Untung Akuntansi Rp 15,35 Triliun Tak Menutup Beban Investasi Singapore Airlines di Air India

Singapore Airlines sempat memperoleh keuntungan akuntansi satu kali sebesar S$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 15,35 triliun dari penggabungan Vistara dengan Air India. Namun, keuntungan itu tidak menutup tekanan investasi karena kerugian dari Air India kini diperkirakan mencapai sekitar S$ 1 miliar atau Rp 13,95 triliun.

Kontras tersebut menggambarkan besarnya taruhan Singapore Airlines di pasar penerbangan India. Maskapai asal Singapura itu memegang 25% saham Air India, yang masih menjalani pemulihan panjang di bawah Tata Sons.

Kerugian Singapore Airlines dari Air India selama 12 bulan hingga akhir Maret 2026 mencapai S$ 945 juta atau sekitar Rp 13,19 triliun. Dalam tiga bulan berikutnya, nilainya kembali meningkat S$ 41 juta atau sekitar Rp 572 miliar dibandingkan kuartal sebelumnya.

Singapore Airlines tidak merinci nilai total kerugian setelah kenaikan tersebut. Menurut Beritasatu.com, perkembangan itu menunjukkan persoalan lama Air India, mulai dari organisasi hingga keandalan operasi, belum selesai dibenahi.

Dari Kemitraan Vistara ke Kepemilikan Air India

Hubungan Singapore Airlines dan Tata Sons bermula saat keduanya mendirikan Vistara pada 2013. Ketika Tata menjajaki pembelian Air India dari pemerintah India pada 2021, Singapore Airlines turut memberikan masukan dalam proses privatisasi.

Penggabungan Vistara dan Air India terjadi pada November 2024. Singapore Airlines menyuntikkan modal S$ 822 juta dalam transaksi itu dan memperoleh 25% kepemilikan, sedangkan Tata memegang sisa saham perusahaan.

Lima bulan setelah kesepakatan, Singapore Airlines kembali memberikan suntikan modal S$ 167 juta. Total dana yang ditanamkan menjadi S$ 989 juta atau sekitar Rp 13,80 triliun.

TahapanNilaiKeterangan
Keuntungan akuntansi penggabunganS$ 1,1 miliarSekali pencatatan
Modal saat penggabunganS$ 822 jutaKepemilikan 25%
Suntikan modal lanjutanS$ 167 jutaLima bulan kemudian
Kerugian hingga akhir Maret 2026S$ 945 jutaSelama 12 bulan

Operasi Terdampak Kecelakaan dan Konflik

Pemulihan Air India menghadapi tekanan baru setelah penerbangan Air India 171 jatuh sesaat setelah lepas landas dari Bandara Ahmedabad. Kecelakaan tersebut menewaskan 260 orang, termasuk 241 dari 242 penumpang.

Maskapai kemudian mengurangi jadwal penerbangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap armada Boeing 787. Pemeriksaan sebelum penerbangan juga diperketat, sehingga tekanan terhadap kapasitas dan operasi bertambah.

Air India juga diperkirakan menanggung kerugian sekitar US$ 600 juta atau Rp 10,5 triliun akibat penutupan wilayah udara Pakistan bagi maskapai India. Konflik kedua negara membuat rute penerbangan terdampak ketika maskapai berupaya meningkatkan jaringan layanannya.

Gangguan rantai pasok memperlambat pembaruan armada serta peningkatan kabin. Sementara itu, krisis bahan bakar jet global akibat konflik Timur Tengah menambah beban biaya di tengah pelemahan rupee terhadap dolar AS.

Pelemahan kurs menjadi persoalan penting karena sebagian besar pengeluaran Air India menggunakan dolar AS. Kombinasi gangguan operasi, biaya bahan bakar, dan kebutuhan pembaruan aset membuat pemulihan maskapai menjadi lebih berat.

Pemulihan Dapat Berlangsung Satu Dekade

Ketua Tata Sons, N Chandrasekaran, menyebut rangkaian persoalan yang menghantam Air India sebagai perfect storm. Ia memperkirakan proses transformasi dapat membutuhkan waktu hingga satu dekade.

Tata menunjuk mantan CEO Ethiopian Airlines, Tewolde Gebremariam, sebagai CEO Air India berikutnya. Langkah tersebut diarahkan untuk mempercepat pembenahan maskapai di tengah tekanan yang belum berhenti.

Singapore Airlines tetap melihat kemajuan pada pengalaman pelanggan, pertumbuhan armada dan jaringan, layanan penerbangan, serta kinerja operasional Air India. Akan tetapi, analis DBS Jason Sum menilai investasi ini memiliki risiko dan kebutuhan modal lebih besar dibandingkan beberapa ekspansi internasional Singapore Airlines sebelumnya.

Keberhasilan investasi tersebut pada akhirnya bergantung pada kemampuan Air India menjalankan transformasi lebih cepat dari kenaikan biaya dan gangguan operasional. Bila pemulihan memakan waktu lebih lama, kebutuhan modal serta kerugian berpotensi terus menjadi beban bagi pemegang saham.

Baca Juga