Moldova menghadapi pilihan sulit setelah kekeringan memaksa Rumania mematikan seluruh reaktor nuklir di Cernavoda. Negara tetangga itu selama ini mengandalkan listrik dari Rumania untuk menutup hingga 60 persen kekurangan kebutuhan energinya.
Jika impor dari Rumania tidak tersedia, Moldova mungkin harus membeli listrik dengan biaya lebih tinggi dari negara-negara Eropa Barat. Alternatif lain adalah meningkatkan pembelian dari Ukraina bila Kyiv mampu memasok, atau menerapkan pemadaman listrik bergilir.
Risiko Pemadaman Mulai Diperhitungkan
Pakar energi Moldova Sergiu Tofilat meminta pemerintah dan masyarakat menyiapkan diri menghadapi kemungkinan kondisi yang memburuk. Dalam pernyataannya kepada Radio Chisinau, ia menilai pemadaman listrik belum dapat dipastikan tetapi tetap harus diantisipasi.
“Saya pikir kita harus bersiap menghadapi situasi yang memburuk, termasuk pemadaman listrik, meskipun sulit untuk memastikannya sekarang,” kata Tofilat. Tekanan pasokan di Moldova muncul ketika kawasan Eropa Timur juga menghadapi dampak kekeringan yang meluas.
Rumania Kehilangan Seperlima Produksi Listrik
Di Rumania, penghentian dua reaktor Cernavoda menghilangkan pembangkit yang biasanya memasok sekitar 20 persen produksi listrik nasional. Pemerintah merespons dengan mengaktifkan pembangkit lignit berkapasitas 330 megawatt serta mengandalkan tambahan energi angin dan tenaga air.
Namun, penggunaan pembangkit tenaga air tetap dibatasi oleh pertimbangan ketersediaan air di waduk. Apabila langkah pengganti belum cukup, konsumen industri skala besar dapat mengalami pembatasan penggunaan listrik pada malam hari.
Pemerintah juga menyebut Dacia dan Ford akan menghentikan sementara produksi di Rumania hingga 19 Agustus. Penghentian aktivitas dua produsen otomotif itu ditujukan untuk membantu mengurangi defisit pasokan energi.
Air Pendingin Tidak Lagi Memadai
PLTN Cernavoda membutuhkan air Sungai Danube sebagai bagian dari sistem pendinginan reaktor. Turunnya volume air ke tingkat yang tidak mencukupi membuat operasi pembangkit harus dihentikan demi keselamatan dan kelangsungan sistem.
| Unit | Kapasitas | Status Operasi |
|---|---|---|
| Reaktor 1 | 706 megawatt | Dimatikan pada akhir Juli |
| Reaktor 2 | 706 megawatt | Dimatikan pada Kamis |
Nuclearelectrica lebih dahulu menghentikan Reaktor 1 ketika debit Danube terus menyusut. Reaktor 2 menyusul setelah muka air turun secara signifikan dan berlanjut, sementara operator belum memperkirakan unit tersebut dapat kembali beroperasi dalam 10 hari ke depan.
Dua reaktor itu memiliki kapasitas yang identik, sehingga penutupannya membuat total daya yang hilang mencapai 1.412 megawatt. Gangguan tersebut memperlihatkan kerentanan pembangkit listrik terhadap kondisi sungai yang menyokong kebutuhan pendinginan.
Gangguan Menyebar di Sepanjang Danube
Copernicus mencatat hampir dua pertiga wilayah Danube mengalami debit terendah untuk Juli dalam 34 tahun. Air sungai yang rendah juga menghambat pelayaran di jalur sepanjang sekitar 2.850 kilometer dari Jerman bagian barat sampai Laut Hitam.
Hungaria telah menyiapkan langkah perlindungan untuk PLTN Paks, yang empat reaktornya menggunakan air Danube dan biasanya memasok sekitar sepertiga kebutuhan listrik negara itu. Pemerintah membangun bendung bawah air dan menempatkan dua tongkang sepanjang 80 meter yang dapat ditenggelamkan untuk membantu menaikkan permukaan air.
Di Prancis, 13 dari 57 reaktor EDF terdampak kekeringan, panas ekstrem, dan serbuan ubur-ubur berdasarkan perhitungan Agence France-Presse dari data Électricité de France. Kekurangan kapasitas produksi nuklir di negara itu dilaporkan melampaui 20 persen pada pekan ini.
World Weather Attribution menyatakan kekeringan di Eropa diperburuk oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Peristiwa di Cernavoda memperkuat kekhawatiran bahwa cuaca ekstrem dapat mengganggu energi, industri, dan hubungan pasokan listrik lintas negara.






