Samsung tidak hanya mengandalkan perangkat baru untuk mempertahankan langkah awal di pasar ponsel lipat. Jaringan ritel, perangkat pajangan, layanan purnajual, dan Care+ menjadi modal penting saat Apple dikabarkan menyiapkan iPhone lipat untuk diperkenalkan pada September.
Kecepatan membawa produk ke lebih banyak toko memberi Samsung waktu untuk membangun pengalaman konsumen sebelum rival besarnya memasuki segmen yang selama ini digarap lebih agresif oleh produsen Korea Selatan tersebut. Keunggulan ini menjadi relevan karena hambatan ponsel lipat tidak berhenti pada harga, melainkan juga keyakinan pengguna untuk meninggalkan bentuk ponsel tradisional.
Distribusi Menjadi Keunggulan Awal
Menurut laporan Vietnam.vn, Samsung memiliki jaringan ritel premium yang luas di Asia Tenggara, dari zona pengalaman dan toko khusus hingga gerai pusat perbelanjaan serta toko operator seluler. Kehadiran itu membuat calon pembeli lebih mudah melihat dan mencoba perangkat lipat secara langsung.
Analis senior Omdia Sheng Win Chow menilai Samsung juga berinvestasi lebih besar dalam penataan produk di toko. Perangkat pajangan disebut dapat dikirim ke lebih banyak lokasi dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan sejumlah pesaing.
Wakil Presiden Riset Mobile IDC Kiranjeet Kaur menambahkan bahwa kekuatan Samsung juga datang dari merek yang dipercaya, jangkauan luas, strategi ekosistem, kolaborasi dengan Google, dan perangkat lunak yang dioptimalkan. Layanan purnajual yang luas turut penting bagi pembeli yang masih memandang engsel sebagai titik risiko pada ponsel lipat.
Program Care+ disebut dapat memberikan rasa aman bagi konsumen yang mengkhawatirkan kerusakan engsel. Sementara itu, pangsa pasar merek ponsel lipat asal China di pasar internasional masih relatif kecil.
Tiga Model untuk Segmen Berbeda
Samsung memperkenalkan Galaxy Z Fold8, Z Fold8 Ultra, dan Z Flip8 untuk menjangkau kebutuhan pengguna yang tidak sama. Fold8 ditempatkan sebagai pilihan bagi konsumen yang membutuhkan perangkat produktivitas sekaligus media untuk menikmati konten.
| Model | Posisi Lini | Fokus Utama |
|---|---|---|
| Galaxy Z Fold8 Ultra | Model unggulan | Diproyeksikan menjadi penyumbang pendapatan terbesar |
| Galaxy Z Fold8 | Di antara Ultra dan Flip8 | Produktivitas dan konsumsi multimedia |
| Galaxy Z Flip8 | Model paling terjangkau | Gaya, fesyen, dan aktivitas media sosial |
Susunan harga tersebut juga dirancang untuk membentuk persepsi nilai pada lini baru. Z Fold8 Ultra berada pada tingkat harga lebih tinggi, sedangkan Z Fold8 disebut lebih murah daripada Z Fold7 pada tahun sebelumnya.
Kaur menilai model Ultra yang lebih mahal dapat membuat harga Fold8 standar terlihat lebih menarik di tengah kenaikan biaya komponen. Strategi ini memberi kesan bahwa generasi baru tidak mengalami lonjakan harga secara menyeluruh.
Layar 4:3 dan Persaingan yang Mendekat
Di sisi perangkat, Galaxy Z Fold8 memakai rasio 4:3 untuk layar bagian dalam. Chow menilai format yang lebih persegi ini membantu menjawab sejumlah keterbatasan desain ponsel lipat, termasuk tampilan video berformat 16:9.
Rasio 4:3 dapat mempersempit bilah hitam pada bagian atas dan bawah layar saat video diputar. Format tersebut juga disebut meningkatkan perbandingan layar terhadap bodi perangkat.
Namun, pendekatan layar lebih persegi bukan hal baru karena Huawei, Oppo, dan Honor telah merilis perangkat dengan konsep serupa. Beberapa model dari ketiga merek itu bahkan disebut lebih tipis atau memiliki baterai lebih besar daripada Z Fold8.
Chow menilai peluncuran Fold8 tidak semata-mata menjadi reaksi terhadap Apple, tetapi waktunya tetap menguntungkan bagi posisi Samsung. “Ini adalah langkah positioning yang berguna, terlepas dari apakah itu niat awal Samsung atau tidak,” kata Chow.
Format Fold Kian Mendominasi
Data Omdia memperlihatkan preferensi pengguna Samsung di Vietnam semakin condong ke bentuk Fold. Seri Z Fold menyumbang 59% nilai penjualan ponsel lipat Samsung di negara itu pada 2024 dan naik menjadi 78% pada 2025.
Z Fold7 menyumbang hampir dua pertiga pendapatan ponsel lipat Samsung pada tahun lalu, sementara porsi Z Flip menurun. Counterpoint Research juga mencatat pengguna global lebih menyukai ponsel lipat bergaya buku.
Z Flip8 tetap hadir dengan prosesor baru, kamera 50 MP yang ditingkatkan, dan layar sekunder yang didesain ulang. Meski demikian, Chow memperkirakan penjualannya dapat terus tertekan karena model ini paling sensitif terhadap harga dan biaya memori mengambil porsi besar.
Z Fold8 Ultra diperkirakan tetap menjadi penggerak nilai penjualan Samsung, sedangkan Fold8 standar perlu membuktikan daya tariknya di kisaran US$1.900. Nilai nyata perangkat akan menjadi pertimbangan utama ketika konsumen mulai membandingkannya dengan produk baru Apple.






