Danantara menyiapkan pembiayaan motor listrik dengan tiga dorongan utama, yakni uang muka 0 persen, bunga lebih rendah, dan tenor pinjaman lebih panjang. Rancangan itu ditujukan agar cicilan kendaraan roda dua listrik dapat lebih terjangkau bagi masyarakat.
Program tersebut berfokus pada biaya awal yang masih menjadi penghalang bagi sebagian calon pembeli. Berdasarkan informasi perbankan di bawah Danantara, uang muka kredit motor listrik saat ini masih berada di kisaran 10 persen.
CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan pihaknya akan berupaya menurunkan bahkan menghapus uang muka tersebut. Penghapusan ini diharapkan mengurangi kebutuhan dana yang harus disiapkan konsumen pada saat awal pengajuan kredit.
Cicilan Tetap Bergantung pada Ketentuan Bank
Uang muka nol persen tidak berarti nilai angsuran akan seragam atau otomatis rendah bagi seluruh peminjam. Cicilan tetap akan ditentukan oleh suku bunga dan durasi pinjaman yang ditawarkan bank.
Karena itu, opsi bunga rendah dan tenor panjang menjadi bagian dari rancangan pembiayaan yang didorong Danantara. Kedua unsur itu dimaksudkan untuk membantu menjaga beban pembayaran bulanan tetap lebih ringan.
| Komponen | Kondisi Saat Ini | Arah yang Didorong |
|---|---|---|
| Uang muka kredit | Sekitar 10% | 0% |
| Suku bunga | Tidak dirinci | Lebih rendah |
| Tenor pinjaman | Tidak dirinci | Lebih panjang |
| Penjualan motor listrik | 60–70 ribu unit per tahun | Masih sekitar 1% pasar motor |
Perbankan Negara Menjadi Bagian Penting
Pada Kamis, 13 Agustus 2026, BPI Danantara menyampaikan telah membicarakan dukungan pendanaan dengan perbankan dan institusi finansial yang berada di bawah naungannya. Bank-bank milik negara dalam Himbara disebut memiliki peran penting dalam dorongan pembiayaan kendaraan listrik nasional.
Skema tersebut masih berupa upaya dan persiapan dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan di bawah Danantara. Realisasinya akan bergantung pada kesiapan bank serta institusi finansial untuk menyalurkan pendanaan kepada calon pembeli.
Pasar Motor Besar, Adopsi Listrik Masih Rendah
Potensi program ini ditopang oleh ukuran pasar roda dua Indonesia yang sangat besar. Populasi kendaraan roda dua nasional disebut mencapai sekitar 140 juta unit, dengan pembelian motor baru tahunan sekitar 6 juta hingga 7 juta unit.
Dalam pasar sebesar itu, motor listrik baru terjual sekitar 60 ribu sampai 70 ribu unit per tahun. Angka tersebut hanya sekitar 1 persen dari total penjualan motor tahunan di Indonesia.
Danantara menilai rendahnya basis penjualan tersebut membuka ruang pertumbuhan yang luas apabila hambatan pembiayaan dapat dikurangi. Kemudahan kredit diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan roda dua listrik.
Permintaan Konsumen Dikaitkan dengan Produksi Nasional
Selain mengejar peningkatan pembelian, Danantara juga mengaitkan skema ini dengan percepatan produksi motor listrik di Indonesia. Meningkatnya penyerapan pasar diharapkan dapat mendukung kemampuan industri nasional dalam memproduksi motor listrik.
Pembiayaan dengan uang muka rendah, bunga ringan, dan tenor panjang diposisikan sebagai jalur untuk memperluas adopsi kendaraan ramah lingkungan. Kelanjutan program akan ditentukan oleh pengaturan pembiayaan yang disiapkan bersama perbankan dan institusi finansial terkait.






