Investor asing mengakumulasi pembelian bersih saham TINS sekitar Rp 1,5 triliun dalam tiga bulan terakhir. Arus dana itu muncul saat PT Timah Tbk membukukan lonjakan laba bersih 805% pada semester I 2026.
Minat asing kembali terlihat pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026, dengan pembelian bersih sekitar Rp 110 miliar. Saham TINS menguat 4,57% ke Rp 3.890 dan mencatat nilai transaksi Rp 520,68 miliar.
Penguatan harga bukan terjadi dalam perdagangan yang sepi. Sebanyak 134,2 juta saham TINS berpindah tangan dalam 31.631 transaksi, sementara kenaikan harga selama satu bulan mencapai 13,08%.
Laba Bersih Menembus Rp 2,71 Triliun
PT Timah membukukan laba bersih Rp 2,71 triliun sepanjang semester I 2026. Capaian itu meningkat tajam dibandingkan laba Rp 300 miliar pada semester I 2025.
Pendapatan perusahaan mencapai Rp 10,42 triliun, naik 247% dari Rp 4,22 triliun pada periode pembanding. BRIDS menilai lonjakan tersebut merupakan pencapaian yang telah melampaui target FY26F.
| Indikator Keuangan dan Operasional | Semester I 2026 | Perubahan Tahunan |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp 10,42 triliun | Naik 247% |
| Laba bersih | Rp 2,71 triliun | Naik 805% |
| Produksi bijih timah | 12.232 ton Sn | Naik 75% |
| Penjualan logam timah | 10.984 ton | Naik 85% |
Pertumbuhan pendapatan didukung peningkatan produksi dan volume penjualan. Produksi bijih timah naik 75% menjadi 12.232 ton Sn, sedangkan penjualan logam timah naik 85% menjadi 10.984 ton.
Kondisi keuangan perseroan juga membaik dari sisi aset dan ekuitas. Total aset naik 21% sejak awal tahun menjadi Rp 16,45 triliun, sementara ekuitas tumbuh 25% menjadi Rp 10,55 triliun.
Ekspor dan Harga Komoditas Menopang
Penjualan PT Timah sangat bergantung pada pasar ekspor yang menyumbang 97% dari total penjualan. China menyerap 48% penjualan, lalu India 11% dan Korea Selatan 10%.
Kenaikan harga timah memperkuat dampak pertumbuhan volume terhadap pendapatan. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange pada semester I 2026 mencapai US$ 50.319 per ton atau naik 56,68% secara tahunan.
Fundamental komoditas juga ditopang kondisi pasar global yang defisit. CRU Tin Monitor mencatat konsumsi timah global sebesar 179.256 ton, lebih tinggi daripada produksi 173.536 ton, sehingga muncul defisit 5.720 ton.
Valuasi dan Risiko yang Dicermati
BRIDS memperkirakan rasio P/E tahunan saham TINS berdasarkan capaian semester I berada di kisaran 6,7 kali. Rasio tersebut dinilai menarik di tengah pertumbuhan laba bersih yang sangat tinggi.
BRIDS memberi rekomendasi beli dengan target Rp 4.500, sedangkan Phintraco Sekuritas melihat target teknikal Rp 4.200 dan Rp 4.500. Untuk mencapai proyeksi laba bersih 2026 sebesar Rp 3,36 triliun, perseroan disebut hanya memerlukan tambahan pengiriman yang relatif kecil pada semester II.
Meski kinerja dan arus dana asing menguat, potensi kenaikan tarif royalti tetap menjadi faktor risiko. Tarif tersebut belum diterapkan, tetapi berpotensi menjadi tekanan bagi pergerakan saham TINS.






