UGM Buka Akses AI Kelas Enterprise, Riset Pertanian dan Bencana Jadi Sasaran

Universitas Gadjah Mada membuka akses komputasi kecerdasan buatan kelas enterprise bagi peneliti dan mahasiswa melalui UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center. Pusat ini menempatkan riset pertanian dan mitigasi bencana sebagai dua bidang penerapan awal yang dekat dengan kebutuhan Indonesia.

Kehadiran fasilitas tersebut memberi lingkungan akademik akses terhadap infrastruktur AI yang sebelumnya membutuhkan kemampuan komputasi besar. Akses itu juga disertai pelatihan, bimbingan teknis, serta peluang kolaborasi dengan sektor industri.

UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center atau NVAITC disebut sebagai pusat kecerdasan buatan berbasis universitas pertama di Indonesia. Inisiatif ini melibatkan UGM, Kementerian Komunikasi dan Digital, Indosat Ooredoo Hutchison, serta NVIDIA.

Pusat tersebut mempertemukan pemerintah, industri teknologi global, akademisi, dan pelaku inovasi dalam satu ekosistem. Tujuannya adalah mempercepat riset AI terapan untuk sektor-sektor prioritas di Indonesia.

Dua proyek untuk kebutuhan nasional

Arah riset awal di NVAITC terlihat dari pengembangan SmartAgri dan Tech4Disaster. Keduanya memakai pendekatan AI untuk menjawab tantangan produktivitas pertanian serta kemampuan menghadapi bencana.

ProyekTeknologiTujuan
SmartAgriMultimodal AI, edge computing, pertanian presisiMeningkatkan produktivitas dan ketahanan pertanian di iklim tropis
Tech4DisasterPlatform AI geospasialMemperkuat prediksi, mitigasi, dan penanganan bencana

SmartAgri akan memanfaatkan multimodal AI, edge computing, dan teknologi pertanian presisi. Pengembangannya diarahkan untuk membantu meningkatkan produktivitas sekaligus ketahanan pertanian dalam kondisi iklim tropis.

Sementara itu, Tech4Disaster dirancang sebagai platform AI geospasial untuk mendukung penanganan bencana. Perannya mencakup penguatan kemampuan prediksi, mitigasi, dan respons terhadap bencana.

Infrastruktur untuk riset dan pembelajaran

NVAITC ditenagai platform AI full-stack dari NVIDIA serta GPU Merdeka milik Indosat. GPU Merdeka merupakan platform sovereign GPU-as-a-Service yang dirancang menyediakan kapabilitas AI secara menyeluruh di lingkungan UGM.

Fasilitas yang tersedia meliputi accelerated computing kelas enterprise, perangkat lunak AI, model terlatih, dan kerangka kerja pengembangan. Perangkat tersebut dapat digunakan untuk aktivitas pembelajaran, penelitian, serta pengembangan inovasi digital.

Model terlatih dan kerangka kerja pengembangan memberi peneliti serta mahasiswa titik awal dalam membangun solusi AI. Dukungan komputasi yang tersedia juga ditujukan agar penggunaan AI tidak berhenti pada pemakaian teknologi semata.

Indosat menempatkan pusat ini sebagai upaya memperluas kesiapan AI di Indonesia. Akses kapabilitasnya disebut terbuka bagi peneliti, mahasiswa, startup, dan inovator dari berbagai daerah.

President Director and Chief Executive Officer Indosat, Vikram Sinha, menyatakan pusat tersebut membawa teknologi serta keahlian AI global ke Indonesia. Ia menekankan pentingnya penguatan talenta lokal dalam pengembangan ekosistem AI.

“Dengan memperkuat kesiapan AI dan memberdayakan talenta lokal, kami berkomitmen untuk mendukung visi pemerintah di bidang AI, serta membantu menempatkan Indonesia tidak hanya sebagai pengguna teknologi AI, melainkan sebagai bangsa yang menciptakan dan menyumbangkan inovasi AI bagi dunia,” kata Vikram Sinha.

Bagi UGM, kolaborasi ini menambah perangkat pendukung bagi kegiatan akademik dan penelitian. Keterlibatan industri, pemerintah, dan mitra teknologi global juga membuka ruang pengembangan inovasi yang dapat dikaitkan dengan kebutuhan sektor nasional.

Pengembangan SmartAgri dan Tech4Disaster menunjukkan bahwa pemanfaatan AI di pusat ini diarahkan pada persoalan konkret. Pertanian dan kebencanaan menjadi dua bidang yang dihubungkan dengan penguatan talenta digital serta riset terapan di kampus.

Baca Juga