Gen Z kian sering dipandang sebagai kelompok yang lebih sadar terhadap dampak kebiasaan harian pada kesehatan. Salah satu penandanya adalah sekitar satu dari tiga responden Gen Z yang memilih tidak minum alkohol karena mempertimbangkan dampaknya bagi tubuh.
Kecenderungan tersebut tidak berdiri sendiri. Perubahan juga tampak pada rutinitas olahraga, penggunaan teknologi kesehatan, pilihan makanan, pola tidur, dan perhatian terhadap kebutuhan psikologis.
1. Membatasi Alkohol dan Menjauhi Rokok Tembakau
Henry Ford Health mencatat Gen Z memiliki tingkat merokok yang lebih rendah serta lebih jarang mengonsumsi alkohol dibanding generasi lain. Kondisi ini berlawanan dengan situasi dua dekade lalu, saat kelompok usia 18 hingga 35 tahun tercatat sebagai peminum alkohol terbanyak.
Saat ini, konsumsi alkohol tertinggi berada pada kelompok usia 35 hingga 54 tahun. Bagi sebagian Gen Z, pilihan minuman ketika bersosialisasi juga mulai bergeser ke soda prebiotik dan minuman elektrolit.
Ada pula kebiasaan zebra striping, yakni menyelingi minuman beralkohol dengan minuman tanpa alkohol dalam satu acara. Pola tersebut dapat menjadi cara membatasi asupan alkohol, walau tidak selalu berarti berhenti minum secara keseluruhan.
Meski penggunaan rokok tembakau menurun, risiko lain tetap perlu diperhatikan. Dokter Nour Alkhoudr dari Henry Ford Health mengingatkan bahwa penggunaan vape masih cukup umum pada Gen Z dan dapat berisiko bagi kesehatan paru-paru.
2. Perawatan Diri Tidak Hanya Berpusat pada Penampilan
Gen Z disebut lebih rutin mendatangi gym dan melakukan olahraga dibanding generasi terdahulu pada usia yang sama. Statista turut menempatkan kelompok ini sebagai generasi yang lebih rajin berolahraga secara teratur dibanding kelompok generasi lain.
Aktivitas tersebut sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap perawatan diri. True Health mencatat Gen Z meluangkan waktu hampir satu jam lebih banyak setiap minggu untuk perawatan diri dibanding Baby Boomer dan Gen X.
Bentuk perawatan diri dapat berupa olahraga pagi maupun waktu khusus untuk kebutuhan psikologis. Dengan demikian, rutinitas aktif tidak selalu dimaknai sebagai upaya mengejar penampilan, tetapi juga bagian dari menjaga kondisi mental.
Pemakaian teknologi ikut mendukung kebiasaan tersebut melalui aplikasi kebugaran, video olahraga siaran daring, dan perangkat yang dapat dikenakan. Sebanyak 66% Gen Z menggunakan aplikasi kebugaran atau pelacak kesehatan untuk memantau aktivitas dan kondisi tubuh.
| Bidang perhatian | Data Gen Z | Catatan |
|---|---|---|
| Aplikasi kebugaran | 66% | Memakai aplikasi atau pelacak kesehatan |
| Pola tidur | 37% | Berupaya memperbaikinya dalam setahun terakhir |
| Intensitas olahraga | 35% | Berupaya meningkatkannya dalam setahun terakhir |
Pelacak kesehatan dapat membantu pengguna mencatat perkembangan rutinitas sehari-hari. Namun, hasil pemantauan perangkat tidak dapat menggantikan bantuan profesional ketika terdapat keluhan medis.
3. Memilih Makanan dengan Pertimbangan Kesehatan dan Keberlanjutan
Pola makan menjadi bagian penting dari perubahan gaya hidup Gen Z. Riset Glanbia Nutrition menunjukkan mereka mempertimbangkan bahan alami saat membeli makanan atau minuman yang dipandang sehat.
Gen Z juga disebut lebih memberi perhatian pada keberlanjutan serta isu etis dan sosial di balik produk yang dikonsumsi. Pertimbangan tersebut membuat pilihan pangan tidak hanya ditentukan oleh rasa dan kepraktisan.
True Health mencatat 65% Gen Z ingin menerapkan pola makan yang lebih banyak mengutamakan pangan nabati. Dari kelompok itu, 80% memilih tidak makan daging sedikitnya satu hari dalam seminggu.
Dalam setahun terakhir, 27% Gen Z juga berupaya mengubah pola makan dan nutrisi. Perubahan di berbagai bidang ini memperkuat gambaran tentang perhatian mereka terhadap kesehatan, meski kebiasaan seperti vape tetap menjadi tantangan yang tidak boleh diabaikan.






