Kemarau Belum Memuncak, Boyolali Sudah Salurkan 200 Ribu Liter Air ke Desa Terdampak

BPBD Boyolali telah menyalurkan sekitar 200 ribu liter air bersih kepada warga terdampak hingga akhir Juli 2026. Distribusi dilakukan ketika kemarau belum mencapai puncaknya dan sedikitnya 9 desa di 5 kecamatan sudah mengalami krisis air.

Agustus hingga September diperkirakan menjadi masa kekeringan terberat berdasarkan peringatan BMKG. Untuk menghadapi risiko tersebut, Pemerintah Kabupaten Boyolali menyiapkan cadangan air bersih hingga 1 juta liter.

Wilayah penerima tersebar di lima kecamatan

Desa penerima bantuan berada di kawasan lereng Gunung Merapi serta wilayah sekitar pinggiran Waduk Kedungombo. Penyaluran mencakup desa-desa di Wonosegoro, Wonosamudro, Selo, Tamansari, dan Cepogo.

KecamatanDesa penerima bantuan
WonosegoroGuwo dan Ketoyan
WonosamudroBengle dan Bercak
SeloSamiran
TamansariSangup
CepogoKembangkuning

Daftar desa tersebut masih dapat bertambah mengikuti perkembangan kebutuhan di lapangan. BPBD Boyolali terus memantau wilayah yang mulai menghadapi keterbatasan akses air bersih.

Peta risiko mencakup 9 kecamatan

Hasil mitigasi BPBD memperlihatkan puluhan desa di 9 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan. Pemetaan dilakukan dengan memperhatikan kondisi wilayah dan pengalaman penanganan pada tahun-tahun sebelumnya.

Wonosegoro dan Wonosamudro menjadi kecamatan yang telah terdampak dan masuk dalam peta rawan. Kemusu juga disebut dalam pemetaan wilayah yang perlu mendapat perhatian selama musim kemarau.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo menyebut 9 desa di lima kecamatan sudah benar-benar mengalami krisis air bersih. Menurut keterangan yang dikutip Media Indonesia pada 26 Juli 2026, kondisi itu menjadi alasan BPBD menggelontorkan 200 ribu liter bantuan air.

Status siaga menguatkan koordinasi

Bupati Boyolali telah menetapkan status siaga penanganan kedaruratan kekeringan. Penetapan ini memperkuat koordinasi pemerintah kabupaten dengan kecamatan, desa, dan pemangku kepentingan terkait.

Penanganan diarahkan untuk memastikan kebutuhan air bersih warga tetap mendapat perhatian selama kemarau berlangsung. BPBD akan berkomunikasi dengan pemerintah di tingkat kecamatan dan desa untuk menentukan kebutuhan distribusi berikutnya.

Ari menegaskan bahwa penanganan tidak bisa ditunda ketika ancaman kekurangan air sudah terlihat. “Krisis air bersih sudah menanti dan harus segera ditolong,” katanya.

Cadangan 1 juta liter menjadi salah satu penopang kesiapsiagaan jika dampak kekeringan bertambah luas pada Agustus dan September. Langkah itu disiapkan agar bantuan air dapat terus menjangkau desa-desa yang membutuhkan.

Baca Juga