Kredit Baru Tetap Tumbuh saat Dana Melambat, CIMB Niaga Jaga Likuiditas Lewat CASA

Penyaluran kredit baru perbankan masih menunjukkan pertumbuhan ketika penghimpunan dana diproyeksikan melambat pada 2026. Dalam situasi tersebut, CIMB Niaga menjaga likuiditas dengan memperkuat dana murah CASA dan mempertahankan rasio pendanaan pada tingkat sehat.

Bank Indonesia mencatat Saldo Bersih Tertimbang penyaluran kredit baru pada kuartal II/2026 mencapai 93,08%. Angka itu menunjukkan kebutuhan likuiditas tetap relevan bagi perbankan untuk mendukung pembiayaan yang terus berjalan.

CIMB Niaga juga menjaga rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau LDR. Perseroan menyatakan seluruh rasio likuiditas dipertahankan pada level sehat dan memenuhi ketentuan regulator.

CASA Menahan Tekanan Pendanaan

Penguatan CASA menjadi strategi utama CIMB Niaga dalam menjaga struktur pendanaan. CASA terdiri dari giro dan tabungan yang dipandang dapat membantu menekan cost of fund dibandingkan dana berbiaya lebih tinggi.

Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan bank akan terus mengoptimalkan penghimpunan dana murah. Fokus tersebut diarahkan untuk memberi ruang ekspansi kredit tanpa menambah tekanan biaya dana.

“DPK masih akan difokuskan ke CASA untuk memaksimalkan cost of fund yang relatif lebih rendah,” ujar Lani kepada Bisnis Indonesia, dikutip Selasa (21/7/2026). Pernyataan itu disampaikan ketika prospek pertumbuhan simpanan industri perbankan berubah lebih moderat.

Bank akan memperkuat penghimpunan CASA melalui ekosistem payroll dan kanal digital untuk segmen mass market. Operating account serta layanan cash management juga menjadi kanal yang diandalkan dalam strategi tersebut.

Pemanfaatan kanal transaksi memungkinkan rekening nasabah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan aktivitas usaha. Dengan demikian, penghimpunan dana murah dapat ditopang oleh hubungan transaksi yang lebih luas.

Prospek DPK Berkurang Setengahnya

Survei Perbankan Bank Indonesia Triwulan II/2026 memperkirakan pertumbuhan DPK hingga akhir 2026 sebesar 6,18% secara tahunan. Proyeksi itu turun dibandingkan pertumbuhan DPK pada 2025 yang mencapai 13,83% secara tahunan.

IndikatorPeriodeNilai
Pertumbuhan DPKRealisasi 202513,83% yoy
Pertumbuhan DPKProyeksi akhir 20266,18% yoy
Penyaluran kredit baruKuartal II/2026SBT 93,08%

Perubahan proyeksi tersebut membuat persaingan mendapatkan dana menjadi salah satu isu penting bagi bank. Kebutuhan dana tetap harus diseimbangkan dengan pertumbuhan kredit dan pengelolaan biaya pendanaan.

Bank Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan simpanan ke depan lebih banyak ditopang oleh tabungan dan giro. Deposito diperkirakan mencatat pertumbuhan yang lebih moderat pada kuartal III/2026.

Jenis SimpananSBT Kuartal III/2026Posisi Proyeksi
Tabungan87,08%Tertinggi
Giro76,38%Kedua
Deposito40,97%Terendah

Tabungan diproyeksikan mencatat SBT 87,08%, sedangkan giro sebesar 76,38%. Proyeksi SBT deposito berada pada 40,97%.

Kredit Korporasi Masih Dilihat Berpeluang

Dari sisi pembiayaan, CIMB Niaga akan lebih selektif dalam menentukan segmen kredit. Kredit korporasi dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan sejalan dengan kebutuhan pembiayaan sektor usaha.

Lani menilai proyeksi pertumbuhan kredit dari Bank Indonesia bersifat nasional dan banyak didominasi oleh Himbara. Pertumbuhan kredit di luar kelompok tersebut dapat lebih konservatif karena daya beli masyarakat masih rendah.

“Perkiraan pertumbuhan kredit dari BI sifatnya nasional dan kebanyakan didominasi oleh Himbara. Pertumbuhan kredit non-Himbara bisa lebih konservatif sejalan dengan masih rendahnya daya beli masyarakat,” tuturnya.

Strategi pendanaan dan penyaluran kredit itu dijalankan bersamaan oleh CIMB Niaga. Penguatan CASA menjadi bagian penting untuk menjaga likuiditas ketika pertumbuhan DPK melambat, sementara kebutuhan pembiayaan tetap berjalan.

Baca Juga