Uni Emirat Arab menuding IRGC bertanggung jawab atas penyergapan dua armada milik ADNOC di Selat Hormuz pada Kamis malam. Tuduhan ini meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk ketika jalur pelayaran tersebut sudah menghadapi ancaman berulang terhadap kapal tanker.
Kasus itu mendapat perhatian besar karena Selat Hormuz menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global. Gangguan terhadap armada energi di koridor ini berpotensi melampaui dampak lokal dan memengaruhi perdagangan internasional.
ADNOC Pastikan Situasi Terkendali
ADNOC menyatakan keadaan darurat yang terjadi telah berhasil dikendalikan. WAM melaporkan perusahaan tersebut menyampaikan bahwa “situasi telah berhasil dikendalikan.”
Otoritas UEA mengatakan tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka dalam insiden pencegatan armada komersial itu. Informasi mengenai jenis muatan serta kerusakan fisik yang dialami kapal belum diumumkan.
ADNOC berbasis di Abu Dhabi dan merupakan salah satu produsen energi besar di tingkat global. Perusahaan negara ini menopang ekspor minyak mentah, gas alam, dan produk olahan ke berbagai pasar internasional.
Insiden Berulang dalam Waktu Singkat
Penyergapan terbaru disebut sebagai pengadangan kedua terhadap fasilitas laut milik ADNOC dalam waktu kurang dari sepekan. UEA sebelumnya telah menyampaikan protes atas manuver militer Iran yang disebut menyasar kapal mereka di koridor pelayaran tersebut.
IRGC juga sebelumnya disebut pernah mengancam akan menindak kapal yang terhubung dengan negara musuh atau tidak mematuhi instruksi navigasi Teheran. Ancaman itu memperbesar kekhawatiran terhadap keselamatan kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Sejak perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari, lalu lintas tanker di jalur tersebut dilaporkan beberapa kali menghadapi ancaman. Ketidakpastian keamanan menjadi beban tambahan bagi pelayaran dan pengiriman energi.
Abu Dhabi Soroti Tekanan Ekonomi
Kementerian Luar Negeri UEA menyebut tindakan terhadap armada tersebut sebagai dugaan sabotase maritim yang membahayakan perdagangan internasional. Abu Dhabi menilai aksi itu memperburuk situasi keamanan kawasan Teluk.
Pemerintah Emirat menegaskan pembajakan kapal komersial dan penggunaan Selat Hormuz sebagai sarana tekanan ekonomi tidak dapat diterima. Menurut mereka, tindakan tersebut mengancam stabilitas regional sekaligus keamanan energi global.
Iran belum memberi tanggapan melalui Kementerian Luar Negeri maupun jajaran komando IRGC atas tuduhan tersebut. Tidak adanya respons itu membuat perselisihan diplomatik antara negara-negara di kawasan Teluk semakin mencuat.
Biaya Pengiriman Ikut Tertekan
Gangguan keamanan di Selat Hormuz telah menambah kecemasan pelaku industri pelayaran. Suara.com melaporkan gangguan yang berlangsung konstan turut mendorong kenaikan tarif logistik laut global.
Perkembangan berikutnya akan bergantung pada penjelasan mengenai kondisi dua kapal ADNOC, dugaan pelaku, dan respons resmi dari Iran. Bagi pasar energi, keamanan jalur ini tetap penting karena besarnya volume minyak dan gas yang melintasi kawasan tersebut.






