Usia 0-5 Tahun, Pengalaman Baru Dapat Membentuk Cara Anak Belajar

Pengalaman baru pada usia nol sampai lima tahun dapat mendukung perkembangan konektivitas saraf anak. Fase awal kehidupan ini menjadi alasan penting bagi orangtua untuk menyediakan ruang belajar yang beragam, aman, dan sesuai kebutuhan anak.

Dokter spesialis anak dr. Yoga Andika, Sp.A, menyebut periode tersebut sebagai fase emas perkembangan otak. Ia menjelaskan bahwa kegiatan belajar berbasis aktivitas dapat membantu anak mencerna informasi dengan lebih baik.

“Saat dia belajar hal baru, dia akan terbentuk konektivitas-konektivitas, sehingga cara berpikirnya menjadi lebih cepat dan lebih baik,” kata dr. Yoga dalam acara edukatif di Jakarta. Pernyataan itu menekankan pentingnya pengalaman belajar, bukan tuntutan agar anak harus menguasai seluruh bidang sejak dini.

Ragam stimulasi tanpa tekanan

Orangtua dapat mengenalkan bacaan, musik, permainan logika, aktivitas fisik, atau percobaan sains sesuai tahap usia anak. Setiap kegiatan memberi pengalaman yang berbeda dan dapat membantu anak mengenali aktivitas yang membuatnya tertarik untuk bertahan belajar.

Musik instrumen menjadi salah satu contoh kegiatan yang disebut dr. Yoga dalam sejumlah literatur. Aktivitas ini dikaitkan dengan perkembangan otak kanan dan kiri serta pembentukan sinaptogenesis.

Namun, keberagaman stimulasi tidak berarti anak perlu mengikuti semua jenis kelas yang tersedia. Orangtua perlu menjaga waktu istirahat, mengamati respons anak, dan menghentikan tekanan yang membuat proses belajar terasa sebagai beban.

Pendampingan seperti ini sejalan dengan eksplorasi minat anak dalam pola asuh multi-learning. Anak diberi kesempatan mencoba banyak hal tanpa harus langsung diarahkan menjadi ahli pada satu bidang.

Menghubungkan pelajaran dari banyak bidang

Multi-learning mencakup pengenalan bidang yang tampak berbeda, seperti sains, matematika, seni, olahraga, dan teknologi. Nilai utamanya bukan pada banyaknya kegiatan, melainkan kemampuan anak menghubungkan pengetahuan dan pengalaman dari bidang tersebut.

Vera Niki Gozali, Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26, mengatakan eksplorasi beragam minat dapat membantu anak menghadapi masa depan. Ia menilai proses belajar perlu mendorong anak untuk mengoneksikan pelajaran yang telah diperoleh.

Pendekatan tersebut menjadi relevan bagi Generasi Alfa dan Beta yang tumbuh bersama teknologi digital serta perubahan kebutuhan keterampilan. Anak membutuhkan bekal untuk menyesuaikan diri, bukan hanya fokus mengejar pencapaian akademik tertentu.

Orangtua juga dapat menggunakan proses eksplorasi untuk melihat kecenderungan anak secara bertahap. Ketertarikan pada suatu kegiatan tidak perlu segera dianggap sebagai label tetap atas kemampuan atau masa depan anak.

Contoh kebebasan yang didampingi keluarga

Ashton Alexander Fung, yang memiliki IQ 145, dikenal menekuni sains, matematika, golf, berkuda, piano, serta pengembangan agen edukasi kecerdasan buatan. Marlen dan Budi Fung memperkenalkan beragam bidang kepada Ashton sejak kecil tanpa membatasi pilihannya pada satu aktivitas.

Budi Fung mengatakan keluarganya mengenalkan “berbagai macam bidang” kepada anaknya. Pilihan itu memberi Ashton kesempatan berpindah ke kegiatan positif lain, termasuk beralih dari pengodean AI ke piano ketika mulai jenuh.

Lifestyle.kompas.com melaporkan bahwa Vera memandang kemampuan Ashton tumbuh dari eksplorasi berkelanjutan dengan dukungan keluarga. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pola asuh multi-learning dapat berjalan dengan memberi kebebasan, tetapi tetap disertai pendampingan yang konsisten.

Ritme belajar setiap anak dapat berbeda dan tidak perlu dipaksakan seragam. Lingkungan yang fleksibel membantu anak mencoba, beristirahat, lalu kembali belajar ketika siap menghadapi pengalaman baru.

Baca Juga