Mario Balotelli kembali membicarakan salah satu keputusan paling penting dalam kariernya, yakni memilih AC Milan ketika Juventus sempat menjadi opsi. Penyerang Italia itu menegaskan bahwa dirinya tidak menyesal karena keputusan tersebut merupakan pilihannya sendiri.
Pengakuan itu datang di tengah perjalanan karier Balotelli yang selalu diwarnai prestasi sekaligus sorotan di luar lapangan. Ia menilai pengalaman baik dan buruk yang dialaminya telah membentuk pertumbuhan pribadinya.
Pengalaman yang Membentuk Balotelli
Balotelli mengakui pernah bertindak kurang bijak ketika masih muda. Namun, ia menolak menghapus atau menyesali fase tersebut karena menganggapnya sebagai bagian dari proses pendewasaan.
Dalam wawancara dengan SportMediaset, ia mengatakan, “Saya melakukan beberapa hal bodoh, saya adalah seorang pemuda yang bersemangat, ada sedikit pelecehan.” Kutipan itu disampaikan Goal English dan diberitakan Kompas.com.
Balotelli menambahkan bahwa berbagai pengalaman tersebut membuatnya bertumbuh. “Saya tidak menyesalinya karena hal itu membuat saya tumbuh,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan memiliki hati nurani yang bersih karena tidak pernah berniat menyakiti siapa pun. Pernyataan itu memberi konteks terhadap cara Balotelli menilai berbagai kontroversi yang pernah melekat pada dirinya.
Salah satu peristiwa yang kerap diingat publik adalah insiden kembang api di kamar mandi saat ia berkarier di Inggris. Di luar insiden tersebut, Balotelli tetap memiliki catatan karier yang kuat bersama klub-klub besar Eropa.
Jejak di Tiga Klub Besar
Nama Balotelli melejit ketika membela Inter Milan dan meraih sejumlah trofi di kompetisi Italia. Ia kemudian merasakan gelar juara bersama Manchester City sebelum kembali ke Serie A.
| Periode Klub | Pencapaian atau Catatan |
|---|---|
| Inter Milan | Melejit dan memperoleh sejumlah trofi Italia |
| Manchester City | Meraih gelar juara |
| AC Milan | Mencatatkan penampilan produktif |
Kiprahnya di klub-klub tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap Balotelli tidak hanya lahir dari kontroversi. Ketajamannya sebagai penyerang juga berulang kali menempatkannya dalam sorotan besar.
Peluang ke Juventus yang Tidak Terwujud
Setelah meninggalkan Manchester City, Balotelli ternyata hampir bergabung dengan Juventus. Ia membenarkan bahwa kesempatan itu benar-benar pernah ada dalam perjalanan kariernya.
“Apakah saya pernah hampir bergabung dengan Juventus di masa lalu? Ya, setelah Manchester City,” kata Balotelli. Akan tetapi, transfer tersebut tidak terwujud karena ia kemudian memilih AC Milan.
Balotelli tidak melihat keputusan itu sebagai penyesalan, meski Juventus merupakan salah satu klub terbesar di Italia. “Kemudian saya akhirnya bergabung dengan Milan, jadi tidak ada penyesalan, itu adalah sebuah pilihan,” ujarnya.
Pilihan itu membuat Balotelli membela klub yang merupakan rival Juventus di Serie A. Bagi pemain yang pernah memenangi penghargaan Golden Boy 2010 tersebut, jalur menuju Milan tetap menjadi bagian yang dapat diterima dari kariernya.
Keprihatinan terhadap Timnas Italia
Balotelli juga menyampaikan perhatian terhadap keadaan tim nasional Italia. Ia prihatin karena Italia telah gagal lolos ke tiga edisi terakhir Piala Dunia dan lama tidak mencetak gol di ajang tersebut.
“Ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan, melainkan hal yang menyedihkan. Terlalu banyak tahun telah berlalu,” kata Balotelli.
Saat menjalani karier di Uni Emirat Arab bersama Al Ittifaq, Balotelli tetap memandang masa lalunya secara terbuka. Baginya, pilihan meninggalkan peluang ke Juventus untuk bergabung dengan AC Milan tetap tidak perlu disesali.






