Warga Bali kini memiliki 20 titik untuk menyetorkan botol PET bekas melalui gerai M Mart. Titik pengumpulan ini menjadi bagian dari program Recycle Me yang ditujukan agar kemasan pascakonsumsi tidak berhenti sebagai sampah.
Program tersebut dijalankan Coca-Cola System di Indonesia bersama pengelola jaringan ritel M Mart. Kehadiran gerai sebagai lokasi setor membuat pengembalian botol dapat dilakukan lebih dekat dengan kegiatan belanja masyarakat.
Botol Dikumpulkan hingga Diolah Kembali
Botol PET yang diserahkan konsumen akan masuk ke rantai pengelolaan yang melibatkan beberapa pihak. Mahija Parahita Nusantara bertugas mengelola botol yang telah terkumpul sebelum materialnya diproses lebih lanjut oleh Amandina Bumi Nusantara.
Target akhir proses ini adalah menghasilkan rPET grade makanan. Material tersebut diharapkan memberi kehidupan kedua bagi botol plastik melalui sistem daur ulang, alih-alih berakhir di tempat pembuangan akhir.
| Tahap Pengelolaan | Pihak Terlibat |
|---|---|
| Setor botol PET pascakonsumsi | Masyarakat dan gerai M Mart |
| Pengelolaan botol terkumpul | Mahija Parahita Nusantara |
| Pengolahan menjadi rPET grade makanan | Amandina Bumi Nusantara |
Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia Dhedy Adi Nugroho menilai akses pengumpulan yang mudah menjadi unsur penting bagi sistem daur ulang yang efisien. Titik setor yang berada dekat dengan konsumen dinilai dapat membuat pengembalian kemasan menjadi lebih praktis.
“Melalui ‘Recycle Me’, kami ingin membuat pengembalian kemasan menjadi lebih mudah dan praktis bagi konsumen, sekaligus memastikan botol yang terkumpul dapat memiliki kehidupan kedua melalui proses daur ulang,” ujar Dhedy Adi Nugroho. Pernyataan itu dikutip Investor Daily dalam pemberitaan pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Peritel Menjadi Penghubung Konsumen dan Daur Ulang
Gerai ritel mengambil peran sebagai penghubung langsung antara konsumen dan pengelolaan kemasan bekas. Model ini menempatkan pemilahan sampah sejak dari sumbernya, yakni ketika produk sudah selesai digunakan oleh masyarakat.
Menurut Dhedy, ekonomi sirkular tidak cukup dibangun pada tahap pengolahan plastik saja. Sistem tersebut juga mencakup desain dan produksi kemasan, pengumpulan setelah digunakan, daur ulang, hingga penggunaan kembali material.
“Membangun ekonomi sirkular membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari desain dan produksi kemasan, pengumpulan pascakonsumsi, hingga proses daur ulang dan penggunaan kembali,” kata Dhedy. Karena itu, ketersediaan titik pengumpulan merupakan satu bagian dari rangkaian pengelolaan kemasan yang lebih panjang.
Tantangan Sampah yang Dihadapi Bali
Program pengumpulan botol ini hadir di tengah besarnya persoalan sampah di Bali. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sampah di provinsi tersebut mencapai 1,25 juta ton per tahun, atau sekitar 3.436 ton setiap hari.
| Indikator | Data di Bali |
|---|---|
| Timbulan sampah per tahun | 1,25 juta ton |
| Timbulan sampah per hari | Sekitar 3.436 ton |
| Porsi sampah plastik | Lebih dari 17 persen |
Sampah plastik menyumbang lebih dari 17 persen dari total timbulan sampah tersebut. Kondisi ini membuat upaya pengumpulan kemasan plastik pascakonsumsi menjadi relevan untuk menekan material yang tidak terkelola.
Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali I Made Dwi Arbani menyatakan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Ia menekankan perlunya solusi berkelanjutan yang dijalankan melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, pengelola sampah, peritel, dan masyarakat.
“Bali saat ini menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang cukup besar sehingga membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk menghadirkan solusi yang berkelanjutan,” ujar I Made Dwi Arbani. Keberhasilan titik setor di 20 gerai M Mart akan bergantung pada partisipasi warga, kelancaran pengangkutan, serta kepastian botol terkumpul masuk ke fasilitas pengolahan.






