Zankore Berpotensi Tambah Laba ISAT Rp1,4 Triliun, Namun Beban AI Factory Tak Ringan

Bisnis AI Factory Zankore berpotensi memberi tambahan bagian laba sekitar Rp1,4 triliun per tahun kepada Indosat mulai tahun buku 2028. Proyeksi ini menjadi salah satu alasan pasar menaruh perhatian pada ekspansi Indosat ke layanan komputasi kecerdasan buatan.

Namun, peluang tersebut datang bersama kebutuhan investasi yang sangat besar. Biaya GPU, pembangunan pusat data, depresiasi aset, serta beban bunga dapat menentukan apakah pendapatan besar itu benar-benar berubah menjadi laba bersih.

Proyeksi Pendapatan dan Bagian Indosat

Riset Mirae Asset Sekuritas yang dikutip mikirduit.com memperkirakan Zankore membidik pendapatan US$13 miliar dan EBITDA kumulatif sekitar US$9 miliar dalam lima tahun. Dalam proyeksi yang sama, bisnis tersebut diperkirakan mencatat pendapatan US$2,9 miliar, EBITDA US$2 miliar, dan laba bersih US$1,1 miliar.

Indosat memiliki asumsi kepemilikan 30 persen dalam proyek tersebut. Dengan porsi itu, kontribusi Zankore terhadap ekuitas Indosat diperkirakan mencapai Rp8,8 triliun.

IndikatorProyeksi ZankoreDampak untuk ISAT
PendapatanUS$2,9 miliarBagian laba mulai 2028
EBITDAUS$2 miliarAsumsi kepemilikan 30 persen
Laba bersihUS$1,1 miliarSekitar Rp1,4 triliun per tahun

Saham ISAT naik 15 persen dalam sepekan setelah Zankore by Indosat diluncurkan pada 6 Agustus 2026. Kenaikan ini mencerminkan harapan investor bahwa bisnis komputasi AI dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi operator telekomunikasi tersebut.

Modal Besar untuk Kapasitas 200 MW

Zankore dirancang sebagai AI Factory, yaitu infrastruktur terintegrasi yang mengolah data mentah menjadi produk dan layanan berbasis kecerdasan buatan. Indosat mengembangkan fasilitas ini bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia untuk menyasar kebutuhan komputasi AI di kawasan Asia-Pasifik.

Tahap awal proyek menyiapkan kapasitas AI sekitar 200 MW dengan sistem NVIDIA GB300 NVL72. Fasilitas awal itu ditargetkan rampung pada semester I/2027, sebelum kapasitasnya dikembangkan menuju 1 GW sebagai NVIDIA DSX AI Factory.

Kapasitas efektif komputasi diproyeksikan mencapai 180 MW. Dengan kebutuhan listrik 135 kW untuk setiap rak GB300 NVL72, fasilitas awal dapat menampung sekitar 1.333 rak atau sekitar 96.000 GPU.

KomponenTahap AwalTarget Pengembangan
Kapasitas AI200 MW1 GW
Sistem utamaNVIDIA GB300 NVL72NVIDIA DSX AI Factory
Jadwal fasilitas awalSemester I/2027Tidak disebutkan

Kebutuhan belanja modal proyek diperkirakan mencapai US$5,9 miliar. Sekitar 90 persen dari nilai itu dialokasikan untuk critical IT load sekitar 200 MW.

Dengan asumsi harga US$3,85 juta per rak, kebutuhan modal GPU diperkirakan menyentuh US$5,1 miliar. Setelah memasukkan porsi 15 persen untuk jaringan, penyimpanan data, dan fit-out, biaya proyek diperkirakan berada di kisaran US$29,5 juta per MW.

Depresiasi dan Pembiayaan Menjadi Ujian

Besarnya EBITDA tidak selalu menjamin laba bersih yang kuat dalam bisnis AI Factory. Contoh yang digunakan dalam analisis adalah CoreWeave, operator AI Factory berkapasitas sekitar 1,5 GW yang melantai di Nasdaq pada Maret 2025.

Pada kuartal II/2026, CoreWeave membukukan pendapatan US$2,58 miliar dan adjusted EBITDA US$1,51 miliar. Meski pendapatannya tumbuh 112 persen dan EBITDA naik 101 persen, perusahaan itu masih mencatat rugi bersih US$626 juta.

IndikatorZankoreCoreWeave Kuartal II/2026
Kapasitas200 MW tahap awal1,5 GW
PendapatanProyeksi US$2,9 miliarUS$2,58 miliar
Laba bersihProyeksi US$1,1 miliarRugi US$626 juta

Tekanan CoreWeave terutama berasal dari depresiasi aset dan beban bunga, bukan hanya biaya operasional. Risiko serupa perlu diperhatikan Zankore karena AI Factory membutuhkan GPU, server, jaringan, penyimpanan, liquid cooling, rak, dan infrastruktur pusat data bernilai tinggi.

Indosat memiliki dukungan suntikan modal US$800 juta dari Ooredoo. Meski demikian, realisasi permintaan komputasi, disiplin belanja modal, dan struktur pembiayaan akan menentukan apakah optimisme terhadap Zankore dapat terwujud dalam kinerja ISAT.

Baca Juga