Serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah memperlebar konflik yang melibatkan Houthi, Iran, dan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menyatakan Iran akan dimintai pertanggungjawaban bila Houthi kembali menyerang kepentingan Saudi.
Trump juga mengancam akan menjatuhkan “hukuman militer besar” kepada Iran dan Houthi. Peringatan ini menandakan bahwa Washington melihat aksi kelompok Houthi sebagai persoalan yang dapat dikaitkan langsung dengan Teheran.
Ancaman tersebut muncul ketika ketegangan Saudi dan Houthi kembali meningkat di tengah sengketa mengenai blokade maritim. Jalur Laut Merah pun kembali berada di bawah bayang-bayang konflik yang dapat melibatkan lebih banyak pihak.
Dari bandara Sanaa ke blokade laut
Hubungan Houthi dan Arab Saudi menghangat setelah pemerintah Yaman yang didukung Saudi mengebom bandara Sanaa pada 13 Juli. Bandara itu berada di wilayah yang dikuasai Houthi.
Houthi menuduh Saudi berada di balik pengeboman tersebut dan menyampaikan kemarahan atas insiden itu. Kelompok itu mengatakan pesawat Iran membawa pejabat Houthi yang menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pada 20 Juli, Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Saudi dengan prinsip “mata ganti mata”. Kebijakan itu kemudian dipakai sebagai alasan untuk menilai kapal Saudi telah melanggar pembatasan yang mereka tetapkan.
Houthi menuduh Saudi menjalankan pengepungan yang tidak adil dan menindas selama hampir 12 tahun. Mereka juga menuding Saudi menjarah sumber daya serta memblokade pelabuhan dan bandara melalui jalur darat, laut, dan udara.
Riyadh membantah tuduhan telah mengepung rakyat Sanaa. Perbedaan klaim tersebut menunjukkan bahwa konflik di Yaman tetap dibentuk oleh tuduhan yang saling berlawanan dari kedua pihak.
Dua tanker menjadi sasaran
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan kelompoknya menyerang dua kapal tanker minyak Saudi pada Rabu (22/7). Operasi itu disebut dilakukan karena kedua kapal dianggap melanggar blokade maritim Houthi.
| Nama kapal | Status menurut Houthi | Alasan menjadi target |
|---|---|---|
| Encelia | Milik Arab Saudi | Disebut melanggar blokade |
| Layla | Milik Arab Saudi | Disebut melanggar blokade |
“Kami menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi bernama Encelia dan Layla karena pelanggaran mereka terhadap keputusan blokade yang dikeluarkan angkatan bersenjata,” kata Saree. Keterangan itu mengaitkan penyerangan langsung dengan kebijakan blokade yang dikeluarkan kelompoknya.
Trump menetapkan garis tegas
Trump menyampaikan ancamannya melalui unggahan di Truth Social pada Kamis (23/7). Ia mengatakan AS sebelumnya telah menyerang Houthi dengan keras karena gangguan terhadap perdagangan dan penembakan kapal.
Menurut Trump, Houthi sempat bertindak “sangat bertanggung jawab” selama konflik Amerika Serikat dengan Iran. Laporan penembakan terhadap dua kapal Saudi pada malam sebelumnya kemudian memicu peringatan baru dari Washington.
Trump menyatakan Houthi merupakan proksi dan/atau kaki tangan Iran. Karena itu, ia menegaskan AS tidak akan memperlakukan serangan Houthi sebagai tindakan yang sepenuhnya terpisah dari Teheran.
“Biarkan KEBENARAN ini menjadi bukti bahwa jika mereka melakukan ini lagi, AS akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi adalah proksi dan/atau kaki tangan Iran,” tulis Trump. Ia menegaskan ancaman hukuman militer besar akan berlaku bagi Iran dan Houthi jika serangan kembali terjadi.
Menurut CNN Indonesia, Trump secara khusus mengaitkan tindakan Houthi dengan Iran setelah penembakan dua kapal Saudi. Houthi, sebaliknya, mempertahankan alasan blokade sebagai dasar operasi di Laut Merah.
Konflik di perairan tersebut kini tidak hanya menyangkut keamanan kapal Saudi. Peringatan Amerika Serikat membuka kemungkinan respons yang lebih luas apabila terjadi serangan lanjutan terhadap kepentingan Riyadh.






