Stok beras yang dikuasai Bulog mencapai 5,2 juta ton hingga 14 Agustus 2026, menjadi salah satu dasar pemerintah membuka peluang ekspor ke Malaysia. Indonesia menyiapkan pengiriman awal 1.000 ton beras premium dengan tujuan Sarawak.
Pemerintah menyatakan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas sebelum pasokan diarahkan ke pasar luar negeri. Kuatnya produksi nasional juga mendorong penambahan kapasitas penyimpanan melalui penyewaan gudang.
Surplus Menjadi Dasar Pembukaan Pasar
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah menyewa gudang karena terdapat surplus sekitar 2 juta ton. Estimasi Badan Pusat Statistik juga menunjukkan produksi beras nasional pada 2026 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan 2025.
“Di mana kita sudah swasembada beras, stok kita 5,2 juta ton sampai dengan hari ini. Bahkan kita sudah sewa gudang, 2 juta ton kita surplus,” kata Amran. Kondisi tersebut membuat pemerintah mulai memperluas peluang penyerapan produksi petani melalui ekspor.
Rencana pengiriman ke Malaysia melanjutkan ekspor beras Indonesia yang sebelumnya pernah dilakukan ke Palestina dan Mesir. Namun, tahap awal ke Malaysia masih dibatasi dalam volume promosi sebesar 1.000 ton.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Stok Bulog | 5,2 juta ton | Hingga 14 Agustus 2026 |
| Surplus yang disebut pemerintah | 2 juta ton | Disertai penyewaan gudang |
| Pengiriman tahap awal | 1.000 ton | Beras premium ke Sarawak |
| Potensi kebutuhan Sarawak | 200.000 ton per tahun | Peluang ekspansi pengiriman |
Sarawak Menawarkan Pasar Besar
Pengiriman awal diarahkan ke Sarawak yang disebut berpotensi membutuhkan sekitar 200.000 ton beras per tahun. Kebutuhan Malaysia secara keseluruhan diperkirakan berada dalam rentang 1,5 juta hingga 1,7 juta ton setiap tahun.
Amran menilai angka kebutuhan Sarawak memberi ruang bagi peningkatan pasokan setelah tahap promosi. Nilai perdagangan diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp3,39 triliun jika pengiriman berkembang hingga 200.000 ton.
“Kalau ekspor ini kalau bisa minggu ini diberangkatkan 1.000 ton secara bertahap karena kebutuhan Sarawak saja 200.000 ton,” ujar Amran. Pembicaraan tentang percepatan dan penambahan pasokan telah dilakukan dengan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia Datuk Seri Mohamad Sabu.
Pihak Malaysia disebut menyambut rencana pasokan dari Indonesia. Harga beras disepakati di kisaran 3,9 ringgit Malaysia atau sekitar Rp17.000 per kilogram.
Jalur Entikong dan Standar Mutu
Pengiriman perdana akan menggunakan jalur darat melalui perbatasan Entikong di Kalimantan Barat. Lokasi tersebut dipilih karena kedekatan geografisnya dengan Sarawak.
Beras yang dikirim adalah beras premium Indonesia yang wajib memenuhi standar kualitas di negara tujuan. General Manager Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd, Jumaat bin Ibrahim, menyatakan 1.000 ton pertama digunakan untuk memperkenalkan produk Indonesia kepada pasar Sarawak dan Malaysia.
“Bukan hanya untuk secara bisnis, tapi ini adalah satu kata orang menyambung silaturahmi,” kata Jumaat. Ia menyebut pengiriman pertama lewat Entikong juga menjadi simbol hubungan yang dekat antara masyarakat kedua negara.
Amran menegaskan ekspor dapat mendukung kesejahteraan petani melalui penyerapan produksi yang lebih luas. Pemerintah turut mengapresiasi peran petani, penyuluh, pemerintah daerah, kementerian, lembaga, BUMN, TNI, Polri, dan masyarakat dalam penguatan pangan nasional.
“Nah justru inilah langkah kesejahteraan petani karena kita ekspor,” tegas Amran. Tahap pengiriman awal akan menjadi penentu bagi pengembangan pasokan beras Indonesia ke pasar Malaysia berikutnya.






