Gaji yang diterima setiap bulan belum tentu menggambarkan kekuatan ekonomi sebuah rumah tangga. Anggaran dapat tetap tertekan apabila keluarga sulit memiliki hunian layak, dana cadangan, atau akses pendidikan yang memadai.
Tekanan tersebut terlihat dari seberapa besar kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pokok dan menghadapi pengeluaran di luar rencana. Karena itu, kondisi ekonomi perlu dibaca lebih luas daripada sekadar membandingkan nominal penghasilan.
5 Ciri yang Perlu Dilihat Bersama
| No. | Ciri | Indikasi Anggaran |
|---|---|---|
| 1 | Hunian tidak layak | Biaya rumah membatasi kebutuhan lain. |
| 2 | Upah rendah dan manfaat minim | Pendapatan serta perlindungan kerja terbatas. |
| 3 | Tanpa tabungan atau investasi | Cadangan keuangan jangka pendek dan panjang tidak tersedia. |
| 4 | Belanja non-esensial sulit dilakukan | Hiburan atau liburan harus dihitung sangat ketat. |
| 5 | Pendidikan tinggi sulit diakses | Biaya dan akses menghambat peluang ekonomi. |
1. Tempat Tinggal Menyerap Banyak Pengeluaran
Rumah yang aman, nyaman, dan berada di lingkungan layak dapat sulit diperoleh oleh sebagian rumah tangga. Ketika biaya hunian mengambil porsi besar dari pendapatan, dana untuk kesehatan, transportasi, dan pendidikan menjadi lebih terbatas.
Kondisi itu juga dapat mengurangi kemampuan keluarga menangani kebutuhan mendadak. Semakin kecil sisa anggaran setelah membayar kebutuhan dasar, semakin besar pula risiko keuangan yang harus dihadapi.
2. Pekerjaan Berupah Rendah Memiliki Keterbatasan
Pekerjaan seperti pelayan restoran, sopir truk, pegawai ritel, pekerja manufaktur, dan petugas kebersihan umumnya memberikan pendapatan lebih rendah dibandingkan posisi manajerial atau spesialis. Perlindungan serta manfaat kerja yang minim dapat memperberat tekanan terhadap rumah tangga.
CEO Salarship Nathan Brunner menyebut posisi manajerial atau pekerjaan spesialis sebagai salah satu gambaran kelas menengah. Akan tetapi, guru, perawat, akuntan, maupun pekerja teknologi informasi tetap dapat memiliki kondisi ekonomi berbeda karena faktor pengalaman, keahlian, sertifikasi, lokasi kerja, dan penghasilan.
3. Tidak Ada Bantalan untuk Masa Sulit
Dana cadangan melalui tabungan dan investasi membantu keluarga menghadapi keadaan darurat serta menyusun rencana jangka panjang. Menabung menjadi sulit ketika pendapatan hanya cukup untuk membayar kebutuhan sehari-hari.
Ketiadaan dana darurat, tabungan jangka panjang, atau persiapan pensiun dapat menandakan kondisi yang rentan. Rumah tangga dalam situasi ini lebih mudah terguncang ketika muncul pengeluaran yang tidak direncanakan.
4. Rekreasi Menjadi Pos yang Sulit Dijangkau
Makan di luar, menikmati hiburan, berlibur, atau membeli barang baru adalah pengeluaran yang dapat menunjukkan fleksibilitas anggaran. Bila pos tersebut selalu harus dipertimbangkan sangat ketat, kemampuan belanja keluarga di luar kebutuhan pokok kemungkinan terbatas.
Namun, gaya hidup tidak dapat dijadikan dasar tunggal untuk mengukur kondisi ekonomi. Pengelolaan anggaran yang disiplin memungkinkan orang berpendapatan terbatas tetap menikmati hiburan atau liburan tertentu.
5. Pendidikan Tinggi Tidak Mudah Dibiayai
Biaya pendidikan tinggi dan keterbatasan akses dapat menjadi hambatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Padahal, pendidikan tinggi sering dikaitkan dengan peluang kerja yang lebih baik dan jenjang karier yang lebih luas.
CNBC Indonesia yang mengutip GoBankingRates menyatakan lima ciri ini bukan label mutlak bagi seseorang. Pendapatan, tanggungan keluarga, aset, utang, biaya hidup, lokasi tempat tinggal, serta layanan publik harus dipertimbangkan untuk melihat kondisi rumah tangga secara menyeluruh.
Pemerintah terus menjalankan program untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyinggung capaian Indonesia dalam menekan kemiskinan ekstrem dalam pidatonya di World Economic Forum di Davos, Swiss.






