F5 menyiapkan platform keamanan AI untuk menghadapi penggunaan kecerdasan buatan yang bergerak di luar pengawasan perusahaan. Platform ini dirancang memberi kendali berkelanjutan atas model, AI agent, aplikasi, dan API yang terhubung dalam lingkungan enterprise.
Risikonya tidak hanya berasal dari chatbot yang dipakai karyawan, melainkan juga dari AI agent yang dapat mengakses data, memakai beragam tools, serta bertindak dengan intervensi manusia terbatas. Satu kesalahan konfigurasi dapat berdampak lebih luas ketika agent memiliki wewenang yang melebihi kebutuhan tugasnya.
Perlindungan saat AI sedang berjalan
F5 AI Security Platform memasang guardrail ketika sistem AI beroperasi untuk membatasi tindakan yang berisiko. Menurut F5, kemampuan perlindungan saat berjalan ini dapat memblokir prompt injection, otonomi AI agent berlebihan, dan kebocoran data dengan efektivitas hingga 98,2 persen dalam pengujian independen.
Prompt injection merupakan upaya memanipulasi perintah agar AI menghasilkan respons atau menjalankan tindakan yang tidak semestinya. Ancaman ini menjadi penting karena sistem AI dapat bergerak cepat dan memproses instruksi dalam skala yang tidak sama dengan aplikasi konvensional.
Platform tersebut juga dilengkapi kemampuan observasi AI untuk mencatat setiap interaksi sebagai rekam jejak audit. Catatan ini dapat digunakan organisasi untuk menelusuri aktivitas dan mendukung investigasi ketika terjadi insiden keamanan.
Empat kemampuan dalam satu platform
F5 membagi pengamanan AI ke dalam empat kemampuan yang mencakup pengaturan kebijakan, pemetaan aktivitas, pengujian, dan perlindungan saat sistem berjalan. Pendekatan ini ditujukan agar pengawasan tidak berhenti pada satu titik, melainkan mengikuti AI dari penggunaan hingga tindakan yang dijalankannya.
| Kemampuan | Fungsi Utama |
|---|---|
| AI governance | Menerapkan kebijakan keamanan, privasi, dan regulasi pada prompt, keluaran, penggunaan tools, serta akses data. |
| AI discovery | Memberikan visibilitas atas aplikasi AI, AI agent, serta aktivitas yang disetujui maupun belum diizinkan. |
| AI security testing | Menguji sistem terhadap lebih dari 140.000 pola serangan dalam basis data ancaman AI milik F5. |
| AI runtime protection | Menerapkan guardrail untuk membatasi perilaku AI ketika sistem sedang berjalan. |
Pengaturan kebijakan mencakup prompt, keluaran AI, pemakaian tools, dan akses terhadap data. Sementara itu, pengujian keamanan memanfaatkan lebih dari 140.000 pola serangan dalam basis data ancaman AI milik F5.
Masalah penggunaan AI tanpa pengawasan
Shadow AI merujuk pada penggunaan layanan AI oleh karyawan tanpa persetujuan atau pengawasan organisasi. Kondisi ini membuat tim keamanan kesulitan mengetahui layanan yang dipakai, data yang dibagikan, serta akses yang diperoleh sistem AI tersebut.
Laporan 2026 State of Application Strategy yang dikutip F5 menyebut 88 persen organisasi menghadapi setidaknya satu tantangan operasional atau keamanan terkait AI. Angka itu menunjukkan laju adopsi AI telah melampaui kesiapan pengendalian di banyak organisasi.
Chief Product Officer F5, Kunal Anand, menilai sejumlah solusi keamanan AI masih terlalu berfokus pada lapisan tambahan di chatbot. Menurutnya, kebutuhan enterprise juga mencakup AI yang bekerja di balik API dan jaringan dengan tuntutan regulasi ketat.
“Enterprise menjalankan AI di dalam jaringan yang diawasi ketat oleh regulasi tertentu, di balik API, dan di AI agent yang melakukan autentikasi serta bertindak secara mandiri,” kata Anand. Ia menyatakan F5 AI Security Platform ditujukan untuk memberi kendali berkelanjutan atas model, AI agent, dan API di berbagai lokasi operasional AI.
Pemetaan aktivitas melalui jaringan
Untuk memperkuat pendeteksian, F5 mengakuisisi SurePath AI, pengembang teknologi penemuan AI berbasis jaringan. Teknologi ini memungkinkan organisasi menemukan pemakaian AI di jaringan, termasuk layanan yang digunakan tanpa izin.
Pendekatan SurePath AI menganalisis lalu lintas jaringan tanpa memerlukan integrasi langsung pada setiap aplikasi. Tim keamanan dapat melihat aplikasi AI yang digunakan, tujuan penggunaannya, serta hubungan AI agent dengan layanan atau server yang diakses.
Data pemantauan jaringan kemudian diteruskan ke platform F5 untuk dianalisis dan diuji tingkat risikonya. Perlindungan dapat diterapkan tanpa mengubah arsitektur aplikasi yang sudah berjalan.
F5 menyebut platformnya dapat digunakan di lingkungan on-premises, air-gapped, private cloud, hybrid cloud, dan public cloud. Fleksibilitas ini relevan bagi sektor keuangan serta pemerintahan yang memiliki persyaratan data residency dan kedaulatan data.
Kebutuhan pengawasan diperkirakan meningkat karena laporan SOAS 2026 menyebut 98 persen organisasi tengah bersiap mengadopsi agentic AI. Dalam situasi tersebut, visibilitas terhadap aktivitas AI menjadi bagian penting untuk mencegah penggunaan dan akses data berkembang tanpa kendali.






