Berat badan anak yang sulit bertambah saat ia terus menolak makan dapat menjadi sinyal bahwa asupan energi dan nutrisi tidak terpenuhi. Kondisi ini tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai fase pilih-pilih makanan biasa.
Penolakan makan yang berlangsung beberapa hari perlu dinilai bersama kondisi umum anak. Risiko menjadi lebih besar jika anak lemas, kurang aktif, tidak mau minum, atau mengalami muntah dan diare berkepanjangan.
Perhatikan Kondisi Anak, Bukan Hanya Isi Piring
Jumlah makanan yang dihabiskan bukan satu-satunya penanda saat anak sulit makan. Orang tua juga perlu memantau perubahan berat badan, aktivitas harian, asupan cairan, dan keluhan yang menyertai.
Anak yang buang air kecil lebih jarang serta memiliki bibir kering dapat menunjukkan tanda dehidrasi. Kondisi tersebut perlu segera diperhatikan karena anak yang menolak minum berisiko kekurangan cairan.
| Gejala yang Terlihat | Maknanya bagi Orang Tua |
|---|---|
| Berat badan turun atau sulit naik | Pertumbuhan dapat terganggu bila kebutuhan energi dan nutrisi tidak tercukupi. |
| Lesu dan kurang aktif | Anak mungkin tidak memiliki energi yang cukup atau sedang mengalami keluhan kesehatan. |
| Menolak minum | Perlu diwaspadai karena dapat disertai kekurangan cairan. |
| Bibir kering dan buang air kecil berkurang | Merupakan tanda dehidrasi yang perlu dicermati. |
| Muntah atau diare berkepanjangan | Dapat mengganggu asupan makanan dan kondisi tubuh anak. |
IDAI menekankan pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan tidak ada kondisi medis yang menjadi penyebab turunnya selera makan. Langkah tersebut penting bila masalah makan menetap selama beberapa minggu atau penolakan berlangsung berhari-hari berturut-turut.
Penyebabnya Dapat Berasal dari Rasa Tidak Nyaman
Ketika sedang sakit, tubuh anak dapat memprioritaskan proses pemulihan sehingga selera makan berkurang. Flu, demam, infeksi tenggorokan, dan gangguan kesehatan lain dapat membuat anak tidak nyaman saat makan.
Tumbuh gigi juga kerap membuat balita enggan mengunyah karena gusi terasa nyeri. Kondisi ini dapat membuat makanan yang biasanya disukai ikut ditolak.
Keluhan seperti sembelit, perut kembung, dan gangguan saluran cerna dapat membuat anak cepat kenyang. Anak mungkin tidak tertarik makan karena perutnya terasa penuh atau tidak nyaman.
Kesehatan pencernaan mendukung proses penyerapan nutrisi dan kenyamanan saat makan. Studi yang dikutip health.detik.com menyebut keseimbangan mikrobiota usus yang didukung probiotik serta prebiotik dapat membantu menjaga fungsi pencernaan.
Sikap Selektif Tetap Perlu Dikelola dengan Tepat
Picky eating dapat terlihat ketika anak hanya menerima makanan dengan warna, aroma, tekstur, atau bentuk tertentu. Anak juga dapat mengalami food neophobia, yaitu ketakutan atau keengganan mencoba makanan yang belum dikenal.
Penelitian Cerdasari dan rekan-rekan pada 2018 mencatat prevalensi picky eating anak prasekolah di Indonesia berkisar 35,4 persen di Pekanbaru hingga 52,4 persen di Semarang. Angka tersebut menunjukkan perilaku selektif makan cukup sering dijumpai, tetapi tetap perlu dibedakan dari masalah kesehatan.
Menu yang sama secara berulang dapat membuat anak kehilangan minat untuk makan. Keinginan bermain juga dapat membuat anak sulit duduk tenang dan menyelesaikan waktu makan.
Memaksa anak menghabiskan makanan dapat membentuk pengalaman negatif terhadap aktivitas makan. Ancaman, kemarahan, dan kebiasaan mengejar anak sambil menyuapi berisiko membuat penolakan semakin kuat.
Langkah di Rumah untuk Menjaga Asupan
Jadwal harian dapat diatur menjadi tiga kali makan utama dan dua kali camilan sehat. Camilan serta minuman manis sebaiknya tidak diberikan terlalu dekat dengan jam makan utama agar anak tidak kenyang lebih dulu.
Sajikan makanan dalam porsi kecil supaya anak tidak merasa kewalahan. Makan bersama keluarga dan memberikan pujian saat anak mencoba menu baru dapat membantu membangun suasana yang lebih positif.
Gadget dan televisi sebaiknya tidak digunakan di meja makan karena dapat mengalihkan perhatian dari sinyal lapar serta kenyang. Kualitas makanan perlu tetap dijaga saat nafsu makan anak sedang menurun.
Permenkes Nomor 28 Tahun 2019 mencantumkan kebutuhan anak usia 4-6 tahun sekitar 1.400 kkal energi dan 25 gram protein per hari. Susu pertumbuhan dapat melengkapi nutrisi harian, tetapi tidak dapat menggantikan makanan utama.
Morigro Formula GROMAX disebut mengandung sekitar 180 kkal dan 5 gram protein per sajian. Kandungannya juga mencakup minyak ikan kaya Omega-3, probiotik BB536, dan prebiotik FOS untuk mendukung kesehatan saluran cerna.






