Di tengah persaingan produk kesehatan yang semakin ramai, Tolak Angin mempertahankan kepercayaan konsumen melalui pengembangan berbasis riset dan pengujian. Sido Muncul menyatakan proses itu mencakup uji khasiat serta uji toksisitas.
Materi penelitian yang dikutip perusahaan menyebut penggunaan Tolak Angin cair pada dosis yang diuji aman tanpa gangguan pada sejumlah fungsi organ yang diamati. Keterangan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kualitas produk herbalnya.
Pengakuan pada 2025
Pada 2025, Tolak Angin memperoleh Indonesia Original Brand untuk kategori Herbal Supplement. Produk ini juga meraih Solo Best Brand and Innovation Award serta Indonesia Brand Expansion Award.
Rangkaian penghargaan tersebut hadir ketika produk herbal lokal terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen lintas usia. Kemudahan konsumsi menjadi salah satu faktor yang membuat jamu tidak lagi hanya ditempatkan dalam bentuk tradisional.
| Tahun | Penghargaan | Kategori atau keterangan |
|---|---|---|
| 2025 | Indonesia Original Brand | Herbal Supplement |
| 2025 | Solo Best Brand and Innovation Award | Penghargaan merek dan inovasi |
| 2025 | Indonesia Brand Expansion Award | Penghargaan perluasan merek |
Jejak Tolak Angin dimulai dari usaha jamu dan rempah-rempah yang dibuka Rakhmat Sulistio atau Go Djing Nio di Yogyakarta pada 1935. Racikan Tolak Angin kemudian diperkenalkan sebagai godogan lima tahun setelah usaha tersebut berdiri.
Pabrik pertama Sido Muncul berdiri di Semarang pada 1951. Perjalanan itu mengubah produk dari racikan jamu keluarga menjadi herbal yang dikonsumsi berbagai lapisan masyarakat.
Dikonsumsi Lintas Generasi
Direktur Marketing Sido Muncul Maria Reviani Hidayat menyebut penerimaan Tolak Angin menjangkau banyak segmen demografis. “Tolak Angin itu salah satu brand kita yang dikonsumsi oleh lintas generasi, dikonsumsi oleh berbagai segmen demografis,” ujar Maria.
Upaya menjaga kedekatan dengan konsumen muda dilakukan melalui kolaborasi bersama merek, kreator, komunitas, dan acara musik. Tolak Angin antara lain bekerja sama dengan Brodo dan Tahilalats.
Pada 2025, kampanye “Kolaborasi Pintar” menghasilkan sepatu dari kerja sama tersebut. Produk itu menggabungkan kualitas, kearifan lokal, dan ekspresi kreatif sebagai medium komunikasi bagi merek herbal.
Tolak Angin juga hadir dalam Synchronize Fest, Bigu Fest, Semesta Berpesta, Lengger Bicara, dan Scream or Dance. Mini series “Angin Angan” mengangkat Wakatobi, sedangkan kolaborasi dengan Chatime menghadirkan Coco Angin rasa chocolate mint.
Jangkauan Melampaui Indonesia
Produk ini kini beredar di 34 negara, termasuk Malaysia, Filipina, dan Jepang. CNN Indonesia menyebut pasar tersebut mencakup warga Indonesia di luar negeri sekaligus konsumen lokal di beberapa negara.
Meningkatnya mobilitas wisatawan dan penggunaan media sosial ikut mendukung pengenalan produk lokal ke pasar yang lebih luas. Turis asing yang datang ke Indonesia juga kerap mendapat rekomendasi untuk mencoba Tolak Angin.
| Indikator | Periode | Catatan |
|---|---|---|
| Penjualan online | 2020-2025 | Tumbuh hingga 99 persen |
| Penjualan online | 2022-2025 | Tumbuh 73 persen |
| Jangkauan pasar | Saat ini | Beredar di 34 negara |
Kanal digital turut memberi dorongan pada pertumbuhan penjualan Tolak Angin. Penjualan online tumbuh hingga 99 persen pada 2020-2025, sedangkan pertumbuhan pada 2022-2025 mencapai 73 persen.
Perpaduan antara warisan jamu, pengujian produk, dan bentuk komunikasi baru menunjukkan arah pengembangan Tolak Angin. Strategi tersebut membuat produk tradisional tetap hadir dalam aktivitas konsumen modern, di dalam maupun di luar Indonesia.






