BI Perkuat Intervensi dan SRBI Saat Rupiah Melemah ke Rp 17.917 per Dolar AS

Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar dan kenaikan suku bunga SRBI. Upaya itu menjadi penting setelah rupiah ditutup melemah 29 poin ke Rp 17.917 per dolar AS pada Rabu, 22 Juli 2026.

Nilai tersebut turun dari penutupan sehari sebelumnya di Rp 17.888 per dolar AS. Pelemahan terjadi meski suku bunga acuan BI tetap dipertahankan pada level 5,75%.

Strategi Menjaga Nilai Tukar

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan rupiah relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026. Pada akhir Juni, mata uang Indonesia berada di Rp 17.880 per dolar AS.

Untuk menjaga stabilitas, BI mengoptimalkan intervensi di pasar non-deliverable forward atau NDF luar negeri. Bank sentral juga melakukan transaksi spot dan domestic non-deliverable forward atau DNDF di dalam negeri.

Selain intervensi, BI menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Instrumen ini digunakan untuk menarik aliran investasi portofolio asing.

“Suku bunga sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinaikkan untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry Warjiyo.

Suku Bunga Acuan Tidak Berubah

Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21-22 Juli 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate. Deposit Facility dan Lending Facility juga tetap berada pada level sebelumnya.

Instrumen KebijakanSuku BungaKeputusan BI
BI Rate5,75%Dipertahankan
Deposit Facility4,75%Ditahan
Lending Facility6,50%Ditahan

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memandang penahanan suku bunga itu dibarengi dorongan kebijakan lain. Salah satunya berupa insentif untuk meningkatkan arus modal asing ke pasar uang Indonesia.

“Adapun, dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Ibrahim.

Tekanan Datang dari Sentimen Eksternal

Langkah stabilisasi tersebut berjalan di tengah tekanan global terhadap rupiah. Ibrahim menyebut sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda.

Pasar mengamati meningkatnya kekhawatiran atas konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan ini beriringan dengan ancaman blokade jalur pelayaran oleh kelompok Houthi di Yaman.

Kelompok Houthi disebut bersekutu dengan Iran dan ancamannya dapat mengganggu pengiriman melalui Laut Merah. Kondisi itu menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar global.

Investor juga masih menantikan arah kebijakan Federal Reserve sepanjang 2026. Kemungkinan berlanjutnya pengetatan suku bunga di Amerika Serikat ikut menekan pergerakan rupiah.

BI akan terus memperluas insentif untuk menarik modal asing. Bank sentral menilai langkah stabilisasi, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mendukung rupiah agar stabil dan cenderung menguat.

Baca Juga