Bukan Sekadar Respons Tsunami, Sekolah Sukma Bangsa Kini Membentuk Agen Perubahan

Sekolah Sukma Bangsa kini dipandang telah bergerak jauh dari peran awalnya sebagai lembaga pemulihan pascabencana. Prof. Yuji dari Jepang menilai sekolah tersebut telah bertransformasi menjadi inkubator agen perubahan dan perdamaian.

Transformasi itu berlangsung dalam perjalanan 20 tahun setelah SSB lahir di Aceh. Sekolah ini mengusung pendidikan yang membentuk karakter, mendorong kolaborasi, serta membuka wawasan global peserta didik.

Karakter Menjadi Warisan Utama

Dr. Tahir Schad dari Amerika Serikat memandang SSB sebagai ruang perjumpaan keberagaman. Menurutnya, warisan terbesar sebuah sekolah tidak berada pada bangunan, melainkan kualitas manusia yang dihasilkannya.

Sosiolog Universitas Syiah Kuala Prof. Ahmad Humam Hamid mengenang pendirian SSB sebagai ikhtiar membangun kembali peradaban Aceh setelah konflik dan tsunami. Ia menilai kekuatan sekolah terlihat dari kemampuannya membentuk karakter dan integritas generasi muda.

Ketua Yayasan Sukma Lestari Moerdijat menegaskan sekolah itu tidak dibangun hanya sebagai respons atas bencana. Pendidikan, menurutnya, harus menjadi investasi jangka panjang dalam pembangunan peradaban manusia.

“Sekolah Sukma Bangsa dibangun untuk melahirkan warga dunia yang bukan hanya mampu bersaing, tetapi juga mampu bekerja sama dengan manusia dari berbagai belahan dunia,” ujar Lestari. Ia menilai sekolah juga perlu menjadi tempat guru dan pengelola terus belajar menghadapi tantangan global.

Berawal dari Gerakan Kemanusiaan

Sekolah Sukma Bangsa berawal dari program kemanusiaan Indonesia Menangis yang digagas Media Indonesia dan Metro TV. Inisiatif tersebut muncul setelah gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004.

Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Ahmad Baedowi mengatakan perjalanan dua dekade ini memperlihatkan pendidikan yang dibangun dengan ketulusan dapat melampaui batas geografi serta budaya. Kemajuan SSB juga ditopang kolaborasi dengan berbagai mitra internasional.

Refleksi perjalanan sekolah itu dibahas dalam Webinar Internasional yang dipusatkan di Komplek Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Kegiatan yang berlangsung secara hibrida tersebut menghadirkan akademisi dan praktisi pendidikan dari sejumlah negara.

Model Satu Atap di Tiga Daerah

SSB mengoperasikan pendidikan satu atap dari tingkat SD hingga SMA di tiga wilayah Aceh. Jaringan sekolah berada di Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, dan Kota Lhokseumawe.

WilayahJenjang yang TersediaSistem Pendidikan
Kabupaten PidieSD, SMP, SMASatu atap
Kabupaten BireuenSD, SMP, SMASatu atap
Kota LhokseumaweSD, SMP, SMASatu atap

Ketua Panitia Webinar Nadia Sabrina berharap peringatan dua dekade ini dapat memperluas jejaring kolaborasi global. Media Indonesia mencatat, pembelajaran di SSB diarahkan untuk memberi makna bagi masa depan peserta didik.

Pembelajaran Harus Menyentuh Realitas

Dewan Pengawas Yayasan Sukma Samsir Alam menyatakan perubahan pendidikan tidak cukup hanya tertulis dalam kurikulum. Transformasi harus berlangsung di ruang kelas melalui pembelajaran yang terhubung dengan kehidupan peserta didik.

Prof. Komaruddin Hidayat menekankan budaya belajar mesti dimulai dari guru. Ia berharap siswa tetap memahami identitas lokalnya sambil membangun kesiapan sebagai bagian dari masyarakat dunia.

Dr. Baiquni dari UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menambahkan, pendidikan yang kokoh mampu berdialog dengan budaya lokal sekaligus terbuka pada perkembangan dunia. Sementara itu, Profesor Eero Ropo mengingatkan perlunya kesadaran iklim dalam kurikulum agar generasi mendatang tidak menanggung persoalan yang lebih besar.

Baca Juga