Alex Eala akan menghadapi Amanda Anisimova, pemain peringkat 10 dunia, pada babak ketiga Cincinnati Open 2026. Pertandingan itu hadir saat petenis Filipina tersebut sedang membawa rangkaian hasil kuat dari Washington DC dan Toronto.
Greg Rusedski menilai duel melawan Anisimova sebagai laga besar yang pantas dinantikan. Mantan petenis peringkat empat dunia itu juga percaya Eala memiliki mental serta pengelolaan jadwal yang mendukung langkahnya di level tertinggi.
Ujian Besar di Cincinnati
Eala mencapai babak ketiga Cincinnati setelah Elena-Gabriela Ruse mengundurkan diri akibat cedera. Ketika laga berakhir, Ruse tertinggal 1-6, 0-3.
Hasil itu membuka peluang bagi Eala untuk berhadapan dengan Anisimova dalam pertandingan yang lebih berat. Rusedski melihat pertandingan tersebut sebagai kelanjutan yang menarik dari perkembangan Eala selama rangkaian lapangan keras Amerika Utara.
“Saya sangat terkesan dengan Eala. Tidak sabar melihatnya bertanding melawan Anisimova — itu adalah laga besar,” kata Rusedski. Ia menilai gelar yang diraih Eala sebelumnya menunjukkan kemampuannya menghadapi undian yang tidak mudah.
Gelar Pertama dan Lonjakan Peringkat
Eala merebut gelar WTA Tour pertamanya di Washington DC sebelum melanjutkan performa baik di Toronto. Ia mencapai babak kelima di Toronto dan kemudian menembus peringkat 20 dunia.
| Rangkaian Turnamen | Pencapaian Eala |
|---|---|
| Washington DC | Meraih gelar WTA Tour pertama |
| Toronto | Melaju ke babak kelima |
| Cincinnati Open 2026 | Melangkah ke babak ketiga |
Rusedski menilai titel di Washington menjadi bukti bahwa Eala dapat melewati tantangan berat dalam sebuah turnamen. Karena itu, ia tidak memandang jalur Eala di Cincinnati sebagai situasi yang perlu dikhawatirkan berlebihan.
Rusedski Memuji Keteguhan Eala
Perhatian Rusedski tidak hanya tertuju pada hasil pertandingan. Dalam siniar Off Court With Greg Rusedski, ia memuji kesediaan Eala untuk tetap berkompetisi dari satu turnamen ke turnamen berikutnya.
“Dia tidak punya alasan. Dia tampil, jika dia menang; dia menang, jika dia kalah; dia kalah. Tanpa alasan, saya memberikan 110%. Sikap itu ada di sana,” ujar Rusedski.
Rusedski mengingat laga Eala melawan Belinda Bencic, ketika Eala disebut kehabisan tenaga. Namun, ia tetap menilai sikap untuk terus menjaga intensitas kompetisi sebagai kualitas berharga bagi pemain yang tengah membangun karier.
Menurutnya, kecintaan Eala terhadap tenis membantu petenis itu menghadapi tuntutan tur secara konsisten. Daya juang tersebut dinilai dapat menopang perjalanannya setelah memasuki kelompok 20 besar dunia.
Keseimbangan Jadwal Menjelang Turnamen Berikutnya
Rusedski juga melihat agenda Eala pada musim lapangan keras Amerika Utara sudah tersusun seimbang. Urutan Washington, Toronto, dan Cincinnati kemudian diikuti oleh pekan libur bagi Eala.
Ia memperingatkan bahwa bermain terlalu dekat dengan US Open dapat menimbulkan masalah bagi kondisi pemain. Sebaliknya, kekurangan pertandingan juga membuat tubuh tidak cukup siap menghadapi persaingan.
“Jika kurang bertanding, tubuh Anda tidak siap. Jika terlalu banyak bertanding, Anda menyakiti diri sendiri,” ujar Rusedski. Baginya, jeda setelah Cincinnati memberi ruang pemulihan yang dibutuhkan Eala.
Dukungan Akademi Nadal
Rusedski menilai Eala juga berada dalam lingkungan pendukung yang baik, dengan pelatih, agen, dan fisioterapis di sekitarnya. Pengalaman Eala di Akademi Nadal dipandang memperkuat dasar pengambilan keputusan untuk karier jangka panjang.
Eala pernah menjadi pemain junior nomor satu dunia, sementara Rafael Nadal dinilai dapat memberi masukan sebagai mentor. Rusedski menyebut pengalaman Nadal dalam menyeimbangkan frekuensi bermain bersama Toni Nadal sebagai pelajaran yang relevan bagi Eala dan timnya.






