Kesepakatan Amerika Serikat dan Arab Saudi dikhawatirkan menciptakan “model Saudi” yang dapat ditiru negara lain di Timur Tengah. Bagi Israel, preseden ini berpotensi memperluas risiko proliferasi nuklir di kawasan yang sudah diliputi ketegangan.
Yoel Guzansky, peneliti senior Institute for National Security Studies, menilai Israel kemungkinan tidak dapat menghentikan perjanjian tersebut sepenuhnya. Namun, ia menyebut masih ada ruang untuk mendorong penguatan mekanisme pengawasan dan inspeksi melalui Kongres.
Preseden yang Mengusik Israel
Kerja sama pengembangan nuklir sipil AS-Saudi resmi diteken pada Rabu. Detail dokumen belum diumumkan, tetapi perusahaan Amerika dilaporkan dapat berpeluang membangun proyek nuklir sipil hingga situs pengayaan uranium di Saudi.
Kemungkinan itu menjadi isu sensitif karena pengayaan uranium berkaitan dengan teknologi nuklir yang dapat memiliki dampak keamanan luas. Saudi juga dipandang sebagai salah satu rival utama Israel di kawasan.
Guzansky memperingatkan negara lain dapat memandang pengaturan tersebut sebagai contoh yang layak dituntut. Jika “model Saudi” berkembang, tekanan terhadap sistem pengendalian proliferasi di Timur Tengah dapat bertambah.
| Pihak | Peran | Kekhawatiran yang Disampaikan |
|---|---|---|
| Avigdor Liberman | Mantan Menteri Pertahanan Israel | Program sipil dapat mengarah pada senjata nuklir |
| Yair Golan | Ketua Partai Demokrat Israel | Terbentuk realitas berbahaya bagi Israel |
| Yoel Guzansky | Peneliti senior INSS | Muncul preseden kesepakatan serupa di kawasan |
Normalisasi Tidak Menjadi Imbalan
Yang membedakan kesepakatan kali ini adalah tidak adanya kemajuan normalisasi Saudi-Israel. Sejumlah pengkritik Netanyahu melihat kondisi itu sebagai keuntungan diplomatik bagi Riyadh dan kerugian bagi Israel.
Pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, isu nuklir AS-Saudi pernah dikaitkan langsung dengan peluang normalisasi. Hubungan itu berubah setelah serangan 7 Oktober 2023 dan agresi Israel yang menyusul di Jalur Gaza.
Menurut Guzansky, sikap Saudi terhadap Israel kini semakin keras. Ia menilai pemerintahan sayap kanan Israel membuat tercapainya normalisasi pada kondisi saat ini pada dasarnya tidak memungkinkan.
Oposisi Menyerang Netanyahu
Yair Golan menyebut kesepakatan tersebut menciptakan “realitas yang berbahaya” bagi Israel. Purnawirawan jenderal itu menuduh Benjamin Netanyahu menghasilkan keadaan yang sebelumnya dianggap mustahil.
“Ia sekaligus kehilangan peluang normalisasi hubungan dengan Arab Saudi dan memungkinkan negara itu memperoleh kemampuan nuklir,” ujar Golan, seperti dikutip CNN. Netanyahu sendiri belum memberikan respons resmi mengenai kerja sama tersebut.
Avigdor Liberman, pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, menyampaikan peringatan lebih keras melalui unggahan di X. Mantan Menteri Pertahanan Israel itu menilai program nuklir sipil Saudi pada akhirnya dapat bermuara pada kepemilikan senjata nuklir.
Liberman juga memperingatkan perlombaan senjata yang tidak terkendali di Timur Tengah. Kekhawatiran itu muncul dari kemungkinan infrastruktur sipil menyediakan jalur menuju kemampuan nuklir yang lebih sensitif.
Perdebatan ini berlangsung ketika ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Salah satu sasaran AS dalam konflik itu adalah melucuti senjata nuklir Iran, sehingga perjanjian dengan Saudi mendapat perhatian lebih besar dari Israel.






