Setelah Venezuela, Chad Pertanyakan Rekam Jejak ICC yang Berat ke Afrika

Rekam jejak ICC di Afrika menjadi titik keberatan utama Chad dalam rencana penarikan diri dari Statuta Roma. Pemerintah Chad mencatat sembilan dari 13 investigasi lembaga tersebut berkaitan dengan negara-negara di benua Afrika.

Penilaian itu disampaikan saat Chad mengumumkan rencananya pada Senin, 27 Juli 2026. Langkah tersebut menyusul keputusan Venezuela yang pada 24 Juli 2026 juga menyatakan keluar dari ICC dengan tudingan bias geografis.

Efektivitas Lembaga Dipertanyakan

ICC dibentuk untuk mengadili individu atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun, Pemerintah Chad menilai hasil kerja pengadilan sejak beroperasi pada 2002 tidak menunjukkan efektivitas yang setara di seluruh kawasan.

Juru bicara pemerintah menyebut evaluasi mendalam atas fungsi dan rekam jejak ICC menghasilkan kesimpulan yang kritis. “Peninjauan mendalam terhadap fungsi Mahkamah Pidana Internasional sejak mulai beroperasi pada 2002, serta rekam jejaknya, efektivitasnya tetap terbatas dan tidak merata di berbagai wilayah,” kata juru bicara itu.

Pernyataan tersebut dikutip Kompas.com dari The New Indian Express. Chad kemudian menyoroti investigasi di luar Afrika sebagai bagian dari alasan bahwa pemerataan penanganan perkara belum tercapai.

Penanganan Perkara ICCJumlahKonteks
Investigasi terkait negara Afrika9 dari 13Menurut catatan Pemerintah Chad
Investigasi di kawasan lain4Disebut belum ada kemajuan konkret
Orang yang ditahan7Enam diadili dalam situasi Afrika

Pemerintah Chad menyebut empat investigasi di kawasan selain Afrika belum menghasilkan kemajuan konkret. Selain itu, enam dari tujuh orang yang ditahan ICC diadili dalam situasi yang berkaitan dengan Afrika.

Posisi Chad di Tengah Penarikan Diri Negara Lain

Rencana Chad tidak berdiri sendiri dalam lanskap hubungan sejumlah negara dengan ICC. Burkina Faso, Mali, dan Niger telah mengumumkan penarikan diri bersama pada September 2025.

Tiga negara Sahel tersebut mengambil langkah itu sebelum Venezuela dan Chad menyampaikan keberatan masing-masing. Venezuela secara khusus menuduh adanya bias geografis ketika mengumumkan pengunduran dirinya.

Bagi Chad, masalah yang ditekankan bukan hanya banyaknya perkara dari Afrika, melainkan juga pemusatan kegiatan ICC yang dinilai berlebihan di kawasan itu. Pemerintah negara tersebut menjadikan pertimbangan itu sebagai alasan untuk meninjau keberlanjutan keanggotaan dalam Statuta Roma.

Percakapan Telepon dengan Pejabat Amerika Serikat

Pernyataan di situs resmi Menteri Luar Negeri Chad juga mengungkap konteks lain di balik evaluasi itu. Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk Urusan Afrika disebut menghubungi pihak Chad melalui telepon pada Kamis, 23 Juli 2026.

Dalam percakapan tersebut, pihak Amerika Serikat menyampaikan keprihatinan terhadap fungsi lembaga itu. Mereka juga meminta Chad mempertimbangkan kembali keanggotaannya dalam Statuta Roma, menurut pernyataan pemerintah.

“Pihak Amerika menyatakan keprihatinannya tentang fungsi lembaga ini, dan meminta Chad meninjau kembali keanggotaannya dalam Statuta Roma,” bunyi pernyataan tersebut. Pemerintah Chad menyebut komunikasi itu sebagai salah satu konteks yang melatarbelakangi rencana penarikan diri.

Pengumuman Chad muncul ketika organisasi nasional dan internasional menyoroti dugaan keterlibatan negara itu dalam konflik di Sudan. Meski demikian, pemerintah menegaskan kritik terhadap efektivitas ICC dan dominasi investigasi Afrika menjadi dasar utama dari langkah yang direncanakan.

Baca Juga