Rencana pencairan aset Iran hingga S$12 miliar sempat menjadi sinyal awal bahwa perundingan dengan Amerika Serikat dapat bergerak maju. Namun, perang yang kembali pecah pada Juli justru mengguncang proses diplomasi ketika nota kesepahaman kedua negara masih berlaku.
Kesepakatan yang dimediasi Pakistan itu dijadwalkan berakhir pada 17 Agustus. Hingga mendekati tenggat tersebut, belum ada kepastian mengenai dialog langsung atau kemajuan nyata dalam penyusunan peta jalan penghentian pertempuran.
Hasil Awal yang Tertahan Konflik
Amerika Serikat dan Iran melanjutkan negosiasi di Swiss pada akhir Juni setelah mencapai MoU di Islamabad. Salah satu hasil pembicaraan itu adalah rencana pencairan aset Teheran yang selama ini dibekukan Washington.
Menurut CNN Indonesia, nilai aset yang direncanakan cair mencapai hingga S$12 miliar. Prosesnya disebut dirancang dalam dua tahap, dengan nilai masing-masing US$6 miliar.
Kedua pihak juga sepakat membentuk kelompok kerja untuk membahas isu yang selama ini menghambat hubungan mereka. Kelompok tersebut menangani pencabutan sanksi, urusan nuklir, rekonstruksi dan pembangunan ekonomi, serta pemantauan dan implementasi.
| Agenda Pembicaraan | Rencana atau Hasil Awal | Lokasi/Waktu |
|---|---|---|
| Pencairan aset Iran | Hingga S$12 miliar dalam dua tahap | Negosiasi Swiss, akhir Juni |
| Kelompok kerja | Sanksi, nuklir, ekonomi, pemantauan | Negosiasi Swiss, akhir Juni |
| Peta jalan perdamaian | Disusun dalam masa 60 hari | MoU Islamabad, 17 Juni |
Perang Kembali Pecah Saat MoU Berjalan
Di tengah periode kesepakatan, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran. Ia menyatakan ingin melenyapkan program nuklir Teheran yang dinilainya berbahaya bagi Timur Tengah dan dunia.
Amerika Serikat menggempur Iran nyaris selama dua pekan pada Juli. Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC kemudian membalas serangan tersebut, sehingga konflik antara kedua negara kembali terbuka.
Trump juga mengisyaratkan serangan dapat terus dilakukan hingga Iran menghentikan program nuklirnya. Kondisi itu menambah tekanan terhadap proses diplomasi yang baru mulai terbentuk melalui mediasi Pakistan.
Pakistan Menunggu Kepastian Dialog
MoU AS-Iran dicapai saat perundingan di Islamabad pada 17 Juni, dengan Pakistan berperan sebagai mediator. Kesepakatan itu memberi waktu 60 hari bagi kedua negara untuk menyusun peta jalan menuju penghentian pertempuran.
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri mengatakan hubungan Washington dan Teheran sulit diperbaiki dalam waktu singkat. Kedua negara telah lama tidak berkomunikasi langsung, sehingga kesediaan mereka kembali mengirim negosiator dinilai sebagai perkembangan penting.
“Dan karena kedua negara sudah begitu lama tidak saling berkomunikasi, menurut saya, kami telah mencapai banyak kemajuan dalam mempertemukan para negosiator dari kedua belah pihak,” kata Zahid seusai peringatan kemerdekaan Pakistan ke-79 di Jakarta, Jumat malam.
Berakhirnya MoU pada 17 Agustus tanpa kepastian perundingan langsung menempatkan Pakistan dalam posisi yang sulit. Meski demikian, Zahid menyatakan harapan terhadap perdamaian abadi di kawasan tetap dipertahankan.
“Kami tetap berharap dapat mewujudkan perdamaian abadi di kawasan ini,” ujar Zahid. Harapan tersebut muncul ketika hasil awal di Swiss belum mampu menghentikan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.






