Angin dan Kesalahan Beruntun Mengakhiri Langkah Raymond/Joaquin di China Open 2026

Kesalahan berulang dan ketidakmampuan mengejar selisih poin pada gim kedua mengakhiri langkah Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di China Open 2026. Mereka kalah dari Chen Bo Yang/Liu Yi dengan skor 13-21 dan 17-21 pada babak kedua.

Joaquin mengakui permainan pasangan Indonesia belum cukup bersih untuk menghadapi tekanan lawan. Ia menilai sejumlah kesalahan yang dibuatnya tidak seharusnya terjadi pada level pemain dunia.

“Tadi juga saya banyak melakukan kesalahan yang seharusnya pemain dunia tidak boleh lakukan, tapi saya berulang kali melakukannya,” tegas Joaquin. Ia mengatakan Raymond/Joaquin sempat memiliki peluang untuk kembali bersaing, tetapi perbedaan poin sudah terlalu jauh.

BabakPertandinganSkor
Babak keduaRaymond Indra/Nikolaus Joaquin vs Chen Bo Yang/Liu Yi13-21, 17-21
Status lawanChen Bo Yang/Liu YiUnggulan ketujuh

Pasangan Indonesia berupaya menaikkan kualitas permainan pada gim kedua. Namun, Chen/Liu tetap mampu menjaga jarak angka dan tidak memberi kesempatan besar bagi lawan untuk membalikkan keadaan.

Serangan Tidak Cukup Tajam Saat Kalah Angin

Raymond menyoroti faktor angin di lapangan sebagai salah satu hambatan penting dalam laga tersebut. Saat berada di posisi kalah angin, ia dan Joaquin kesulitan menghasilkan serangan yang cukup mematikan.

“Kami harus meningkatkan power dan teknik. Terasa sekali tadi, apalagi ketika posisi kalah angin, kami tidak bisa mematikan mereka,” kata Raymond.

Kondisi itu menguntungkan Chen/Liu yang mampu menjaga pertandingan dalam reli panjang. Pasangan Tiongkok tersebut memanfaatkan situasi untuk menahan serangan dan memperpanjang pertukaran pukulan.

Reli panjang tidak hanya menuntut ketahanan fisik, tetapi juga ketepatan mengambil keputusan. Raymond/Joaquin beberapa kali berada dalam posisi ragu saat harus memilih pukulan untuk keluar dari tekanan.

Bola Panjang Mengunci Respons Pasangan Indonesia

Raymond mengatakan Chen/Liu memainkan banyak bola panjang yang belum cepat mereka antisipasi. Keterlambatan membaca pola itu membuat pasangan Indonesia sulit menemukan ritme terbaiknya.

“Kami kurang siap dengan pola permainan yang mereka peragakan. Mereka banyak main panjang jadi buat kami ragu-ragu,” ujar Raymond setelah pertandingan.

Ketika respons mulai dibangun, Chen/Liu sudah terlebih dahulu memegang kendali tempo. Pola permainan lawan juga membuat Raymond/Joaquin tidak banyak memiliki ruang untuk membangun serangan cepat.

Joaquin menyebut persiapan menuju pertandingan telah mencakup strategi dan mental. Akan tetapi, kondisi nyata di lapangan tetap menghadirkan dinamika yang tidak bisa sepenuhnya dipastikan sebelumnya.

“Pastinya tadi persiapan sudah dilakukan, secara strategi maupun mental. Tapi memang kita tidak pernah tahu di lapangan akan seperti apa,” tutur Joaquin.

Hasil di Changzhou menjadi evaluasi bagi Raymond/Joaquin dalam menghadapi pasangan elite dunia. Mereka perlu memperkuat fisik, meningkatkan variasi teknik, dan menjaga ketenangan agar serangan tetap berkualitas selama reli panjang.

Perbaikan tersebut juga penting untuk menghadapi perubahan kondisi lapangan, termasuk saat harus bermain dalam posisi kalah angin. Tantangan itu akan menjadi bagian dari persiapan mereka sebelum tampil pada turnamen BWF berikutnya.

Baca Juga