Veda Ega Pratama menutup paruh pertama musim debut Moto3 2026 di peringkat keenam klasemen dengan koleksi 90 poin dari 11 seri. Catatan itu memperlihatkan potensi besar pebalap 17 tahun tersebut, sekaligus menjelaskan mengapa ia kini memilih pendekatan yang lebih terukur.
Setelah dua kali gagal finis saat memiliki kecepatan bersaing, Veda tidak ingin lagi menjadikan podium sebagai satu-satunya tujuan. Prioritasnya bergeser pada poin, data balapan, dan kemampuan menyelesaikan setiap perlombaan.
Dua Podium Mengangkat Standar Musim Debut
Veda memulai musim dengan target untuk berada di kelompok sepuluh besar. Hasil posisi kelima di Thailand kemudian memberi keyakinan bahwa ia dapat bertarung dengan pebalap depan.
Keyakinan itu berlanjut melalui podium ketiga di Brasil dan Perancis. Podium di Perancis diraih dalam balapan basah, sedangkan sejumlah seri lain juga menghasilkan posisi lima besar.
| Seri | Hasil Veda | Keterangan |
|---|---|---|
| Thailand | Posisi ke-5 | Hasil awal musim |
| Brasil | Posisi ke-3 | Podium pertama |
| Perancis | Posisi ke-3 | Kondisi lintasan basah |
| Brno | Posisi ke-5 | Memulai dari posisi ke-20 |
| Assen | Gagal finis | Terjatuh saat nyaman dengan motor |
Rangkaian hasil tersebut menunjukkan bahwa Veda sudah dapat tampil kompetitif dalam berbagai situasi. Namun, perkembangan seorang pebalap tidak hanya diukur dari kecepatan satu putaran atau peluang menembus podium.
Data Telemetri Menunjukkan Titik yang Harus Diperbaiki
Kecelakaan di Amerika dan Belanda menjadi titik evaluasi penting bagi Veda dan Honda Team Asia. Pada kedua akhir pekan tersebut, ia merasakan motor bekerja sangat baik sejak sesi latihan.
Hasil pembacaan telemetri menunjukkan Veda terlalu agresif ketika membuka gas di keluar tikungan. Kondisi motor yang terasa nyaman membuat batas kendali kian sempit ketika persaingan grup depan berlangsung ketat.
Veda memandang kegagalan finis sebagai kerugian besar karena tidak ada poin dan data balapan yang dapat dibawa pulang. Pengalaman dari latihan serta kualifikasi dinilainya belum cukup untuk menggantikan pelajaran yang diperoleh sepanjang lomba.
“Yang harus diperbaiki, saya fokus untuk finis di setiap balapan karena saya merasa kalau tidak finis, apalagi masih di awal balapan tidak finis karena kecelakaan, saya merasa seperti tidak ada yang saya raih,” ujar Veda.
Penalti Menambah Bahan Pembelajaran
Tantangan Veda tidak hanya datang dari kecelakaan. Di Balaton Park, Hongaria, ia menerima long lap penalty karena berkendara terlalu pelan saat kualifikasi dan akhirnya finis di posisi ke-16.
Hukuman itu berdampak langsung terhadap peluangnya dalam balapan. Situasi tersebut menegaskan pentingnya menjaga fokus dan presisi pada seluruh rangkaian akhir pekan.
Menurut Kompas.id, perjalanan Veda pada 11 seri awal diwarnai hasil yang berubah-ubah. Ada seri saat ia cepat sejak Jumat, tetapi ada pula akhir pekan ketika ia harus mengatasi masalah performa atau konsekuensi penalti.
Brno Memperlihatkan Kemampuan Beradaptasi
Brno menjadi salah satu hasil paling menonjol karena Veda melaju dari posisi ke-20 hingga finis kelima. Lintasan itu dinilai kurang cocok dengan karakter Honda NSF250RW, tetapi tim menemukan kompromi setelan yang membuatnya tetap kompetitif.
Di tengah dominasi pebalap KTM pada barisan depan, Veda menjadi satu-satunya pebalap Honda yang berada di enam besar. Hasil itu memperlihatkan kemampuannya menyesuaikan diri tanpa harus mengandalkan trek yang sepenuhnya menguntungkan.
Fokus baru Veda tidak mengurangi ambisinya untuk kembali bertarung di depan. Ia ingin mengamankan poin lebih dahulu, lalu memanfaatkan peluang podium bila situasi balapan benar-benar memungkinkan.
Setiap finis akan menjadi bekal untuk memahami batas motor dan membangun konsistensi. Dengan cara itu, Veda berharap dapat tampil lebih presisi dalam kelanjutan musim bersama Honda Team Asia.






