Keberhasilan Uzbekistan dan Yordania menembus Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki pekerjaan besar menuju 2030. Dua negara debutan itu membuktikan bahwa kontinuitas sistem dapat menjadi modal penting dalam persaingan sepak bola Asia.
Indonesia memiliki populasi sekitar 280 juta jiwa dan basis pendukung yang besar. Namun, modal tersebut belum membawa Timnas Indonesia ke putaran final Piala Dunia sebagai negara merdeka.
Uzbekistan akhirnya lolos setelah puluhan tahun sejak merdeka pada 1991. Yordania menyusul dengan kelolosan pada percobaan kesembilan menuju Piala Dunia.
| Negara | Status Piala Dunia 2026 | Perubahan Pelatih |
|---|---|---|
| Uzbekistan | Debutan | Timur Kapadze menggantikan Sreko Katanec karena alasan kesehatan |
| Yordania | Debutan | Jamal Sellami menggantikan Hussein Ammouta pada pertengahan 2024 |
Pergantian pelatih tidak menghentikan arah kerja Uzbekistan dan Yordania. Kedua tim menjaga kesinambungan staf serta sistem taktis, sehingga identitas permainan tidak harus disusun ulang.
Pelajaran tersebut relevan bagi Indonesia yang mengalami perubahan pelatih kepala dalam waktu singkat. Sejak awal 2025, posisi itu berpindah dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert, kemudian kepada John Herdman pada awal Januari 2026.
Risiko Memulai Ulang
Patrick Kluivert diberhentikan empat hari setelah pertandingan terakhir kualifikasi Piala Dunia 2026. Pencarian pelatih penggantinya berlangsung sekitar dua setengah bulan sebelum PSSI menunjuk Herdman.
Pergantian berulang dapat membuat adaptasi staf dan pemain kembali berjalan dari tahap awal. Kondisi itu juga berisiko mengubah pendekatan permainan ketika tim seharusnya membangun kebiasaan taktis yang lebih matang.
Menurut sorotan bola.kompas.com, naturalisasi pemain diaspora dapat meningkatkan kualitas tim dalam waktu singkat. Hasilnya akan lebih berkelanjutan apabila pemain dapat masuk ke sistem kepelatihan yang konsisten sepanjang siklus kualifikasi.
Koordinasi dengan klub-klub Eropa tempat pemain diaspora bermain diperlukan agar integrasi tidak hanya terjadi menjelang laga penting. PSSI juga perlu memberi perhatian pada kompetisi usia muda dan peningkatan kualitas Liga 1.
Peluang Ada, Persaingan Tetap Ketat
Format Piala Dunia 2026 yang diperluas menjadi 48 peserta membuat jatah Asia meningkat menjadi 8,5 slot. Delapan tim berhak lolos langsung, sedangkan satu tim lain dapat mengejar tempat melalui play-off antarkonfederasi.
Meski demikian, Indonesia gagal melewati putaran keempat kualifikasi zona Asia pada Oktober 2025. Garuda kalah 2-3 dari Arab Saudi dan 0-1 dari Irak, hasil yang memperlihatkan jarak kompetitif yang masih perlu dikejar.
Indonesia belum pernah tampil di Piala Dunia FIFA sebagai negara merdeka. Catatan Hindia Belanda pada Piala Dunia 1938 tidak dapat disamakan dengan perjalanan tim nasional Indonesia saat ini.
Usulan penambahan peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim masih dalam kajian FIFA. Kepastian format turnamen itu belum ada, sehingga target realistis Indonesia tetap membangun kemampuan untuk merebut tiket melalui kualifikasi.
Piala AFF Menjadi Pengukur Awal
John Herdman akan memulai ujian melalui Piala AFF 2026 yang mulai bergulir pekan ini. Indonesia dijadwalkan melawan Kamboja di Stadion Pakansari pada 27 Juli dalam pertandingan pembuka.
Piala AFF bukan sasaran utama perjalanan ke Piala Dunia 2030, tetapi turnamen ini dapat menunjukkan perkembangan organisasi tim dan pola permainan. Indonesia telah enam kali menjadi runner-up tanpa pernah menjadi juara, sehingga ajang tersebut juga menghadirkan tuntutan pembuktian bagi skuad baru.






