MotoGP akan mengurangi level aerodinamika dan menghapus ride height device mulai musim 2027. Perubahan ini diharapkan membuat persaingan lebih kompetitif serta memberi ruang yang lebih besar bagi kemampuan pebalap untuk menjadi pembeda.
Arah regulasi tersebut sejalan dengan kritik Marc Marquez terhadap karakter motor balap modern. Pebalap Ducati Lenovo Team itu menilai pengaruh downforce saat ini terlalu besar dalam menentukan cara motor harus dikendarai.
Marquez menyebut motor MotoGP modern terasa seperti “robot” karena pebalap wajib mengikuti tuntutan aerodinamika. Motor tidak lagi mudah dipaksa mengikuti gaya berkendara individual seperti pada era sebelumnya.
“Anda harus mengikuti apa yang diinginkan aerodinamika dan Anda tidak bisa lagi mengalahkan karakter motor itu,” ujar Marquez dalam wawancara dengan Bike World. Ia menilai upaya melawan batas tersebut dapat membuat catatan waktu justru menjadi lebih lambat.
Teknologi Menambah Kecepatan, Sekaligus Batas
Aerodinamika dan ride height device menjadi unsur penting dalam perkembangan motor MotoGP selama satu dekade terakhir. Kedua perangkat membantu performa motor, tetapi mengubah cara pebalap menyerang tikungan dan mengelola kecepatan.
Downforce yang besar juga menciptakan tantangan saat ban depan mulai kehilangan grip. Marquez menilai tekanan aerodinamika membuat ban depan sulit kembali mendapatkan cengkeraman dalam situasi tersebut.
“Downforce yang kami miliki sekarang memberikan tekanan sangat besar ke ban depan. Ketika ban depan mulai kehilangan grip, ban itu tidak pernah kembali,” kata juara dunia MotoGP tujuh kali itu.
| Periode | Karakter Utama | Konsekuensi di Lintasan |
|---|---|---|
| 2014-2016 | Tanpa aerodinamika modern | Gaya pebalap lebih leluasa menentukan laju motor |
| MotoGP saat ini | Downforce sangat dominan | Pebalap harus menyesuaikan diri dengan karakter motor |
| Mulai 2027 | Aerodinamika dikurangi dan perangkat pengatur ketinggian dihapus | Kemampuan pebalap diharapkan lebih berpengaruh |
Kenangan pada Motor 2014 hingga 2016
Marquez menyebut motor MotoGP dari 2014 sampai 2016 sebagai mesin yang paling ia nikmati. Pada masa itu, aerodinamika belum berperan seperti saat ini sehingga pebalap masih dapat memaksakan motor untuk mencari waktu putaran.
Motor yang lebih bebas bergerak memungkinkan pebalap melakukan sliding saat melewati tikungan. Ketika ban depan mulai kehilangan cengkeraman, peluang untuk menyelamatkan motor juga dinilai lebih besar.
Marquez mengatakan situasi tersebut kerap menghasilkan aksi penyelamatan yang spektakuler. Karakter itu berbeda dengan motor sekarang, yang menuntut pebalap menjaga kondisi motor tetap sesuai dengan kerja aerodinamika.
Ia menegaskan pendapatnya bukan perbandingan antara Honda yang pernah dikendarainya dan Ducati yang digunakan saat ini. Penilaian itu merujuk pada karakter umum MotoGP Modern yang berkembang dengan pengaruh perangkat teknis semakin besar.
Kemampuan Pebalap Diharapkan Kembali Menonjol
Pengurangan aerodinamika pada 2027 menjadi salah satu langkah untuk membatasi dominasi perangkat tersebut. Penghapusan ride height device juga akan mengubah kembali tuntutan teknis yang dihadapi pebalap saat membalap.
Regulasi baru itu diharapkan membuat perbedaan kemampuan pebalap lebih terlihat dalam persaingan. Bagi Marquez, perubahan tersebut dapat membuka kembali ruang untuk mengandalkan insting ketika motor berada di batas performanya.






