Rasa Pahit Memang Dikaitkan dengan Sadisme, tetapi 5 Tanda ASPD Tak Sesederhana Itu

Ada penelitian yang menemukan kaitan statistik antara kenikmatan terhadap rasa pahit dan kecenderungan sadisme sehari-hari. Namun, temuan itu tidak berarti setiap penyuka kopi, bir, atau makanan pahit memiliki kondisi kesehatan mental tertentu.

Kesimpulan tentang gangguan kepribadian antisosial tidak dapat dibuat dari selera makan. Kondisi tersebut dinilai melalui pola perilaku yang lebih luas dan pemeriksaan yang memadai.

Hubungan rasa dan kepribadian yang terbatas

University of Innsbruck di Austria pernah melibatkan 935 orang untuk menilai kesukaan terhadap rasa manis, asam, asin, dan pahit. Peserta juga mengisi empat survei kepribadian yang menilai kecenderungan psikopati, narsisme, agresi, dan sadisme.

Penelitian itu menemukan korelasi positif antara sadisme sehari-hari dan preferensi rasa pahit secara umum. Hubungan statistik tersebut tidak menjelaskan bahwa rasa pahit menyebabkan perilaku sadis atau kejam.

Studi lain oleh Sagioglou dan Greitemeyer juga melaporkan korelasi positif antara kesukaan rasa pahit dan sifat kejam. Artinya, penelitian tersebut menunjukkan keterkaitan, bukan kepastian tentang karakter setiap individu.

Jenis rasaContoh konsumsiTemuan yang disebut
PahitKopi, lobak, bir, air tonic, seledriDikaitkan secara statistik dengan kecenderungan sadisme atau sifat kejam
ManisPermen, cokelatDisebut lebih disukai orang yang ramah dan tidak menyukai rasa pahit

Peneliti juga menyinggung supertasting, yaitu kepekaan lebih tinggi terhadap rasa pahit. Kondisi ini dikaitkan dengan tingkat emosi lebih tinggi pada manusia, dengan temuan serupa yang disebut terlihat pada tikus.

Lima perilaku yang perlu dipahami dalam konteks ASPD

1. Mengabaikan hak dan aturan sosial

Salah satu tanda yang menonjol adalah pengabaian terhadap hak orang lain. Pola ini dapat disertai pelanggaran norma sosial atau aturan hukum di masyarakat.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima menyebut pola pengabaian terhadap hak orang lain pada kondisi tersebut. Riset tahun 2018 yang dikutip CNBC Indonesia menyatakan orang dengan psikopati dapat memahami perspektif orang lain, tetapi kurang terampil menerapkannya sehingga tampak tidak peduli.

2. Kebohongan dan manipulasi

Orang dengan ASPD dapat berbohong, termasuk soal nama atau penggunaan identitas lain. Perilaku ini dapat dilakukan untuk memperoleh keuntungan finansial atau hubungan seksual.

Mereka juga dapat memakai pesona dan pujian sebagai cara memengaruhi orang lain. Pada bentuk tertentu, tindakan manipulatif tersebut dapat melibatkan pelecehan emosional dan pemerasan.

3. Agresivitas atau mudah tersinggung

Agresivitas dan sifat mudah tersinggung dapat muncul dalam pola ASPD. Ciri itu tidak serta-merta berarti setiap orang akan melakukan kekerasan fisik.

Agresi dapat pula muncul dalam bentuk pelecehan verbal. Karena itu, perilaku harus dilihat secara menyeluruh, bukan dari satu tindakan yang berdiri sendiri.

4. Keputusan yang impulsif

Orang yang impulsif dapat bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi tindakannya. Keselamatan diri sendiri atau orang lain bisa tidak menjadi pertimbangan utama ketika mengambil risiko.

Impulsivitas dikaitkan dengan peluang lebih tinggi mengalami gangguan penggunaan narkoba. Perilaku seksual yang impulsif juga disebut meningkatkan risiko infeksi menular seksual.

5. Tidak menunjukkan penyesalan

Seseorang dengan ASPD dapat tidak merasa bersalah setelah berbohong atau melanggar hak orang lain. Kerugian yang timbul dari tindakan itu dapat pula dirasionalisasi.

Kecelakaan, cedera, dan bunuh diri disebut berkaitan dengan angka kematian lebih awal dalam risiko perilaku tersebut. Hal ini menegaskan bahwa penilaian kondisi kesehatan mental tidak dapat disederhanakan menjadi kebiasaan memilih rasa makanan.

Eric Patterson, konselor profesional berlisensi di Pennsylvania, menyoroti banyaknya kesalahpahaman seputar istilah psikopat. Penggunaan kata “psiko” sebagai label negatif dapat mengaburkan pemahaman publik mengenai kesehatan mental.

Rasa pahit dapat menjadi bahan kajian penelitian, tetapi bukan dasar untuk memberi cap kepada seseorang. Pemeriksaan pola perilaku secara luas tetap diperlukan untuk menilai kemungkinan ASPD.

Baca Juga