Dari Suku Cadang Toyota, QR Code Kini Tetap Terbaca Meski Rusak 30 Persen

QR Code yang dipakai untuk pembayaran, tiket, dan membuka menu digital memiliki kemampuan penting yang kerap tidak terlihat pengguna. Kode ini masih dapat berfungsi ketika sebagian polanya rusak hingga sekitar 30 persen.

Ketahanan tersebut menjadi salah satu alasan QR Code melampaui fungsi awalnya sebagai alat pelacakan komponen kendaraan. Kode dua dimensi ini dirancang agar dapat dipindai cepat dari berbagai arah dan menyimpan data jauh lebih besar daripada barcode biasa.

Kapasitas besar dalam pola kecil

QR Code dapat menyimpan angka, huruf A hingga Z, serta karakter non-Latin seperti kanji Jepang. Saat diperkenalkan, kapasitas maksimumnya mencapai 7.089 digit angka, 4.296 karakter alfanumerik, atau sekitar 1.800 karakter kanji.

Jenis DataKapasitas Maksimum
Digit angka7.089 digit
Karakter alfanumerik4.296 karakter
Karakter kanji1.800 karakter

Teknologi ini juga disebut mampu dibaca hingga 10 kali lebih cepat dibandingkan kode lain. Kemampuan itu diperoleh melalui pola posisi pada tiga sudut yang membantu pemindai mengenali arah kode.

Tim pengembang memakai rasio hitam-putih 1:1:3:1:1 untuk pola penanda tersebut. Kombinasi itu dipilih karena paling sedikit muncul pada bahan cetak pada masa pengembangan QR Code.

Berawal dari persoalan produksi Toyota

Sebelum QR Code hadir, industri mengandalkan barcode satu dimensi berupa garis dan spasi dengan lebar berbeda. Barcode memang dapat dibaca mesin dengan cepat, tetapi hanya menampung sekitar 20 karakter alfanumerik.

Keterbatasan itu menjadi persoalan dalam manajemen produksi Toyota ketika Denso melacak pengiriman komponen kendaraan. Bertambahnya data produksi dan transportasi membuat satu produk harus ditempeli banyak barcode.

Dalam beberapa keadaan, satu komponen memerlukan sekitar 10 barcode untuk membawa seluruh informasi yang dibutuhkan. Denso kemudian mencari kode baru yang dapat menghimpun lebih banyak data dalam satu bidang pemindaian.

Pada 1992, insinyur Denso Wave Masahiro Hara mulai mengembangkan alternatif tersebut. Proses pengembangannya berlangsung sekitar satu setengah tahun sebelum QR Code diperkenalkan di Jepang pada 1994.

Papan Go menjadi inspirasi visual

Hara membangun rancangan yang dapat dibaca secara horizontal dan vertikal, tidak seperti barcode konvensional yang dibaca secara horizontal. Pendekatan dua dimensi ini memungkinkan pemindaian dilakukan dari sejumlah arah.

Inspirasi bentuknya muncul dari papan Go yang dimainkan Hara. Batu hitam-putih dalam permainan strategi itu menyerupai pola visual yang kemudian menjadi ciri khas QR Code.

Go juga dikenal sebagai weiqi di China dan baduk di Korea. Dari tampilan sederhana papan permainan tersebut, lahir rancangan kode yang kini digunakan pada beragam layanan digital.

Standar terbuka memperluas pemakaian

QR Code mula-mula digunakan di industri otomotif Jepang, lalu memperoleh pengakuan sebagai standar industri. Pada 1999, Japan Industrial Standards menyetujuinya sebagai kode dua dimensi standar untuk formulir transaksi EDI industri otomotif Jepang.

ISO kemudian menyetujui QR Code sebagai salah satu standar internasional pada 2000. Standardisasi tersebut membuka peluang penggunaan yang lebih luas di berbagai negara dan sektor.

Denso Wave memegang paten QR Code, tetapi pengguna dapat memakai serta memodifikasi teknologinya secara bebas tanpa biaya lisensi. Kebijakan itu turut menjadikan QR Code berkembang sebagai kode publik.

Ponsel membawa QR Code ke ruang publik

Pemakaian QR Code oleh masyarakat Jepang meningkat ketika ponsel dengan kemampuan membacanya mulai dijual pada 2002. Sharp J-SH09 menjadi salah satu perangkat pelopor yang membawa fitur tersebut.

Pemindai bawaan kemudian hadir pada iOS 11 pada 2017 dan Android 8.0. Kehadiran kamera ponsel menjadikan pemindaian kode sebagai kebiasaan yang mudah dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.

Data QR TIGER yang dihimpun tekno.kompas.com mencatat QR Code dipindai 26,95 juta kali sepanjang 2023. Penggunaan terbesar ditujukan untuk membuka URL, diikuti berkas digital dan vCard.

Jenis InformasiPersentase Penggunaan
URL47,68%
Berkas23,71%
vCard13,08%
Tautan di bio3,40%

Di Indonesia, pemanfaatan kode ini untuk pembayaran non-tunai dikenal melalui QRIS. QR Code juga digunakan untuk verifikasi produk, formulir, akses media sosial, dan tiket elektronik.

Baca Juga