Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh, memiliki fungsi penting untuk mengurangi risiko banjir di kawasan hilir. Infrastruktur dengan kapasitas tampung 128,65 juta meter kubik itu dirancang membantu mengendalikan limpasan air hingga periode ulang 50 tahunan.
Fungsi tersebut membuat Bendungan Rukoh tidak hanya berperan sebagai penyimpan air untuk pertanian. Kehadirannya juga diharapkan memberi perlindungan tambahan bagi masyarakat Pidie saat hujan berintensitas tinggi memicu luapan sungai dan genangan.
Kapasitas Besar untuk Mengatur Aliran Air
Bendungan ini memiliki luas genangan sekitar 687 hektare dan kemampuan reduksi banjir yang disebut mencapai 51 hektare. Dengan pengaturan debit yang lebih terkendali, aliran air menuju kawasan hilir diharapkan tidak langsung membebani permukiman serta lahan pertanian.
Kabupaten Pidie sebelumnya beberapa kali menghadapi bencana hidrometeorologi akibat hujan lebat. Kondisi tersebut membuat infrastruktur pengelolaan air menjadi semakin penting, terutama ketika cuaca ekstrem berpotensi meningkatkan tekanan terhadap sungai dan kawasan rendah.
| Fungsi | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| Kapasitas tampung | 128,65 juta m³ | Cadangan dan pengelolaan air |
| Luas genangan | 687 hektare | Mendukung fungsi bendungan |
| Reduksi banjir | 51 hektare | Pengendalian hingga periode ulang 50 tahunan |
| Irigasi | 12.194 hektare | Daerah Irigasi Baro Raya |
Dorong Tiga Musim Tanam dalam Setahun
Di luar fungsi perlindungan banjir, Bendungan Rukoh menopang Daerah Irigasi Baro Raya seluas 12.194 hektare. Area layanan tersebut mencakup wilayah Kecamatan Keumala dan Kecamatan Sakti, sehingga ketersediaan air dapat mendukung lahan pertanian di dua kawasan itu.
Menteri PU Dody Hanggodo menyebut sistem tersebut sebagai “irigasi premium” karena pasokan airnya dijamin oleh bendungan. Ketersediaan air yang lebih teratur diharapkan membantu petani meningkatkan produktivitas dan mengejar tiga kali musim tanam dalam setahun.
Indeks Pertanaman di wilayah layanan bendungan ditargetkan meningkat dari 191 persen menjadi 300 persen. Produksi pertanian juga diproyeksikan mencapai sekitar 6 ton per hektare, yang dapat memperkuat peran Aceh dalam mendukung swasembada pangan nasional.
Pasokan Air Baku dan Potensi Energi
Manfaat Bendungan Rukoh juga mencakup penyediaan air baku sebesar 900 liter per detik. Pasokan itu dirancang untuk melayani sekitar 22.848 jiwa di Kecamatan Titeue dan wilayah sekitarnya.
Infrastruktur tersebut turut memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai pendukung energi baru terbarukan. Potensinya mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 140 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro sebesar 1,22 MW.
Dibangun dengan Investasi Rp1,7 Triliun
Pembangunan Bendungan Rukoh berlangsung bertahap pada periode 2018-2024 dengan total anggaran sekitar Rp1,7 triliun. Bendungan ini berada di aliran Sungai Krueng Rukoh dan mendapat suplai dari Bendung Pengarah Sungai Krueng Inong.
Pekerjaan konstruksinya terbagi dalam dua paket utama. Paket pertama dikerjakan PT Nindya Karya (Persero) untuk pembangunan spillway, sedangkan paket kedua dikerjakan PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Andesmont Sakti KSO untuk tubuh bendungan serta bangunan pengelak.
Kementerian PU menempatkan Bendungan Rukoh sebagai infrastruktur strategis yang menggabungkan fungsi pengelolaan air, irigasi, pengendalian banjir, air baku, dan energi. Di Pidie, bendungan ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi kerentanan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi.






