Bukan Cuma Capek, Burnout Dapat Mengikis Motivasi hingga Mengganggu Kesehatan

Rasa lelah yang terus bertahan meski sudah beristirahat tidak boleh dianggap sepele. Burnout dapat mengikis motivasi, menurunkan kemampuan profesional, dan berkaitan dengan gangguan kesehatan fisik maupun mental.

Dampaknya dapat terasa dalam rutinitas kerja melalui produktivitas yang menurun dan kesalahan yang lebih sering terjadi. Kemampuan mengambil keputusan juga dapat melemah ketika tekanan berkepanjangan menguras energi serta fokus.

Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres yang tidak dikelola dengan baik dalam waktu lama. Karena itu, tidur semalam atau libur singkat tidak selalu cukup untuk memulihkan seseorang dari kondisi tersebut.

Dampak dapat meluas ke kesehatan

Burnout dikaitkan dengan insomnia, tekanan darah tinggi, dan gangguan pencernaan. Kondisi ini juga berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis sehingga tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan psikologis.

Depresi, kecemasan, dan hilangnya motivasi termasuk persoalan kesehatan mental yang dapat berkaitan dengan burnout. Risiko pemulihan yang lambat dapat meningkat bila sumber tekanan tetap ada dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah ini menjadi perhatian di lingkungan kerja modern. Sekitar 65% pekerja di Inggris dilaporkan mengalami burnout, sedangkan satu dari lima pekerja membutuhkan waktu istirahat karena persoalan kesehatan mental yang terkait stres kerja.

Tekanan kerja bukan satu-satunya faktor

Beban kerja yang berlebihan, jam kerja panjang, dan waktu istirahat yang tidak memadai dapat memperbesar risiko burnout. Ekspektasi pekerjaan yang mengganggu keseimbangan kehidupan pribadi juga membuat pemulihan menjadi lebih sulit.

Kurangnya dukungan dari atasan dapat menambah berat tekanan yang dirasakan pekerja. Kementerian Kesehatan, yang informasinya dihimpun lifestyle.bisnis.com, menyebut dukungan profesional dan emosional penting saat tuntutan pekerjaan meningkat.

Ketidakjelasan peran dan tanggung jawab dapat menimbulkan kebingungan yang berlangsung lama. Konflik, suasana kerja yang tidak kondusif, serta budaya kerja yang toxic juga dapat mempercepat akumulasi kelelahan.

Kerentanan seseorang tidak selalu sama. Pekerja sektor pelayanan, tenaga kesehatan, mahasiswa, caregiver, dan individu dengan pengalaman kerja terbatas dapat menghadapi tekanan dalam bentuk yang berbeda.

Psikiater Dinesh Bhugra menulis bahwa kelelahan akibat beban kerja dilaporkan terjadi di semua profesi. “Sehingga kemungkinan besar kelelahan empati juga dapat terjadi pada profesi yang berurusan dengan lingkungan kerja yang penuh tekanan,” tulisnya.

Mengenali pola burnout

Perbedaan penting antara stres biasa dan burnout terlihat dari relasi seseorang dengan pekerjaannya. Stres dapat membuat seseorang merasa terlalu terlibat, sementara burnout dapat mendorongnya menjauh karena energi dan motivasi telah terkuras.

Mental Health UK mencatat tiga tanda utama yang umumnya tampak pada kondisi ini. Gejala dapat hadir bersamaan ketika seseorang tidak memperoleh dukungan serta kesempatan pulih yang cukup.

Tanda UtamaGambaran Kondisi
Kelelahan ekstremEnergi fisik dan mental terasa terkuras secara mendalam.
Menjauh dari pekerjaanMuncul sikap sinis atau dorongan untuk menarik diri dari pekerjaan.
Kinerja menurunKemampuan menjalankan tugas profesional tidak lagi optimal.

Kelelahan ekstrem dapat terlihat saat tenaga fisik dan mental terasa habis secara mendalam. Sikap sinis atau dorongan menghindari pekerjaan, disertai kinerja yang menurun, merupakan pola lain yang perlu diperhatikan.

Langkah yang dapat dilakukan

Mengenali pemicu stres menjadi pintu awal untuk menghadapi burnout. Pengaturan waktu dan prioritas kerja dapat membantu mengembalikan rasa kendali dalam rutinitas yang terasa menekan.

Menjaga kualitas tidur, asupan nutrisi, dan aktivitas fisik rutin menjadi bagian dari upaya pemulihan. Mindfulness dapat digunakan untuk membantu mengurangi stres ketika tekanan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.

Self-compassion membantu seseorang agar tidak memandang burnout sebagai kelemahan pribadi. Dukungan dari keluarga, teman, dan rekan kerja dapat menjadi bagian penting ketika kelelahan mendalam mulai disadari.

Baca Juga