Tak Perlu Jadi Ekstrovert, 3 Cara Membuka Percakapan yang Lebih Bermakna

Keinginan membangun relasi tidak selalu harus dimulai dengan obrolan panjang atau pribadi yang sangat ekstrovert. Ketertarikan tulus terhadap pengalaman orang lain dapat menjadi cara yang lebih sederhana untuk membuka percakapan.

Perhatian terhadap jawaban lawan bicara menjadi unsur penting setelah sebuah pertanyaan diajukan. Dari respons itu, seseorang dapat menemukan minat bersama, rekomendasi, atau kegiatan yang mungkin dilakukan berdua.

Anna Goldfarb, pakar persahabatan yang menulis buku Modern Friendship: How to Nurture Our Most Valued Connections, menyarankan pertanyaan yang membuat percakapan terus bergerak. Gagasannya dimuat dalam tulisan di CNBC Make It mengenai cara membuka peluang pertemanan baru.

Ringkasan 3 Kalimat Pembuka

No.KalimatManfaat dalam Percakapan
1Aku mau [sebutkan aktivitas] weekend ini. Kamu mau ikut?Menciptakan tujuan pertemuan
2Apa hobi kamu? Ada tips buat orang yang baru mau coba?Menggali minat dan pengalaman
3Apa yang ingin kamu coba, tapi belum sempat lakukan?Mengenali rencana atau keinginan

1. “Aku mau [sebutkan aktivitas] weekend ini. Kamu mau ikut?”

Ajakan kegiatan bersama memberi arah yang lebih jelas daripada sekadar menyatakan keinginan untuk mengenal seseorang. Lawan bicara dapat menilai aktivitasnya dan memutuskan apakah ingin bergabung.

Olahraga bersama, mengikuti lokakarya, atau mencoba tempat kuliner dapat digunakan sebagai pilihan aktivitas. Kegiatan tersebut tidak harus rumit maupun mahal untuk menciptakan pengalaman yang sama.

Tujuan pertemuan yang konkret membantu percakapan berlangsung lebih santai. Perhatian dua orang tidak hanya tertuju pada upaya mencari bahan obrolan, tetapi juga pada kegiatan yang sedang dilakukan.

Apabila ajakan belum bisa dipenuhi, percakapan tetap dapat diteruskan melalui aktivitas yang telah disebutkan. Situasi ini memberi pilihan tanpa menempatkan lawan bicara dalam tekanan.

2. “Apa hobi kamu? Ada tips buat orang yang baru mau coba?”

Pertanyaan mengenai hobi dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal minat seseorang. Banyak orang cenderung lebih antusias ketika membicarakan kegiatan yang mereka sukai.

Meminta tips bagi pemula membuat pertanyaan tersebut terasa lebih spesifik dan menunjukkan ketertarikan nyata. Orang yang diajak bicara dapat menjelaskan pengalaman atau pengetahuan yang relevan.

Rekomendasi seputar film, musik, atau buku dapat dipakai sebagai jembatan untuk melanjutkan obrolan. Setelah rekomendasi dicoba, respons atas pengalaman itu dapat dibicarakan kembali.

Kelanjutan seperti ini membuat interaksi tidak berhenti pada pertemuan pertama. Percakapan memiliki bahan baru karena salah satu pihak telah mencoba saran yang diberikan.

3. “Apa yang ingin kamu coba, tapi belum sempat lakukan?”

Pertanyaan ketiga dapat mengungkap hal yang ingin dilakukan seseorang, meski belum terwujud. Topik ini sedikit lebih personal, tetapi masih pantas digunakan saat baru berkenalan.

Jawaban yang muncul dapat berbeda pada setiap orang dan memberi warna tersendiri bagi percakapan. Perbedaan itu dapat membantu dua orang saling memahami minat serta rencana masing-masing.

Dalam kondisi yang sesuai, jawaban tersebut dapat menjadi titik temu untuk melakukan sesuatu bersama. Membantu mewujudkan rencana dapat menambah pengalaman bersama yang memperkuat hubungan.

Keterampilan sosial bukan hanya soal menghafal banyak kalimat pembuka. Kemampuan memberi perhatian pada jawaban dan menindaklanjutinya secara relevan dapat membuat percakapan sederhana terasa lebih bermakna.

Baca Juga