Ringgit Jadi Tekanan Terdalam saat Rupiah Mendekati Rp18.000 dan Emas Naik

Tekanan rupiah terhadap ringgit Malaysia menjadi yang paling besar di antara mata uang regional yang dipantau pada perdagangan pagi Rabu, 22 Juli 2026. Rupiah melemah 0,23 persen terhadap ringgit hingga berada di Rp4.371,17 per ringgit.

Pergerakan tersebut terjadi saat rupiah juga mendekati batas psikologis Rp18.000 per dolar AS. Nilai tukar rupiah turun 0,30 persen atau sekitar 54,2 poin ke level Rp17.909,9 per dolar AS.

Tekanan terhadap ringgit menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya berlangsung dalam pasangan rupiah dan dolar AS. Mata uang Indonesia juga mencatat penurunan terhadap yen Jepang, dolar Singapura, serta yuan Tiongkok.

Mata UangPergerakan RupiahLevel
Ringgit MalaysiaMelemah 0,23%Rp4.371,17
Yuan TiongkokMelemah 0,08%Rp2.645,52
Dolar SingapuraMelemah 0,03%Rp13.860,43
Yen JepangMelemah 0,02%Rp109,76
Won Korea SelatanMenguat 0,06%Rp12,09
EuroStagnanRp20.446

Terhadap yuan Tiongkok, rupiah melemah 0,08 persen menjadi Rp2.645,52 per yuan. Rupiah juga turun 0,03 persen terhadap dolar Singapura ke Rp13.860,43 per dolar Singapura.

Nilai tukar rupiah terhadap yen Jepang melemah 0,02 persen hingga Rp109,76 per yen. Sementara terhadap euro, rupiah bergerak stagnan di level Rp20.446 per euro.

Di tengah tekanan tersebut, rupiah hanya menguat terhadap won Korea Selatan. Penguatannya sebesar 0,06 persen membawa kurs rupiah ke Rp12,09 per won.

Emas Menguat di Tengah Sikap Hati-hati Investor

Pasar juga mencatat kenaikan harga emas dunia yang cukup tajam pada perdagangan yang sama. Harga emas naik 1,08 persen atau 43,97 poin menjadi US$4.121,78 per troy ounce.

Kenaikan harga emas menggambarkan meningkatnya perhatian investor pada instrumen yang dipandang lebih aman. Situasi ini berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi keputusan pelaku pasar.

Pencarian aset aman menjadi salah satu konteks penting di balik perhatian terhadap kurs rupiah dan harga emas. Ketika minat terhadap emas meningkat, pasar cenderung lebih waspada terhadap risiko yang dapat memengaruhi aset keuangan.

Dolar AS Tidak Menguat Signifikan

Tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika indeks dolar AS tidak menguat secara signifikan. DXY justru turun tipis 0,02 persen ke posisi 101,015.

Hal ini membuat pelemahan rupiah tidak semata-mata dapat dikaitkan dengan penguatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia. Sentimen domestik dan regional kemudian menjadi bagian dari faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

Data pasar yang dikutip Medcom.id juga menyebut potensi keluarnya arus modal dari pasar keuangan sebagai tekanan yang membayangi rupiah. Kombinasi faktor tersebut menjaga perhatian pasar terhadap arah nilai tukar dalam waktu dekat.

Fokus Beralih ke Kebijakan Bank Sentral

Arah kebijakan suku bunga bank sentral global akan menjadi salah satu penentu pergerakan pasar selanjutnya. Investor juga menantikan data ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Perkembangan itu berpotensi memengaruhi minat terhadap emas, arah arus modal, dan posisi rupiah terhadap mata uang utama maupun regional. Selama ketidakpastian global menjadi pertimbangan, pergerakan kurs dan aset aman akan tetap dicermati.

Baca Juga