Kento Nanami dan Yuji Itadori sama-sama memperlihatkan kemampuan luar biasa saat menggunakan Black Flash, tetapi jalan keduanya sangat berbeda. Nanami menempatkan fenomena itu dalam pertarungan yang disiplin, sementara Yuji menjadikannya pemicu evolusi saat berada di bawah tekanan.
Perbedaan itu kini terlihat jelas pada jumlah rentetan serangan. Nanami pernah mencatatkan empat Black Flash berturut-turut, sedangkan Yuji kemudian melampauinya hingga delapan kali atau lebih.
Presisi Nanami Menyasar Bagian Paling Rentan
Kekuatan Nanami bertumpu pada efisiensi. Ia menggunakan Teknik Rasio 7:3 untuk menciptakan titik lemah pada target, lalu menghantam bagian tersebut dengan serangan yang terukur.
Perpaduan Teknik Rasio dan Black Flash menghasilkan daya rusak yang sangat berbahaya bahkan bagi kutukan tingkat tinggi. Pola tersebut selaras dengan karakter Nanami sebagai penyihir kelas 1 yang berorientasi menyelesaikan tugas secara efektif.
Menurut mediaindonesia.com, rekor empat Black Flash beruntun Nanami terjadi pada Parade Malam Seratus Iblis di Kyoto. Catatan itu menjadikannya salah satu pengguna Black Flash paling andal sebelum perkembangan Yuji menjadi sorotan.
Meski demikian, Nanami tidak menganggap Black Flash sebagai kemampuan yang dapat diandalkan secara mutlak. Ia memandangnya sebagai keberuntungan yang hadir pada momen ketika konsentrasi dan pelaksanaan tekniknya berada pada tingkat terbaik.
Yuji Berkembang Melalui Tekanan Pertarungan
Yuji memiliki pendekatan yang lebih eksplosif. Kemampuan fisiknya yang sudah berada di atas rata-rata membuat dampak serangannya semakin besar ketika Black Flash berhasil dipicu.
Ia juga sering memunculkan fenomena tersebut dalam situasi paling genting. Tekanan hidup dan mati membawanya menuju The Zone, kondisi yang membuat manipulasi energi kutukan terasa lebih alami.
Bimbingan Aoi Todo di Shibuya menjadi tahapan penting bagi perkembangan Yuji. Yuji sebelumnya menghadapi masalah aliran energi kutukan yang tertinggal dari pergerakan fisik, sebagaimana terlihat melalui Divergent Fist.
Setelah ritme serangan dan energinya semakin selaras, Yuji mampu menandingi empat Black Flash beruntun milik Nanami saat melawan Hanami. Perkembangannya berlanjut pada arc Culling Game hingga pertarungan menghadapi Sukuna.
| Aspek | Kento Nanami | Yuji Itadori |
|---|---|---|
| Jumlah beruntun | 4 kali | 8 kali atau lebih |
| Gaya utama | Disiplin dan perhitungan | Insting serta emosi terkendali |
| Kekuatan pendukung | Teknik Rasio 7:3 | Kemampuan fisik di atas rata-rata |
| Dampak utama | Kerusakan pada titik lemah | Tekanan fisik dan perkembangan energi |
Fenomena yang Tidak Bisa Dipanggil Sesuka Hati
Black Flash, yang juga dikenal sebagai Kokusen, terjadi ketika energi kutukan diterapkan 0,000001 detik setelah serangan fisik. Ketepatan ekstrem itu menciptakan distorsi ruang dan meningkatkan kekuatan serangan hingga pangkat 2,5.
Karena membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi, Black Flash lebih tepat dipahami sebagai anomali daripada jurus rutin. Penyihir dapat mengatur serangan fisik dan aliran energi, tetapi kemunculannya tidak bisa dijamin.
Fenomena tersebut memberi penyihir pemahaman yang lebih dalam mengenai energi kutukan. Bagi Nanami, momen itu adalah bonus besar dalam strategi yang sudah rapi, sedangkan bagi Yuji, Black Flash menjadi sarana untuk melampaui batas bertarungnya.
Catatan Nanami tetap menunjukkan nilai disiplin dan penguasaan teknik. Namun, rentetan Yuji memperlihatkan standar baru, ketika Black Flash dapat menjadi kekuatan yang terus menekan lawan di medan pertarungan.






