Jangan Langsung Balas Dendam Makan Usai Diet, Ini Risiko Kalori Naik Mendadak

Keinginan makan lebih banyak setelah diet ketat dapat muncul ketika tubuh lama berada dalam kondisi kekurangan energi. Jika asupan langsung kembali seperti sebelum diet, berat badan berpotensi lebih mudah meningkat.

Risikonya bukan hanya kenaikan angka timbangan. Dorongan mengonsumsi makanan yang sebelumnya dibatasi dapat berkembang menjadi kebiasaan makan melampaui kebutuhan tubuh.

Makanan yang Dibatasi Bisa Menjadi Lebih Menggoda

Berakhirnya diet ketat tidak selalu membuat pola makan langsung seimbang. Rasa lapar dan keinginan terhadap jenis makanan tertentu dapat tetap kuat setelah periode defisit kalori.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang terus makan walau rasa lapar mulai reda. Kebiasaan ini berisiko terbentuk ketika makanan digunakan untuk merespons lapar atau keinginan kuat selama masa diet.

Kembali mengonsumsi makanan sebanyak sebelum diet juga belum tentu tepat. Jumlah itu dapat melebihi kebutuhan energi tubuh saat ini, walaupun porsi makan dipantau secara cermat.

GQ Magazine menekankan bahwa makan dan aktivitas perlu disesuaikan dengan rutinitas sehari-hari. Pola dengan aturan terlalu kaku cenderung lebih sulit dijaga dalam jangka panjang.

Strategi Menaikkan Asupan dengan Perlahan

Salah satu pilihan yang dipertimbangkan sebagian orang adalah reverse dieting. Strategi ini menaikkan kalori sedikit demi sedikit setelah seseorang menjalani pembatasan energi.

Penambahan bertahap memberi ruang bagi tubuh untuk beradaptasi ketika asupan makanan mulai meningkat. Liputan6.com yang mengutip Healthline menyebut pendekatan ini juga ditujukan untuk membantu menormalkan hormon terkait nafsu makan dan berat badan, termasuk leptin.

LangkahPenerapanFokus
Menambah energiSekitar 50–100 kalori per mingguPerubahan kecil dan konsisten
Memantau perkembanganMengamati tubuh dan berat badanMenilai respons terhadap asupan
Melanjutkan penyesuaianHingga target atau pola nyaman tercapaiKebiasaan makan yang realistis

Tambahan kalori tidak berarti protein harus selalu ditingkatkan pada setiap tahap. Kebutuhan protein lebih sering disesuaikan dengan berat badan dan tujuan tubuh.

Tambahan energi dapat berasal dari penyesuaian asupan makanan secara keseluruhan. Langkah ini dilakukan sambil memperhatikan perubahan berat badan serta kenyamanan menjalani pola makan baru.

Alasan Tubuh Tidak Langsung Kembali Normal

Diet ketat dalam waktu lama dapat memicu adaptive thermogenesis, yaitu penyesuaian metabolisme saat energi yang masuk berkurang. Respons tersebut merupakan cara tubuh menghadapi periode asupan yang lebih rendah.

Dalam kondisi itu, resting metabolic rate atau RMR dapat menurun. RMR adalah energi yang digunakan tubuh ketika beristirahat.

Penurunan RMR dapat membuat proses penurunan berat badan terasa melambat. Kebutuhan energi untuk mempertahankan berat badan setelah diet pun mungkin tidak sama dengan kebutuhan sebelum pembatasan kalori.

Asupan energi yang kurang juga dapat membuat tubuh mudah lelah. Akibatnya, olahraga, berjalan kaki, berdiri, hingga gerakan alami saat melakukan pekerjaan rumah dapat berkurang.

Padahal, penggunaan energi setiap hari tidak hanya berasal dari olahraga yang dijadwalkan. Ketika asupan menjadi lebih memadai, tubuh dapat memiliki tenaga untuk bergerak lebih aktif dalam keseharian.

Fokus pada Pola yang Dapat Dijaga

Masa setelah diet dapat menjadi kesempatan untuk mengurangi pola pembatasan yang ekstrem. Pendekatan bertahap membantu mengalihkan perhatian dari sekadar mengejar pengurangan kalori menuju kebiasaan yang lebih fleksibel.

Tujuan akhirnya adalah membangun hubungan yang lebih seimbang dengan makanan dan aktivitas. Pola tersebut perlu terasa realistis agar dapat dijalani secara berkelanjutan.

Baca Juga