Boikot Aleksander Ceferin terhadap final Piala Dunia 2026 bukan semata-mata dipicu kasus Folarin Balogun. UEFA juga menolak sejumlah kebijakan FIFA yang menyentuh aturan pertandingan, perlakuan terhadap peserta, hingga strategi penjualan tiket.
Presiden UEFA itu tidak menghadiri final Spanyol melawan Argentina di New Jersey. Sikap tersebut menjadi simbol terbukanya konflik yang lebih luas antara dua organisasi besar sepak bola dunia.
Aturan Pertandingan Menjadi Titik Beda
UEFA menilai jeda hidrasi yang digunakan FIFA membuat pertandingan terasa seperti terbagi menjadi empat kuarter. Jeda itu juga dinilai memberikan ruang tambahan untuk kepentingan iklan penyiar.
Perhatian UEFA turut tertuju pada jeda babak pertama final yang mencapai 27 menit. Waktu tersebut melebihi batas maksimal 15 menit dalam Laws of the Game.
Organisasi itu juga tidak akan menerapkan interpretasi baru protokol VAR mengenai mistaken identity. Penerapan ketentuan tersebut sebelumnya menghasilkan kartu merah untuk Breel Embolo dalam laga perempat final melawan Argentina.
UEFA menolak aturan yang memungkinkan pemain dihukum karena menutupi mulut ketika berbicara dengan lawan. Penolakan itu memperlihatkan perbedaan prinsip tata kelola pertandingan antara UEFA dan FIFA.
| Bidang | Kebijakan atau Peristiwa | Posisi UEFA |
|---|---|---|
| Disiplin | Sanksi Folarin Balogun dibatalkan | Mengecam keputusan FIFA |
| Pertandingan | Jeda hidrasi dan aturan VAR | Tidak akan diadopsi |
| Tiket | Harga dinamis FIFA | Tidak dipakai pada Euro 2028 |
Kasus Balogun Menjadi Pemicu Langsung
Meski persoalannya berlapis, pembatalan larangan bermain satu pertandingan bagi Folarin Balogun menjadi pemicu langsung kekecewaan UEFA. Penyerang Amerika Serikat itu sebelumnya mendapat sanksi setelah menerima kartu merah dalam turnamen.
Komite Disiplin FIFA lalu mencabut hukuman tersebut setelah Donald Trump meminta Gianni Infantino meninjau kartu merah Balogun. UEFA menyebut keputusan itu belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.
UEFA juga menyatakan FIFA telah melewati garis merah. Menurut laporan Bola.kompas.com, kasus ini memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan pengaruh politik dalam proses pengambilan keputusan FIFA.
Iran dan Omar Artan Turut Disorot
Persoalan penyelenggaraan turut mencakup kondisi yang dialami tim nasional Iran. Iran disebut menghadapi persyaratan perjalanan masuk dan keluar Amerika Serikat yang lebih ketat daripada 47 peserta lainnya.
Pelatih Amir Ghalenoei menyebut timnya sebagai “tim paling tertindas” di Piala Dunia. Kontroversi semakin besar ketika Markwayne Mullin, Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, mengatakan dirinya “menari kegirangan” saat Iran tersingkir.
UEFA juga memperhatikan pemulangan wasit Somalia Omar Artan oleh otoritas Amerika Serikat sebelum turnamen dimulai. FIFA dinilai gagal mencegah insiden tersebut.
Artan kemudian ditunjuk UEFA untuk menjadi wasit final Piala Super UEFA bulan depan. Penunjukan ini menjadi salah satu tindakan yang menonjol di tengah ketegangan antarlembaga.
Pendekatan Tiket yang Berbeda
Di luar persoalan lapangan, Ceferin telah mengkritik strategi tiket FIFA. UEFA menjanjikan sekitar 40 persen tiket Euro 2028 berada pada kategori harga paling terjangkau, sekitar 30 hingga 60 pound sterling.
UEFA memastikan Euro 2028 tidak akan menggunakan sistem harga dinamis. Kebijakan tersebut menegaskan pendekatan berbeda dalam penyelenggaraan kompetisi besar.
Ceferin sempat menghadiri pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 di Mexico City pada 11 Juni. Namun, ia memilih tidak hadir ketika Spanyol menundukkan Argentina 1-0 dalam final.
Gol Ferran Torres pada menit ke-106 memastikan kemenangan Spanyol atas tim yang dimotori Lionel Messi. Hasil itu membawa Spanyol mengangkat gelar juara dunia untuk kedua kalinya.






