Era Digital

Perjalanan Muhammad Syarif Thayib di dunia radio dimulai bukan dari mikrofon, melainkan dari ketertarikannya pada teknik elektro. Saat masih di Madrasah Aliyah, ia belajar merakit pemancar radio FM sederhana secara mandiri.

Perangkat itu digunakan untuk menyiarkan musik dari kaset, tetapi pengalaman tersebut membuatnya memahami kebutuhan lain dalam radio. Siaran membutuhkan penyiar yang dapat berbicara dan membangun hubungan dengan pendengar.

Teknisi yang Mendapat Kesempatan Siaran

Bekal berbicara Muhammad Syarif Thayib datang dari latihan pidato atau khitobah di pesantren. Kemampuan itu kemudian bertemu dengan minat teknisnya ketika ia kuliah di Malang dan bergabung dengan radio kampus.

Pada masa awal, ia lebih sering bekerja sebagai teknisi. Ia memperbaiki perangkat dan merakit antena sebelum akhirnya diminta mengisi siaran saat tidak ada penyiar yang bertugas.

Kesempatan tersebut berkembang setelah ia mewawancarai tamu dari Timur Tengah menggunakan bahasa Arab. Pengalaman itu membuatnya dipercaya menjadi penyiar di radio kampus dan memperkuat pilihannya menekuni bidang penyiaran.

Setelah lulus kuliah, ia sempat mengajar di sekolah. Ia kemudian bergabung dengan Mayangkara Group pada 2003, meski keputusan itu sempat mendapat penolakan dari keluarga.

Pada saat itu, profesi penyiar belum selalu dipandang sebagai pekerjaan yang menjanjikan. Muhammad Syarif Thayib tetap memilih jalur tersebut karena menilai penyiar memiliki peran edukatif bagi masyarakat.

Penyiar Bukan Sekadar Pembawa Acara

Menurutnya, penyiar dapat menjadi perantara informasi, wawasan, dan nilai positif bagi pendengar. Peran itu membuat penguasaan materi menjadi kebutuhan mendasar sebelum seseorang tampil di udara.

Blitarkawentar Jawapos melaporkan bahwa penyiar yang memahami topik lebih siap berbicara dan merespons pendengar. Penguasaan materi juga membantu menjaga alur acara agar tetap terarah.

Persiapan yang baik dapat mengurangi rasa gugup, terutama bagi penyiar pemula. Kepercayaan diri tidak hanya muncul dari bakat, tetapi juga dari latihan dan pemahaman terhadap materi yang akan disampaikan.

Radio Berubah, Tuntutan Penyiar Ikut Bertambah

Perkembangan media sosial tidak serta-merta menghilangkan peran radio. Streaming dan berbagai platform digital justru memungkinkan radio menjangkau audiens di luar batas frekuensi FM.

Perubahan itu membuat penyiar perlu memperluas kemampuan. Jika sebelumnya publik mengenal mereka melalui suara, kini penyiar juga perlu siap membangun citra saat tampil di depan kamera.

Kemampuan visual menjadi pelengkap bagi keterampilan komunikasi yang telah dimiliki. Penyiar perlu menjaga karakter dan cara menyampaikan pesan agar tetap konsisten di berbagai platform.

Dalam konteks ini, dunia broadcasting menuntut pelaku di dalamnya untuk terus belajar. Sikap cepat puas ketika mulai dikenal atau mudah menyerah saat menghadapi kesulitan dapat menghentikan perkembangan karier.

Menemukan Gaya yang Autentik

Muhammad Syarif Thayib mengutip pepatah Arab, “Khalif tu’raf”, yang berarti berbedalah maka engkau akan dikenal. Ia menekankan bahwa perbedaan perlu hadir dalam bentuk keahlian dan karakter autentik, bukan tindakan sensasional.

Ia mengingatkan calon penyiar agar tidak terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki kekuatan yang dapat dilatih untuk membangun personal branding penyiar.

Ia juga memperkenalkan konsep 3N, yaitu Niteni atau mengamati, Nerokke atau meniru, serta Nambahi atau mengembangkan. Muhammad Syarif Thayib pernah mempelajari intonasi dan cara berkomunikasi penyiar senior Radio Suara Surabaya sebagai bagian dari proses belajar.

Meniru dapat digunakan untuk memahami dasar, tetapi harus dilanjutkan dengan pengembangan karakter pribadi. Keterbukaan terhadap kritik, pencarian mentor, lingkungan positif, dan keberanian mencoba hal baru menjadi bekal untuk bertahan di tengah perubahan media.

Baca Juga