Susno Duadji menyatakan laporan mengenai Febrie Adriansyah telah muncul sejak sekitar 2005 dan jejaknya disebut telah dipantau dalam waktu lama. Ia mengatakan laporan itu masuk ke sejumlah lembaga penegak hukum, termasuk Polri, KPK, Kejaksaan Agung, Kortastipikor Polri, dan Jamwas.
Pernyataan tersebut disampaikan Susno dalam podcast Akbar Faizal Uncensored yang dikutip Beritasatu.com pada Minggu (26/7/2026). Susno mengaku mempunyai informasi yang disebutnya “A1”, tetapi tidak mengungkapkan asal informasi itu.
Tiga perkara yang disinggung
Dalam pembahasannya, Susno mengaitkan Febrie Adriansyah dengan tiga isu yang menurutnya perlu ditelusuri. Ketiganya mencakup pengadaan batu bara untuk PLN, Krakatau Steel, serta pengelolaan investasi asuransi Asabri.
Susno meminta Kejaksaan Agung bersikap transparan dalam menangani dugaan perkara yang ia sampaikan. Ia menyebut berkas penyidikan berada di kejaksaan dan berharap penelusuran dapat dilakukan kembali.
| Perkara | Sorotan yang Disampaikan |
|---|---|
| Batu Bara untuk PLN | Dugaan perbedaan kualitas dan harga batu bara pasokan. |
| Krakatau Steel | Disebut sebagai perkara yang perlu diperiksa. |
| Asuransi Asabri | Pelelangan saham batu bara serta perbedaan nilai aset. |
Hitungan dalam pengadaan batu bara
Susno mencontohkan batu bara bernilai gar 3.000 yang disebut dipasok untuk kebutuhan minimal gar 4.000. Menurut dia, selisih harga antara kedua kualitas tersebut dapat mencapai sekitar Rp300.000 per ton.
Ia kemudian menggambarkan nilai yang besar jika perbedaan harga terjadi dalam pasokan jutaan ton. Dengan ilustrasi dua juta ton dan selisih Rp200.000 per ton, Susno menyebut nilainya dapat mencapai Rp400 miliar dalam sekali pengadaan.
Menurut Susno, dugaan itu tidak diarahkan kepada pihak tambang yang menjual batu bara. Ia menyoroti pemasok sebagai pihak pembeli yang kemudian menyalurkan komoditas kepada pengguna akhir.
“Nah, dari sini terjadi korupsi permainan uang, di mana gar 3.000 dengan gar 4.000 ada selisih harga yang cukup besar bisa mencapai 300.000. Di sinilah yang dimainkan,” kata Susno dalam kutipan Beritasatu.com.
Nilai saham dan kekhawatiran persidangan
Susno turut membahas Asuransi Asabri dengan menyinggung aset saham batu bara yang disebut pernah dilelang. Ia mempertanyakan perbedaan antara nilai saham yang disebut mencapai Rp10 triliun dan hasil lelang yang menurutnya sekitar 10 persen.
Ia juga mengaitkan sorotannya dengan Krakatau Steel serta perkara Zarob Richard di Mahkamah Agung. Susno menuduh adanya pengurangan jumlah tersangka dan persoalan penilaian barang bukti, tanpa menyertakan dokumen pendukung dalam kutipan pemberitaan.
Susno mengatakan kekhawatirannya tidak hanya berkaitan dengan tahap penyidikan. Ia mempertanyakan kemungkinan persoalan dalam penentuan hakim maupun jaksa apabila perkara yang ia maksud berlanjut ke persidangan.
Seluruh pernyataan tersebut merupakan rangkaian tudingan dari Susno yang disampaikan dalam podcast. Tidak ada dokumen pendukung yang dipaparkan dalam kutipan pemberitaan untuk menjelaskan tudingan-tudingan itu.






