Peralihan dari B40 ke B50 disebut pemerintah telah mengubah kebutuhan pasokan solar Indonesia. Sejak 1 Juli 2026, Indonesia dinyatakan tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri.
Perubahan ini bertumpu pada penggunaan campuran diesel yang mengandung 50 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit. Pemerintah menempatkannya sebagai langkah awal untuk mewujudkan kemandirian energi.
Komposisi B50 dan Tahap Pengujiannya
Biodiesel B50 merupakan bahan bakar dengan komposisi 50 persen fatty acid methyl ester atau FAME dari minyak mentah kelapa sawit serta 50 persen solar. Formula tersebut melanjutkan program mandatori biodiesel yang sebelumnya menggunakan B40.
Sebelum penerapan luas, pemerintah melakukan pengujian B50 selama sekitar enam bulan. Pengujian mencakup kendaraan mobil dan bus, serta moda kereta api dan kapal.
Uji coba pada beberapa jenis moda dilakukan untuk mempersiapkan penggunaan campuran biodiesel dengan kandungan lebih tinggi. Pemerintah kemudian mengaitkan pelaksanaan B50 dengan berakhirnya kebutuhan impor solar.
| Aspek | Informasi |
|---|---|
| Campuran B50 | 50 persen FAME dan 50 persen solar |
| Durasi uji coba | Sekitar enam bulan |
| Moda pengujian | Mobil, bus, kereta api, kapal |
| Tanggal tanpa impor solar | 1 Juli 2026 |
Klaim Swasembada Solar
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan mengenai penghentian impor itu saat Pidato Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD pada Jumat, 14 Agustus 2026. Ia menyebut solar sebagai jenis BBM pertama yang mulai mencapai swasembada.
“Sekarang sudah mulai kita wujudkan. Dengan pertama kali, swasembada pada BBM jenis solar, kita berhasil produksi diesel dengan B50 dari kelapa sawit,” ujar Prabowo.
Menurut pemerintah, kebutuhan solar nasional berada di kisaran 38 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun. Sebelum B50 diterapkan, Indonesia masih mengimpor sekitar 3 juta sampai 4 juta kiloliter per tahun.
Penerapan B50 disebut memungkinkan kebutuhan impor tersebut dihentikan. Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya menyasar perubahan komposisi bahan bakar, tetapi juga pengurangan ketergantungan terhadap pasokan eksternal.
Dampak yang Ditekankan Pemerintah
Prabowo menyebut penghentian Impor Solar menghasilkan penghematan devisa sebesar Rp170 triliun atau sekitar 9,5 miliar dollar AS. Dana yang sebelumnya digunakan untuk membeli solar dari luar negeri disebut tidak lagi perlu dikirim keluar negeri.
“Dan kita berhasil menghemat devisa Rp 170 triliun, sekitar USD 9,5 miliar, tidak lagi harus kita kirim ke luar negeri,” kata Prabowo. Pemerintah menjadikan angka itu sebagai dasar bahwa B50 memiliki dampak terhadap pasokan energi dan pengelolaan devisa.
Dalam agenda yang lebih luas, pemerintah juga menyebut telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan. Komoditas tersebut mencakup beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Swasembada daging sapi masih menjadi target yang belum terpenuhi dan diharapkan tercapai dalam lima hingga enam tahun mendatang. Untuk sektor energi, keberlanjutan Swasembada Energi akan bertumpu pada efektivitas B50 dalam memenuhi kebutuhan solar nasional.






