Segmen smartphone paling murah di Amerika Serikat mengalami tekanan paling berat pada kuartal kedua. Penjualan perangkat dengan harga di bawah US$100 merosot 64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut jauh melampaui kontraksi pasar smartphone AS secara keseluruhan yang hanya mencapai 5% secara tahunan. Data Counterpoint Research menunjukkan konsumen dengan daya beli terbatas menjadi kelompok yang paling terdampak kenaikan biaya perangkat.
Tekanan Terbesar Ada di Ponsel Murah
Pasar perangkat berharga rendah memiliki ruang margin yang sangat terbatas untuk menyerap kenaikan ongkos produksi. Ketika harga komponen naik, produsen sulit mempertahankan banderol murah tanpa mengorbankan keuntungan.
Krisis chip memori disebut ikut mendorong kenaikan harga jual rata-rata atau ASP di berbagai kelas perangkat. Kondisi ini membuat pembelian smartphone baru semakin sulit dijangkau, terutama bagi pengguna yang mengandalkan ponsel prabayar.
Kenaikan harga bahan bakar yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah juga menekan daya beli konsumen. Belanja perangkat baru kemudian menjadi kebutuhan yang lebih mudah ditunda ketika biaya hidup meningkat.
Merek Besar Lebih Tahan di Pasar Prabayar
Di tengah pelemahan segmen murah, Samsung dan Motorola justru menambah pangsa pasar pada kanal prabayar di Amerika Serikat. Galaxy A-series dan Moto G menjadi lini yang menopang posisi kedua merek tersebut di sejumlah operator.
| Merek | Seri Andalan | Perkembangan di Pasar Prabayar |
|---|---|---|
| Samsung | Galaxy A-series | Pangsa pasar meningkat |
| Motorola | Moto G | Pangsa pasar meningkat |
Performa itu memperlihatkan perbedaan kemampuan antara pemain besar dan vendor yang lebih kecil. Merek mapan dinilai lebih siap karena telah memiliki lini produk kuat serta jaringan distribusi yang luas melalui operator.
Secara gabungan, penjualan Apple, Samsung, Motorola, dan Google turun 4% secara tahunan. Namun, pelemahan kelompok empat merek utama itu masih lebih ringan dibandingkan vendor lain yang menjual perangkat di pasar AS.
Vendor ODM Menghadapi Risiko Lebih Besar
Merek di luar Apple, Samsung, Motorola, dan Google dilaporkan mencatat penurunan penjualan hingga 45% dibandingkan kuartal kedua 2025. Tekanan besar juga dirasakan perangkat ODM yang lazim dipasarkan oleh operator seluler.
ODM merupakan perangkat yang dirancang dan diproduksi untuk kemudian dijual oleh pihak lain, termasuk operator. Model ini rentan saat biaya produksi naik karena ruang penyesuaian harga dan margin cenderung lebih sempit.
Laporan Counterpoint Research yang dikutip GSMArena memperkirakan ASP smartphone masih akan meningkat pada kuartal ketiga. Tren tersebut berpotensi membuat pengiriman smartphone di AS tetap berada dalam tekanan.
Harga Baru Berpotensi Memperlebar Jarak
Google disebut menaikkan harga awal Pixel 11 sebesar US$100. Apple juga diperkirakan bergerak ke arah serupa melalui iPhone 18 Pro.
Jika perangkat baru di kelas atas maupun menengah terus menjadi lebih mahal, pasar ponsel murah dapat menghadapi tekanan lanjutan. Kondisi itu sekaligus memperbesar tantangan bagi produsen kecil yang mengandalkan konsumen prabayar.






