35 Tahun ASEAN-China, Indonesia Minta Kemitraan Besar Lebih Tahan Guncangan

Memasuki 35 tahun Hubungan Kemitraan Wicara ASEAN-China, Indonesia meminta kerja sama yang besar secara ekonomi juga lebih siap menghadapi guncangan global. Menteri Luar Negeri RI Sugiono menekankan kemitraan harus memberi perlindungan yang lebih kuat bagi masyarakat, pelaku usaha, dan rantai pasok.

Pesan tersebut memperluas ukuran keberhasilan hubungan ASEAN-China. Nilai perdagangan yang tinggi dinilai belum memadai jika manfaatnya belum menjangkau kelompok di luar pusat-pusat pertumbuhan.

Manfaat Nyata Menjadi Tuntutan Indonesia

Sugiono menyampaikan posisi Indonesia dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN dan China di Manila, Filipina, Rabu (22/7). Menurut rilis Kementerian Luar Negeri RI yang dikutip CNN Indonesia, Indonesia mendorong kemitraan yang lebih praktis untuk menjawab tantangan masa depan.

“Besarnya skala hubungan kedua pihak perlu diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat, ketangguhan rantai pasok, dan kemampuan kawasan menghadapi berbagai guncangan,” ujar Sugiono. Pernyataan itu menegaskan bahwa pemerataan manfaat menjadi perhatian di samping ekspansi perdagangan.

Hubungan ekonomi ASEAN-China telah memiliki skala yang besar. Pada 2024, perdagangan kedua pihak mencapai USD 772,4 miliar atau sekitar seperlima dari total perdagangan ASEAN.

Ukuran hubungan ASEAN-ChinaData
Usia Kemitraan Wicara35 tahun
Nilai perdagangan pada 2024USD 772,4 miliar
Porsi terhadap perdagangan ASEANSekitar seperlima

Data itu menunjukkan tingkat keterhubungan ekonomi yang kuat antara ASEAN dan China. Namun Indonesia menilai skala perdagangan perlu diikuti ketahanan yang lebih baik ketika kondisi global berubah.

RCEP dan ACFTA untuk Integrasi yang Lebih Siap

Indonesia mendorong penguatan Regional Comprehensive Economic Partnership atau RCEP dalam hubungan ekonomi kawasan. ASEAN-China Free Trade Area atau ACFTA juga dinilai perlu terus diperdalam untuk memperkuat integrasi.

RCEP dan ACFTA diposisikan sebagai instrumen untuk membuat kerja sama ekonomi lebih siap menghadapi tekanan eksternal. Arah tersebut menempatkan ketangguhan rantai pasok sebagai perhatian yang setara dengan pertumbuhan perdagangan.

Penguatan integrasi juga diharapkan membantu manfaat ekonomi menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat. Indonesia memandang kerja sama regional perlu memberikan hasil yang terasa langsung, bukan hanya tercermin dalam angka perdagangan.

Stabilitas Laut Menopang Ekonomi Kawasan

Sugiono turut menyoroti pentingnya Sentralitas ASEAN di tengah meningkatnya rivalitas. Indonesia memandang prinsip itu perlu menjadi landasan untuk menjaga stabilitas kawasan, termasuk dalam kerja sama maritim.

Perairan kawasan berperan sebagai jalur perdagangan dan konektivitas masyarakat. Wilayah maritim tersebut juga terkait langsung dengan ketahanan energi dan pangan negara-negara di kawasan.

Indonesia kembali mendorong penyelesaian Code of Conduct atau CoC di Laut Tiongkok Selatan pada tahun ini. Kesepakatan itu diharapkan efektif, substantif, dan berlandaskan hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982.

Bagi Indonesia, agenda ekonomi dan keamanan kawasan saling berkaitan. Kemitraan ASEAN-China yang telah berjalan 35 tahun diharapkan tidak hanya besar secara nilai, tetapi juga mampu menopang stabilitas dan daya tahan regional.

Baca Juga