Tekanan margin bunga bersih belum menghentikan PT Bank Central Asia Tbk mencatat pertumbuhan laba pada semester I-2026. BCA membukukan laba bersih Rp29,5 triliun, meningkat 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja ini memperoleh dukungan dari pendapatan non-bunga yang lebih kuat. Pos tersebut membantu meredam dampak pelemahan pendapatan bunga bersih atau net interest income.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai laba BCA masih resilien. Penilaiannya merujuk pada pertumbuhan laba bersih yang tetap positif di tengah tekanan net interest margin atau NIM.
Menurut Liza, pendapatan non-bunga berperan dalam menjaga kestabilan pendapatan BCA secara keseluruhan. Faktor ini menjadi salah satu alasan perseroan tetap membukukan pertumbuhan laba positif pada enam bulan pertama 2026.
Dana Murah Menguat
Struktur pendanaan BCA ditopang oleh dana giro dan tabungan atau CASA yang mencapai Rp1.082,3 triliun. Penghimpunan dana murah tersebut meningkat 10,2% secara tahunan.
Kenaikan dana CASA menjadi bagian penting dalam struktur pendanaan perseroan ketika margin bunga bersih tertekan. Pertumbuhan dana murah melengkapi dukungan dari pendapatan non-bunga terhadap kinerja BCA.
| Indikator | Nilai Semester I-2026 | Keterangan |
|---|---|---|
| Laba bersih | Rp29,5 triliun | Naik 1,8% tahunan |
| Dana CASA | Rp1.082,3 triliun | Naik 10,2% tahunan |
| Total kredit | Rp1.035,6 triliun | Naik 8% tahunan |
| Kredit korporasi | Rp513,4 triliun | Naik 13,6% tahunan |
| NPL gross | 1,9% | Kualitas aset |
| LAR | 4,9% | Kredit berisiko |
Kredit Korporasi Memimpin
Di sisi pembiayaan, total kredit BCA mencapai Rp1.035,6 triliun pada semester I-2026. Penyalurannya tumbuh 8% secara tahunan dan meningkat 4,2% secara kuartalan.
Segmen korporasi menjadi pendorong terbesar pertumbuhan kredit tersebut. Kredit korporasi naik 13,6% secara tahunan menjadi Rp513,4 triliun.
Performa segmen korporasi berbeda dengan kredit konsumer yang cenderung tertahan. Perlambatan pembiayaan kendaraan bermotor memengaruhi laju pertumbuhan pembiayaan konsumer.
Pertumbuhan kredit berlangsung dengan kualitas aset yang tetap dikelola. Rasio kredit bermasalah atau NPL gross berada pada 1,9%, sedangkan LAR tercatat 4,9%.
Rasio tersebut menunjukkan ekspansi pembiayaan berjalan bersamaan dengan pengelolaan risiko kredit. Kondisi ini menjadi bagian dari gambaran kinerja BCA selama semester pertama 2026.
Penopang Operasional dan Rekomendasi
Pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan turut menopang hasil BCA pada periode pelaporan ini. Investor Daily pada 13 Agustus 2026 melaporkan capaian laba tersebut di tengah tekanan pada pendapatan bunga bersih dan NIM.
Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga 12 bulan Rp8.075 per lembar. Target itu menggunakan proyeksi price to book value atau P/BV sebesar 3,3 kali untuk 2026.
Rekomendasi tersebut mencerminkan penilaian terhadap ketahanan laba BCA, dukungan pendapatan non-bunga, serta pertumbuhan kredit korporasi. Dana CASA dan kualitas aset juga menjadi bagian dari konteks kinerja perseroan pada semester I-2026.






